Feb 222018
 

PRESIDEN TERIMA UN POPULATION AWARD ’89 NEGARA MAJU DIHIMBAU IKUT PECAHKAN MASALAH KEPENDUDUKAN

 

 

New York, Angkatan Bersenjata

Nama bangsa dan negara Indonesia menjadi semerbak ke seluruh penjuru dunia ketika salah seorang putra terbaiknya yang kini mernimpin negeri itu. Presiden Soeharto hari Kamis menerima, penghargaan tertinggi PBB bidang kependudukan “The UN Population Award”, 1989di Markas Besar PBB, New York, AS.

Tepuk tangan para delegasi berbagai negara anggota PBB yang memenuhi ruang sidang utama Markas Besar PBB New York, terdengar menggemuruh panjang saat penghargaan tersebut diserahkan kepada Presiden Soeharto oleh Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar tepat pukul 17 .40 waktu setempat atau sekitar pukul 04.40 WIB hari Jumat.

Rasa bangga tidak pelak terbesit di wajah para pejabat dan masyarakat Indonesia yang kebetulan bisa memperoleh kesempatan menyaksikan langsung detik-detik bersejarah bagi Presiden Soeharto dan seluruh Bangsa Indonesia tersebut, demikian wartawan Antara, Heru Purwanto melaporkan dari New York.

Dengan penyerahan penghargaan itu, maka Presiden Soeharto tercatat sebagai salah seorang di antara tiga pemimpin negara yang menerima penghargaan tersebut untuk kategori perorangan, atas jasa-jasanya yang besar dalam memajukan program KB, khususnya di Indonesia.

Dua negarawan lainnya yang pernah menerima UN Population Award adalah Perdana Menteri India Ny.lndira Gandhi Alm. pada tahun 1983 dan Presiden Bangladesh Hussain Muhammad Ershad tahun 1987.

Kendati demikian, Presiden Soeharto dalam pidatonya pacta upacara itu dengan rendah hati menyatak:an, apa yang dilakukannya di bidang kependudukan selama ini tindakkan ada artinya tanpa partisipasi penduduk Indonesia sendiri.

“Karena itu izinkan saya, Yang Mulia Sekretaris Jenderal, menggunakan kesempatan berbahagia petang ini untuk menyampaikan rasa hormat saya yang sangat dalam dan penghargaan saya setinggi-tingginya kepada semua lapisan, golongan dan generasi bangsa saya, yang berdiam ribuan mil jauhnya dari tempat upacara ini”, katanya.

“Izinkan saya juga menyampaikan ucapan selama setinggi-tingginya kepada mereka semua, karena saat ini, Presiden mereka, atas nama mereka, menerima anugerah penghargaan yang mereka nilai sangat tinggi ini”,ucapnya dengan nada haru.

Menurut Kepala Negara, yang dalam upacara itu mengenakan peci dan jas berwarna gelap dengan kemeja putih berdasi kotak-kotak kecil hitam putih, anugerah kehormatan yang diterimanya itu sesungguhnya tertuju kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk para ulama, tenaga penyuluh, tenaga kesehatan yang memberi pelayanan, dan pemuka masyarakat, pimpinan organisasi wanita dan pemuda.

 

Hadiah Ulang Tahun

Bagi Presiden Soeharto sendiri, penyerahan penghargaan tertinggi PBB bidang kependudukan itu tentu punya arti tersendiri karena berlangsung tepat pada hari ulang tahun nya yang ke-68.

Selain beberapa pejabat Indonesia, upacara penyerahan penghargaan itu disaksikan pula oleh lbu Tien Soeharto serta tiga putra Presiden.

Para pejabat tinggi pemerintah RI yang menyaksikan jalannya upacara tersebut antara lain Menlu Ali Alatas, Mensesneg Moerdiono, Wakil Tetap RI untuk PBB, Nana Sutresna dan Dubes Rl untuk AS, AR. Ramly, serta Kepala BKKBN Psat Haryono Suyono, di samping sejumlah staf PTRI New York dan KBRI Washington.

 

Togo

UN Population Award diberikan setiap tahun oleh PBB sejak 1983 kepada satu atau lebih perorangan dan lembaga yang dipilih Komite UN Population Award yang beranggotakan 10 wakil negara anggota PBB.

Oleh karena itu, upacara penyerahan penghargaan kepada Presiden Soeharto tersebut ditandai pula dengan penyerahan UN Population Award 1989 untuk lembaga penerima UN Population Award 1989 untuk lembaga adalah Badan Nasional Kependudukan Togo, sebuah negara di kawasan Afrika Barat.

Penerimaan hadiah itu diwakili oleh Menteri Kesehatan Masyarakat Togo, M. Aissah Agbetra, yang selama berlangsungnya upacara diberikan ternpat duduk di sebelah kursi Presiden Soeharto, berjejer pula dengan Sekjen PBB, Ketua Komite UN Population Award, Mario Moya Palencia, dan Sekretaris Komite UN Population Award, Dr. Nafis Sidik.

Baik Presiden Soeharto maupun Menteri Aissah Agbetra, kecuali mendapat piagam penghargaan juga masing-masing menerima medali emas dan hadiah uang 12.500 dolar AS. Sekjen PBB dalam sambutannya menjelaskan bahwa Presiden Soeharto dipilih untuk menerima UN Population Award 1989karena ia dinilai punya komitmen kuat pada pelaksanaan program KB di Indonesia, dan komitmen tersebut kini sudah menunjukkan hasilnya.

Sementara itu, Ketua Komite UN Population Award, Mario Moya Palencia, dalam pidatonya melaporkan bahwa Presiden Soeharto dan Badan Nasional Kependudukan Togo terpilih menjadi penerima penghargaan tahun ini setelah melalui seleksi ketat.

Menurut dia, ada 24 calon yang masuk norninasi untuk dipilih menjadi penerima UN Population Award 1989. Presiden Soeharto dinilai telah menunjukkan komitmennya yang kuat untuk menggalakkan program KB di Indonesia sejak ia menandatangani Deklarasi Para Pemimpin Dunia Tentang Kependudukan tahun 1967 bersama 26 kepala negara lain.

 

Strategi Mendatang

Presiden Soeharto sendiri dalam pidatonya menjelaskan bahwa salah satu kunci penting keberhasilan program KB di Indonesia selama ini adalah adanya komitmen politik. Dengan maksud membagi pengalaman, Kepala Negara menambahkan bahwa program KB di Indonesia dikembangkan dengan strategi dasar untuk melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).

Dalam strategi tersebut, program KB dijadikan sebagai bagian usaha pembaruan bangsa, memerangi kemiskinan , keterbelakangan dan ketidakperdulian.

Hal itu tercermin pada penggunaan kontrasepsi oleh Pasangan Usia Subur (PUS) yang meningkat drastis semenjak 1970 hingga sekarang, yaitu dari hampir nol persen hingga 40 persen.

Program KB yang semula memerlukan kampanye persuasi yang tekun,yang boleh dikatakan berlangsung dari pintu ke pintu, kini telah mulai menjelma menjadi gerakan KB mandiri. Dengan begitu, KB bukan semata-mata dianggap sebagai masalah kuantitatif demografis serta masalah klinis kontrasepsi, melainkan menyangkut usaha untuk mengadakan perombakan tata nilai dan norma.

Dijelaskannya, pembangunan tahap baru di Indonesia untuk jangka panjang 25 tahun kedua mulai 1994, akan menggunakan pendekatan kualitatif di bidang kependudukan.

Sehubungan dengan itu ia mengusulkan agar masyarakat dunia juga harus mulai mengarahkan perhatian pada masalah tersebut. Menurut Kepala Negara, bantuan negara maju dan badan internasional akan lebih membawakan hasil jika ditujukan pada pemecahan masalah kualitatif kependudukan.

 

Berbeda Kepentingan

Presiden Soeharto mengakui ,bahwa masyarakat di banyak negara maju memiliki prioritas yang lain atau pandangan yang berbeda mengenai masalah ini.

“Mereka yang mempunyai penduduk yang telah stabil dan pendapatan yang tinggi, merasa tidak berkepentingan atau tidak mau memahami betapa beratnya bobot masalah kependudukan negara-negara berkembang seperti karni”, kata presiden.

Ada pula yang melihat masalah kependudukan negara berkembang dalam konteks pemikiran dan perdebatan mengenai masalah yang khas didalam negeri mereka sendiri, sehingga lupa akan perbedaan masalah yang dihadapi masing-masing negara.

Sebagai akibatnya, negara-negara kaya yang semestinya dapat berbuat lebih banyak, justru belum cukup berbuat untuk menanggulangi masalah kependudukan dunia.

Ia mengingatkan, “masalah kuantitas dan kualitas yang dihadapi mayoritas umat manusia yang berada di negara berkembang ini, pasti akan membawa dampak terhadap pertumbuhan dan kehidupan seluruh bangsa di muka bumi kita yang satu ini”.

Oleh karena itu, ia menghimbau perhatian dan keterlibatan negara-negara maju dalam memecahkan masalah kependudukan yang merupakan unsur pokok pembangunan berkelanjutan secara  global.

Ketika presiden mengakhiri pidatonya, tepuk tangan hadirin kembali menggema memenuhi ruangan. Selain acara itu, Presiden dan lbu Tien Soeharto mendapat ucapan selamat dari hadirin di ruang resepsi yang diselenggarakan Sekjen PBB. (SA)

 

 

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA(l0/06/1989 )

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 887-890.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: