Sep 022017
 

PRESIDEN TTG MINAT BIDANG AGROBISNIS SWASTA

 

 

Presiden Soeharto mengatakan minat swasta untuk berusaha di bidang agrobisnis hendaknya didukung dengan cara mempermudah prosedur perizinan dan sebagainya, supaya pihak perbankan segera dapat mengkaji proyek yang diusulkan bagi pemberian kredit.

“Agrobisnis termasuk perkebunan inti rakyat (PIR) swasta merupakan salah satu pelaksanaan konsep pemerataan, di mana pihak yang kuat membantu yang lemah”, demikian petunjuk Presiden kepada Menmuda Urusan Peningkatan Produksi Tanaman Keras, Ir. Hasjrul Harahap, hari Kamis di Bina Graha Kepada pemerintah daerah, Presiden minta agar mendukung program agrobisnis oleh swasta karena manfaatnya akan lebih banyak dirasakan daerah sendiri.

Hasjrul mengungkapkan sampai sekarang minat swasta untuk terjun dalam usaha perkebunan melalui pola PIR swasta betjumlah 116 perusahaan, yang meliputi pengembangan berbagai mata dagangan perkebunan seluas 843.587 hektar.

Sementara itu PIR yang dikaitkan dengan program transmigrasi menunjukkan perkembangan cukup pesat. Kini jumlah perusahaan yang akan melakukan PIR Trans itu bertambah dari 44 menjadi 49 buah. Di antaranya 11 perusahaan telah selesai melakukan studi kelayakan, bahkan tujuh buah sedang diteliti pemerintah.

Perkebunan pola PIR oleh badan usaha milik negara (PTP/PNP) sampai tahun 1986 meliputi areal 410.137 ha atau 60 persen dari sasaran.

Dari jumlah itu penempatan petani peserta PIR (yang menggarap kebun plasma) baru 28 persen dibanding sasaran 218.000 k.k. Sebagian besar PIR itu menanam kelapa sawit, sedang jenis tanaman lain adalah kelapa, karet, teh, tebu dan kapas.

Produksi minyak sawit Indonesia sekarang antara 1,3 juta sampai 1,4 juta ton CPO setahun, menjadikan Indonesia berada di urutan kedua setelah Malaysia sebagai penghasil minyak sawit terbesar di dunia.

Menmuda Hasjrul Harahap juga melapor kepada Presiden mengenai perkembangan tebu rakyat intensifikasi (TRI) setelah pemerintah melakukan berbagai usaha untuk memajukan program tersebut.

Produksi tebu TRI dalam tahun 1986 meningkat menjadi rata-rata 87,7 ton per hektar, dibanding tahun 1983 yang hanya 70,8 ton/ha. Produksi hablur dalam 1986 menjadi 7,5 ton/ha atau naik dibanding elengan produksi 1983 yang mencatat hanya 5,5 ton/ha.

Rendemennya pun meningkat menjadi 8,54 persen dalam tahun 1986 dibanding 7,7 persen dalam 1983. Produksi gula nasional (baik dari TRI maupun bukan TRI) dalam tahun 1986 telah melampaui dua juta ton, berarti naik pesat dibanding 1,65 juta ton pada tahun 1983.

“Dibanding dengan jumlah konsumsi di dalam negeri sebenarnya kita sudah bisa disebut swasembada gula. Namun belum lestari karena kita masih perlu tambahan untuk mengamankan cadangan strategis”, katanya.

Presiden kepada Menmuda Hasjrul Harahap juga menyatakan kesediaannya memberikan satu juta bibit kelapa hibrida kepada setengah juta pasangan usia subur peserta KB tahun ini, meskipun tidak lagi seluruhnya berbentuk bantuan Presiden (Banpres).

Presiden juga menjanjikan bantuan alat pengupas biji kopi (hammermill) kepada kelompok-kelompok petani kopi di Sumatera Selatan dan Bengkulu masing-masing 300 dan 200 unit. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (29/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 381-382.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: