Mar 142018
 

PROF. DR. WILSON: KEPEMIMPINAN PRESIDEN SOEHARTO BELUM BANYAK DIKETAHUI

 

 

Jakarta, Merdeka

Prof. Dr. Donald. W. Wilson, rektor Universitas Pittsburg, AS, mengatakan bahwa masih banyak orang asing yang belum dapat memahami dan memberikan penilaian obyektif terhadap keadaan, Indonesia dalam era kepemimpinan Orde Baru.

“Masih banyak di antara bangsa asing yang belum dapat, mengetahui dan mempelajari secara benar tentang kepemimpinan Presiden Soeharto di dalam era pembangunan di bidang ekonomi, sosial budaya dan politik, apalagi membandingkannya dengan keadaan 20 tahun silam, atau pada masa-masa sebelum kemerdekaan,” katanya di Jakarta, Rabu.

Berbicara di depan para ahli, dan ilmuwan Lemhanas, antara lain Dr. Anwar Nasution, Lie Tek Tjeng, Brigjen Soemarno oleh keberhasilan Presiden Soeharto dalam menciptakan stabilitas nasional melalui pembangunan di segala bidang harus dapat diketahui dan dipahami oleh banga lain.

Prof. Wilson, yang menulis buku “The Long Journey From Turmoil To Self Sufficiency” (Perjalanan Panjang Dari Pergolakan ke Swasembada), sangat terkesan dengan kepemimpinan Soeharto dan Kemakmuran yang telah dicapai bangsa Indonesia dewasa ini.

Presiden Soeharto, dalam buku Wilson, dinilai berhasil dalam membawa bangsa Indonesia dari masa-masa sulit dan kekacauan ke masa -masa keberhasilan ekonomi dan swasembada sekarang. “Presiden Soeharto bukan orang yang mudah tergoda dengan kekuasaan seperti yang dikira banyak orang. Sebaliknya dia justeru mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menjamin langgengnya kejayaan revolusi, mengabdi pada rakyat dan keberhasilan bangsa,” kata Wilson yang beberapa kali mewawancarai Presiden Soeharto.

Dalam bukunya, Wilson membahas secara mendalam tentang kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia, pada periode 1965-1987, sehingga orang yang membacanya khususnya orang asing, yang belum atau hanya sedikit tentang Indonesia menjadi jelas.

Sementara itu, Dr. Anwar Nasution dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada kesempatan itu mempertanyakan mengapa buku Wilson tidak membahas secara rinci berbagai keberhasilan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Anwar mengaku kecewa karena banyak “achievement” yang dicapai Soeharto tidak dijelaskan secara rinci oleh Wilson seperti bagaimana Pak Harto menghadapi “presure group” bagaimana mengurangi beban orang miskin dan bagaimana mengelola pinjaman dan utang luar negeri.

“Bila buku ini ditulis untuk melakukan ofensif informasi keluar negeri tidak akan bermanfaat banyak karena hanya menggambarkan ‘pohon ‘ Indonesia bukan ‘hutan’ Indonesia yang sebenamya,” kata Anwar Nasution.

Prof. Wilson mengakui bahwa dalam bukunya itu masih banyak hal-hal yang belum tercakup karena dia bermaksud menulis buku seri kedua sebagai lanjutan buku “Long Journey From Turmoil To Self Sufficiency”.

 

Menyenangkan

Ahli-ahli Lemhanas lainnya juga berpendapat buku yang ditulis Wilson itu perlu dilengkapi dengan bahan bahan baru sehingga dalam buku II nanti pembahasannya lebih rinci tentang ekonomi kebudayaan sosial dan politik.

“lsi buku yang baru diterbitkan lebih banyak yang menyenangkan,” tambah Brigjen (Purn) Soemamo.

Dikatakan karena buku tersebut diakui oleh penulisnya belum membahas ekonomi kebudayaan, sosial dan politik Indonesia secara rinci maka diperlukan masukan-masukan untuk penyempurnaan buku II yang direncanakan akan diterbitkan.

“Yang benar adalah bahwa kemerdekaan Indonesia basil peijuangan bangsa,” ujar Soenardi.

Donald Wilson tidak membantah pendapat yang dilontarkan ahli Lemhanas itu tapi dia hanya berkata “Mungkin dalam menginterprestasikan kata-kata kita berbeda.”

Pembicara lainnya yang memberikan masukan tentang perkembangan Indonesia terutama selama periode kepemimpinan Presiden Soeharto sejak 1965 sampai sekarang antara lain DR. Lie Tek Tjeng, Brigjen (purn) Sudibyo dan Iwan Istambul.

Menurut rencana, Wilson akan mengadakan ceramahnya serupa Minggu ini di Bandung dan mendiskusikan isi bukunya. Dia akan didampingi RM Moechtar sebagai sahabat dan sebagai penerbit.

Menurut RM Moechtar, buku Wilson sengaja di terbitkan saat perayaan ulang tahun Soeharto ke-69 yaitu tanggal 8 Juni 1990. Tapi secara resmi, Wilson dan penerbit buku baru dapat diterima Presiden Soeharto esok harinya di kediaman Jalan Cendana, Jakarta.

Dalam Pertemuan itu, Presiden Soeharto meminta kepada penerbit supaya segera diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Penerbit menyanggupinya dan diharapkan menjelang perayaan 17 Agustus 1990, buku tulisan Wilson sudah dapat dibaca dalam bahasa Indonesia.

 

 

Sumber : MERDEKA (14/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 515-517.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: