Sep 042017
 

PRESIDEN SOEHARTO TTG PLTA DI MRICA JATENG

 

 

Presiden Soeharto menegaskan Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN) harus menjadi kekuatan pembangunan yang produktif, bukan malah menjadi beban negara akibat pengurusan yang buruk.

“Saya minta semua BUMN memperbaiki citra mereka, yang selama ini dianggap oleh masyarakat luas kurang efisien dan kurang produktif, serta kurang memberi pelayanan yang semestinya kepada masyarakat,” kata Kepala Negara hari Sabtu di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dalam sambutannya pada upacara peletakan batu abadi di bendungan utama Pusat Listtik Tenaga Air (PLTA) Mrica, delapan kilometer dari Banjarnegara, Presiden minta kepada seluruh jajaran Perum Listrik Negara (PLN) agar terus meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

“Seman saya ini juga berlaku bagi semua BUMN yang lain,” tegasnya.

Dalam sidang kabinet terbatas bidang Ekuin awal Februari lalu, Presiden memberi instruksi kepada semua menteri agar segera menyampaikan laporan jelas mengenai keadaan semua BUMN di lingkungan masing-masing.

Berdasarkan laporan tersebut akan ditentukan masa depan selanjutnya bagi BUMN yang bersangkutan.

Menurut laporan kepala proyek PLTA Mrica, Ir. Soejoedi Surachmad, pembangunan PLTA itu kini sudah mencapai tahap 73 persen. Apabila rampung, PLTA itu memiliki kapasitas tenaga listrik 184,5 MW dengan produksi listrik 580 GWH per tahun.

PLTA itu dijadwalkan beroperasi penuh pada April 1989, sedang unit pertama direncanakan selesai Desember 1988, unit kedua Februari 1989 dan unit ketiga selesai Maret 1989. Tiap-tiap unit berkapasitas 61,5 MW.

Proyek yang bernilai setara dengan 356 juta dolar AS itu selain dibiayai dari anggaran negara (APBN) juga memperoleh dana pinjaman dari pemerintah Inggeris sebanyak 155,2 juta poundsteriling dan bantuan Swedia 1.280,1 miliar kron.

PLTA merupakan pembangkit listrik yang murah, tidak menimbulkan polusi dan bersifat ‘renewable’ (dapat diperbaharui). Apabila beroperasi nanti PLTA Mrica diperhitungkan dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) 290 ribu ton atau senilai dengan 1,83 juta barrel minyak mentah per tahun.

Bendungan aimya memiliki luas 1.250 hektar dengan volume air 193,5 juta meter kubik. Untuk menciptakan waduk tersebut 2.550 kepala keluarga atau sekitar 7.644 jiwa dipindahkan ke daerah lain.

Sedang untuk pembebasan tanah seluas 1.510 ha di 32 desa dalam enam kecamatan itu diperlukan dana Rp 16,42 miliar lebih.

Untuk Jawa Tengah, PLTA Mrica ini terbesar dibanding dengan PLTA lain yang sudah ada sebelumnya di propinsi itu antara lain PLTA Sempor, PLTA Wadaslintang, PLTA Garung, PLTA Wonogiri dan PLTA Kedung ombo. PLTA-PLTA lama itu secara total berkapasitas 75,4 MW.

Hadir pada upacara tersebut lbu Tien Soeharto, Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono SH, Mendagri Supardjo Rustam, Menteri Pertambangan dan Energi Subroto, Menteri Pekerjaan Umum Suyono Sosrodarsono dan Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani. Sabtu siang itu juga Presiden dan rombongan kembali ke Jakarta. (RA)

 

 

Mrica, Banjarnegara, Antara

Sumber : ANTARA (28/12/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 396-398.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: