Prof. Donald W. Wilson: SAYA TIDAK MEMBUAT BUKU UNTUK PROMOSI

Prof. Donald W. Wilson: SAYA TIDAK MEMBUAT BUKU UNTUK PROMOSI

 

 

Jakarta, Kompas

Buku “The Long Journey From Turmoil To Self Suffiency” (LJFTS) karangan Prof. Dr. Donald W. Wilson, Rektor Universitas Pittsburg, AS, ditulis secara populer untuk pembaca awam yang memahami bahasa Inggris. Tetapi karena kurang bersifat analitis, apologetik, dan kurang akurat, maka dikhawatirkan pesan yang akan disampaikan dalam buku ini menjadi kurang jelas atau bahkan menjadi bias.

Demikian sumbangan pikiran yang disampaikan Dr. Anwar Nasution, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebagai salah seorang penanggap utama pada ceramah dan diskusi di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, hari Rabu (13/6), untuk mempertajam topik ekonomi yang dibahas dalam buku tersebut.

Prof. Wilson mengakui apa yang dikemukakan Anwar Nasution memang benar. Sebab itu, ia meminta bantuan ahli moneter itu untuk membantunya dalam penyusunan bukunya yang kedua. Buku jilid dua, menurut Wilson, akan membahas mengenai masa depan Indonesia dalam hubungan dengan isu stabilitas dan pembangunan ekonomi Indonesia.

Namun, ia menegaskan, “Saya tidak membuat buku ini untuk promosi, karena saya sudah memperoleh gelar profesor saya sejak lama.” Wilson yang pemah tinggal di Indonesia antara tahun 1949-1955 juga mengungkapkan LJFTS ini bukan dimaksudkan sebagai suatu buku ilmiah untuk promosi gelar, tapi merupakan buku untuk masyarakat luas pada umumnya yang ditulis dengan gaya jurnalistik. Ditambahkan, buku itu ditulis berdasarkan wawancaranya dengan Presiden Soeharto, dan tidak ada orang yang menugaskannya untuk menulis buku LJFTS.

 

Emosi

Anwar Nasution mengatakan, dalam membahas program deregulasi ekonomi maupun dalam menangkis artikel Steven Jones dan Raphael Pura yang dimuat dalam Harian The Asian Wall Street Journal tanggal 24 November 1936, penulis yang berusia 42 tahun ini menggunakan emosi, bukan analisis.

Karena kurangnya analisis ini, maka buku ini tidak mampu untuk memperkaya khasanah pemahaman pembaca akan masalah yang tengah dihadapi oleh pembangunan Indonesia selama masa pemerintahan Soeharto, misalnya bagaimana caranya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dan apa saja hasil-hasilnya.

Cara yang emosional tanpa analisis yang masuk akal, menurut Anwar Nasution, dikhawatirkan akan sangat mengurangi nilai buku tersebut sebagai alat ofensifkomunikasi di luar negeri. Dikemukakan, walaupun Donald Wilson semasa muda pemah tinggal di Indonesia selama lima tahun, namun tampaknya ia masih perlu waktu untuk memahami mekanisme kerja lembaga sosial di Indonesia.

Untuk mempertajam analisisnya, Dr. Anwar Nasution mengusulkan agar penulis membaca berbagai literatur yang sudah banyak beredar mengenai kemajuan dalam berbagai sektor ekonomi diIndonesia selama Orde Baru. Kekurang pahaman penulis akan prinsip, kelembagaan dan mekanisme kerja ekonomi Indonesia, tercermin dari tiga contoh yang diajukan Anwar Nasution.

Pertama, asas kekeluargaan dalam sistem ekonomi nasional diterjemahkannya sebagai the family spirit, seperti pada halaman 120. Karena, menurut ahli aritropologi dan sosiologi terjemahan yang tepat adalah the shared family ethos. Kedua, konsep “anggaran berimbang” Indonesia pun kurang dipahaminya (halaman 127). Anggaran berimbang di Indonesia masih mengandung defisit, dan defisit itu dibelanjai oleh pinjaman dan bantuan luar negeri.

Serta ketiga, mengenai sukses swasembada pangan. Dalam buku LJFTS ditulis peningkatan produksi pangan dapat dicapai karena terutama dari peningkatan pengeluaran investasi pemerintah (halaman 115). “Ini tanpa penjelasan investasi di bidang apa saja,” ujar Anwar Nasution. Karena, walaupun dibahas di sana sini, buku ini tidak menggambarkan dengan jelas sifat investasi pemerintah selama masa Orde Baru.

Menurut Anwar Nasution, ini disebabkan pembangunan nasional Indonesia merupakan pembangunan manusia seutuhnya. Maka, investasi pemerintah terdiri dari dua jenis, yaitu investasi dalam arti akumulasi barang modal maupun investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

 

 

Sumber : KOMPAS (14/06/1990)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XII (1990), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 520-523.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.