Sep 132017
 

PRESIDEN TTG MORDENISASI PABRIK BESI SPONS

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto menyetujui dilakukannya modernisasi pabrik besi spons di Krakatau Steel demi kelangsungan dan peningkatan kapasitas pabrik tersebut, kata Dirut PT Krakatau Steel Ir T. Aribowo kepada wartawan setelah melapor Presiden Soeharto di Bina Graha, Kamis.

Ia mengatakan, pabrik besi spons di Krakatau Steel merupakan industri paling hulu sehingga penanganannya harus baik. Aribowo menjelaskan, pabrik besi spons itu dibangun 1978 dan teknologinya sudah ketinggalan zaman sehingga perlu dimodernisasi.

Pabrik yang mempunyai empat modul itu akan dimodernisasi modul demi modul. Persiapan-persiapan ke arah itu kini sudah dilakukan.

Presiden menegaskan agar biaya untuk melakukan modernisasi pabrik besi spons ini ditanggung perusahaan sendiri. Berapa besar biaya yang diperlukan, Aribowo belurn bersedia menjelaskan karena hal ini masih akan ditender dulu.

Ia mengatakan, dengan modernisasi kapasitas produksi pabrik besi spons akan meningkat 35 persen. Dalam waktu dua sampai tiga tahun dapat menghasilkan sekitar dua juta ton.

Sedangkan untuk produk pabrik baja Cilegon itu pada kuartal pertarna tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu, produk primer, yakni besi spons pada kuartal pertama tahun ini mencapai 307.161 ton, naik 0,1 persen dibanding produk periode sama tahun lalu yang mencapai 306.803 ton. Sedangkan produk baja mencapai 290.200 ton, naik 20,4 persen dibanding tahun lalu yang berjurnlah 249.992 ton.

Produk rolling baja batangan dikatakan, mencapai 50.089 ton atau turun 41,3 persen dibanding periode sama tahun lalu yang tercatat 85.381 ton. Produk baja lembaran triwulan pertama tahun ini 183.189 ton atau naik 42,5 persen dari tahun lalu yang berjumlah 128.485 ton.

Mengenai penggunaan kapasitas pabrik ia mengatakan, untuk pabrik besi spons triwulan pertarna 1987 mencapai 81,9 persen dan periode sama tahun lalu 81,8 persen. Untuk pabrik-pabrik baja penggunaaan kapasitasnya triwulan ini  77,4 persen sedangkan tahun lalu 64,3 persen pada periode sama.

Penggunaan kapasitas pabrik baja batangan 48,5 persen atau turun 41,3 persen dibanding tahun lalu periode sama yang mencapai 82,7 persen. Sedangkan untuk pabrik baja lembaran mencapai 73,2 persen atau naik 42,4 persen dibanding tahun lalu.

Mengenai penjualan Aribowo mengatakan, besi spons menurun 64,9 persen dari 54.090 ton pada triwulan pertama tahun 1986 menjadi 18.970 ton. Untuk slab naik 38,9 persen dari 5.234 ton menjadi 7.274 ton pada kuartal pertama tahun ini. Untuk billet naik 35,5 persen dari 13.900 ton menjadi 18.599 ton tahun ini.

Untuk produksi baja batangan turun 30,9 persen dari 91.722 ton menjadi 63.350 ton. Sedangkan untuk baja lembaran naik 9,6 persen dari 142.858 ton menjadi 156.671 ton pada triwulan pertama tahun ini.

Mengenai ekspor mencapai nilai 21,65 juta dolar AS pada triwulan pertarna tahun ini atau naik 38,8 persen dibanding tahun lalu periode sama yang bernilai 15,58 juta dolar AS.

Untuk impor tercatat turun 69,3 persen dari 78.606 ton menjadi 24.108 ton pada triwulan pertarna tahun ini. Sedangkan nilai impomya turun 42,2 persen dari 19,33 juta dolar AS menjadi 11,1 juta dolar AS.

Hasil penjualan naik 29,9 persen dari Rp 90,3 miliar triwulan I tahun 1986 menjadi Rp 117,3 miliar. (LS)

 

 

Sumber: ANTARA (21/05/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 455-456.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: