Feb 042017
 
HM Soeharto dalam berita

PRESIDEN SOEHARTO:

UNTUK KETAHANAN REGIONAL TAK BERARTI HRS ADA PAKTA MILITER [1]

 

Jakarta, Sinar Harapan

Presiden Soeharto, Senin pagi, menegaskan untuk memupuk ketahanan nasional dan menumbuhkan ketahanan regional diantara negara-negara ASEAN (Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara) tidak berarti harus ada pakta militer atau kesatuan ekonomi.

Kepala Negara mengatakan hal itu didepan 22 orang peserta Simposium Ketahanan Regional ASEAN tahun 1977di Bina Graha.

Selesai menerima peserta simposium tsb Letjen Sajidiman, yang bertindak sebagai juru-bicara mengatakan bahwa dalam simposium yang diadakan dari tgl 29 Januari s/d 24 Pebruari di Jakarta, telah ditekankan bahwa ketahanan regional antara negara­negara anggota ASEAN harus ditumbuhkan.

Menurut Sajidiman yang menjelaskan konsep ketahanan nasional, yang menjadi inti daripada ketahanan nasional adalah kemampuan tiap-tiap negara secara individual dan militer untuk menghadapi masalah2 keamanan.

Untuk mempertinggi ketahanan nasional perlu ada kerjasama dengan negara­negara anggota ASEAN lainnya dan kerjasama itu hanya sebagai pendukung atau suplemen saja. Namun perlu ada harmonisasi kepentingan-kepentingan nasional dalam kerjasama tersebut, kata Sajidiman.

Kista

Sajidiman mengatakan pakta militer antara negara-negara ASEAN tidak perlu karena berpokok pada kemampuan individu. Dijelaskan konsep ketahanan regional ini ditelorkan pada tahun 1973 di Indonesia ketika “KISTA” (Kursus Istimewa Terbatas) yang pertama diselenggarakan dan hasilnya di sebarluaskan kepada negara­negara ASEAN.

Kemudian pada tahun 1974 di Jakarta diadakan “KISTA” ke-II dimana dibahas kemungkinan untuk memperluasnya menjadi ketahanan regional. Tahun berikutnya (1975) dilangsungkan lagi di Manila ”KISTA” III yang sudah bersifat regional, karena dihadiri oleh peserta2 dari negara2 anggota ASEAN lainnya.

“KISTA” ke-IV semula direncanakan untuk diadakan di Bangkok pada tahun 1976, tetapi karena di negara tsb waktu itu ada kemelut, maka diundurkan sampai Oktober tahun ini (1977), kata Sajidiman.

Dikatakan selanjutnya bahwa dalam simposium ini telah dibahas hasil-hasil dalam “KISTA”, I, II dan III tsb. Hadir dalam simposium ini masing2 9 orang dari Indonesia, Malaysia 4 orang, Filipina 4 orang, Singapura 2 orang dan Muangthai 3 orang.

Dari hasil simposium inipara peserta diharapkan dapat memberikan penerangan yang lebih mendalam kepada negara masing-masing. Dikatakan oleh Sajidiman, simposium juga telah menekankan pengertian dari ketahanan nasional.

Mengenai ketahanan nasional pada umumnya terdapat keseragaman diantara negara-negara ASEAN baik faham maupun pengetrapannya, sekalipun Filipina mempunyai pengertian sendiri dan menyebutnya sebagai ‘self reliance’ (berdiri diatas kaki sendiri). Tetapi sifatnya tidak berbeda dari konsep ketahanan nasional.

Sajidiman mengatakan para peserta menilai simposium ini berhasil. Selain diskusi2 dan pembahasan2, juga diadakan widyawisata, tour ke daerah2 a.l. Bandung, Magelang dan Blitar untuk meninjau berbagai obyek militer.

Ancaman Latent

Letkol Syed Ibrahim dari Singapura ketika ditanya pers mengatakan bahwa komunisme merupakan ancaman latent dalam tingkat subversi dan dalam simposium itu juga telah dibahas bagaimana menghadapinya.

Ia tetap berpendapat bahwa pakta militer antara negara2 ASEAN tidak perlu. Dalam ketahanan regional perlu diadakan pembahasan bersama karena ditemukan kesamaan2 di dalam negeri masing2, katanya.

Peserta lain dari Muangthai, Marsekal Janya Sukon Tasap, ketika ditanya seberapa jauh ancaman komunis terhadap Muangthai mengatakan, ia tidak mengetahui dengan pasti sampai berapa jauh ancaman tsb, tetapi melukiskan negaranya sebagai negara terdepan dari ASEAN dalam menghadapi komunis. Ditanya bagaimana andaikata Muangthai diserang oleh negara2 komunis yang berbatas dengannya, ia mengatakan “lihat saja nanti”.

Mengenai kunjungan PM. Kraivixienke negara2 ASEAN baru2 ini ia mengatakan maksud kunjungan itu bukan untuk membicarakan pembentukan pakta militer.

Kerjasama militer dengan Malaysia, berhasil baik, karena komunisme dianggap sebagai musuh bersama, katanya. (DTS)

Sumber: SINAR HARAPAN (21/02/1977)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 499-501.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: