PRESIDEN TENTANG PENINGKATAN HUBUNGAN RI PAKISTAN

PRESIDEN TENTANG PENINGKATAN HUBUNGAN RI PAKISTAN

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto yakin peningkatan hubungan dan kerjasama Indonesia dengan Pakistan akan memberi arti lebih positif bagi pengembangan kehidupan ekonomi, perdagangan dan sosial-budaya antara kedua negara.

“Saya melihat masih terbukanya kemungkinan luas ke arah itu,” kata Kepala Negara ketika menerima surat-surat kepercayaan dari Duta besar baru Pakistan untuk Indonesia, Khalid Saleem, di Istana Merdeka Jakarta, Rabu pagi.

Ia mengemukakan, hubungan persaudaraan antara Indonesia dan Pakistan telah terjalin lama. Kedua negara sudah mengadakan hubungan persahabatan yang tulus dan berdasarkan prinsip saling menghormati dan memberi manfaat.

Kedua negara juga telah berupaya memberi sumbangan bagi terselenggaranya konferensi Bandung yang mernpakan langkah permulaan bagi terbentuknya gerakan non blok.

“Hal ini menunjukan bahwa kedua negara dan bangsa kita termasuk negara pemrakarsa gerakan tersebut, yang prinsip-prinsipnya sampai kini terus dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten,” ujar Presiden.

Supaya tetap menjaga kemurnian gerakan non blok, di tengah-tengah dunia yang masih dipengaruhi persaingan dan perebutan pengaruh antara kekuatan-kekuatan besar dunia, disebut oleh Presiden sebagai tantangan bagi kedua negara.

Indonesia, menurut Presiden, selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di kawasan Asia Selatan dan menghargai sikap para pemimpin Pakistan yang senantiasa memperjuangkan terciptanya stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut.

Bagi Indonesia, ujar Presiden, stabilitas dan perdamaian kawasan merupakan sarana amat penting, sebab hanya dalam situasi stabil dan aman itulah bangsa-bangsa dapat membangun untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Di samping itu, Indonesia juga berusaha menjalin hubungan serasi dan harmonis antara sesama negara sekawasan, sehingga memungkinkan tercapainya kemakmuran dan kesejahteraan bersama.

Dalam kesempatan itu ia menyatakan terima kasih atas salam persaudaraan Presiden Pakistan Mohammad Zia Ul Haq serta Perdana Menteri Mohammad Khan Junejo yang disampaikan melalui Dubes Khalid Saleem kepada Presiden Soeharto dan seluruh rakyat Indonesia. Melalui dubes baru itu Presiden Soeharto juga menyampaikan salam kepada pemimpin dan rakyat Pakistan.

Dubes Baru Swiss

Sebelum menerima Dubes Khalid Saleem, Presiden di tempat sama menerima surat-surat kepercayaan dari dubes baru Swiss untuk Indonesia, Bernard Freymond, Dubes baru ini menggantikan GFranel.

Dalam pidato balasannya, Kepala Negara menyatakan gembira melihat hubungan Indonesia-Swiss terus berjalan dalam suasana penuh pengertian, persahabatan dan kerjasama yang saling bermanfaat.

“Rasa persababatan itu terasa hangat bagi kami, karena sikap pemerintah dan rakyat Swiss yang menaruh perhatian besar terhadap usaha-usaha pembangunan nasional karni,” ujar Presiden.

Ia mengharapkan agar dalam tahun-tahun mendatang kedua bangsa dan negara dapat terus memperluas kerjasama saling bermanfaat.

Dikemukakan, masalah pokok yang dihadapi dunia sekarang adalah pembangunan dan perdamaian.“Tanpa pembangunan bagi semua bangsa secara adil dan merata, maka tidak mungkin tercipta perdamaian dunia yang kekal,” lanjutnya.

Pengalaman menunjukkan bahwa keterbelakangan dan kesulitan ekonomi berkepanjangan, dapat menjadi pangkal gejolak sosial, yang dapat menjadi awal bagi ketidaksetabilan regional.

Demikian pula sebaliknya, tanpa suasana damai, maka pembangunan bangsa­bangsa akan mengalami hambatan besar. “Karena itulah dalam KTT ASEAN ketiga di Manila akhir tahun lalu kami menegaskan kembali tekad kami untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai suatu kawasan damai, bebas dan netral,” demikian Presiden.

Presiden Soeharto ketika menerima surat-surat kepercayaan dari dua dubes baru itu didampingi Menteri/Sekretaris Negara Drs. Moerdiono, Menmuda/Seskab Drs. Mursjid dan Menteri Luar Negeri Ali Alatas.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (30/03/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 89-91.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.