Mar 292017
 

PRESIDEN TEGASKAN SOAL KEYAKINAN AGAMA

Tidak ada satu lembaga atau kekuatan apapun termasuk negara, yang dapat memaksakan suatu keyakinan agama kepada seseorang. Presiden Soeharto mengatakan hari ini di Istana Negara ketika dia menutup penataran P4 para pemuka agama se Indonesia.

“Untuk itu diperlukan kemampuan segenap pemeluk agama guna menguasai dan mengendalikan diri agar tidak menyinggung apalagi mengganggu agama dan kepercayaan orang lain", kata Presiden.

Penataran Alim Ulama Angkatan Ke II ini diikuti oleh 240 peserta yang terdiri dari pemuka agama Islam 192 orang, agama Kristen Katholik 9 orang, Budha 4 orang, Hindu 9 orang, dan Pantekosta 2 orang.

Presiden mengatak:an segala bentuk pemaksaan, selain tidak manusiawi juga tidak sesuai dengan kelakuan ajaran beragama. Yang terpenting adalah bagaimana agama berkesempatan seluas-luasnya menjalankan ajaran-ajaran yang bebas sekaligus tidak mengganggu orang lain.

Menurut Presiden, kedudukan P4 sangat penting karena pangkal tolak P4 itu sendiri adalah pengendalian diri dan kepentingan pribadi yang sejalan dengan semua agama. Dan memang agama tidak hanya mengajarkan segi kepercayaan tapi juga mengajarkan segi ketakwaan yang sangat penting artinya bagi kehidupan dan masyarak:at.

"Menghadapi masalah-masalah keagamaan adalah sangat peka apabila tidak diakomodasi oleh kemampuan mengendalikan diri, lebih-lebih dari mereka yang dianggap pemimpin dan taat, bisa jauh tnemecahkan persoalan justru menambah persoalan", katanya.

Kepala Negara mengatak:an perlu disadari, adalah masyarakat Indonesia yang religius. Oleh karena itu jalur agama diperlukan dan ikut menentukan untuk memungkinkan terlaksananya pengerahan segenap potensi masyarakat.

"Suatu hal yang menggembirakan sifat dan kencenderungan bangsa Indonesia yang lebih mementingkan kerukunan dari mempertentangkan perbedaan".

Katanya lagi, "hal ini telah menghindarkan kita dari pertentangan-pertentangan antar agama yang gawat".

Memang ada beberapa peristiwa kecil dan setempat yang tidak menyenangkan namun hal itu dapat segera diatasi. Walaupun begitu harus terus menerus dipupuk rasa saling percaya dan kerukunan hidup diantara penganut berbagai agama di tanah air.

Tekad

Dalam pertemuan ramah-tamah yang diadakan di Istana Negara itu, seluruh peserta penataran menyampaikan tekadnya kepada Kepala Negara yang menyatakan bertekad mengamalkan P-4, melestarikan UUD 45 dan mensukseskan GBHN dengan sebaik-baiknya, bertekad menyebarluaskan P4 ke seluruh pelosok negara Republik Indonesia dan bertekad untuk menjaga kelestarian kerukunan hidup ummat beragama. Kebulatan tekad itu dibacakan oleh K.H. Muhibudin. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (30/11/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 413-414.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: