Apr 302017
 

PRESIDEN SOEHARTO: TRILOGI PEMBANGUNAN MENJADI TUMPUAN

Presiden Soeharto menyatakan bahwa Indonesia memandang masalah perumahan bukan semata-mata sebagai masalah teknis tapi juga sebagai masalah manusia dan kemanusiaan sebab tujuan pembangunannya membangun manusia Indonesia yang utuh dan seluruh masyarakatnya.

Di depan para ahli perencanaan perumahan ASEAN yang baru saja menyelesaikan kongresnya yang berlangsung di Jakarta sejak 7 Desember, Kepala Negara mengemukakan pula bahwa pembangunan di Indonesia bertumpu pada Trilogi Pembangunan, yaitu terciptanya pemerataan menuju keadilan sosial, tercapainya pertumbuhan ekonomi yang memadai dan stabilitas nasional.

Dalam gerakan besar untuk mencapai pemerataan pembangunan itu, kata Presiden, telah dipilih delapan bidang kegiatan yang dikenal dengan sebutanjalur pemerataan. Salah satu jalur ini ialah pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak dibidang perumahan, di samping pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang yang saat ini telah mulai terasa hasil-hasilnya, kata Presiden ketika menerima 170 peserta Kongres Perhimpunan Ahli-ahli Perencanaan Perumahan ASEAN itu di Istana Negara, Jakarta, Kamis pagi.

Presiden mengatakan bahwa hasil-hasil itu dicapai bukannya tanpa masalah dan kesulitan.

"Sebaliknya kami kaya dengan pengalaman dan kesulitan dan banyak dari kesulitan itu sudah dapat dipecahkan dan diatasi," kata Presiden.

"Bahkan pengalaman itu meyakinkan Indonesia akan keharusan membangun menurut cara dan gaya serta kepribadiannya sendiri karena pengalaman menunjukkan bahwa tidak ada satu model pembangunan pun yang cocok untuk semua bangsa".

Oleh karena itu, Presiden menyarankan agar ASEAN sebagai kesatuan regional dan Asia sebagai kesatuan yang lebih besar dalam masyarakat bangsa-bangsa, sebaiknyajuga membangun menurut gaya dan corak kepribadiannya sendiri.

Ini perlu disadari, kata Presiden menekankan, karena ekonomi dunia yang sampai zaman inididominasi gaya dan corak masyarakat industri maju, temyata mengalami banyak kelemahan struktural yang kini akibat-akibat buruknya melanda seluruh dunia dalam wujud keadaan ekonomi dunia yang serba tidak menentu.

Berdasarkan pengalaman itu, Presiden menganjurkan pula agar bangsa-bangsa ASEAN belajar dari kesalahan dan kelemahan industri maju sehingga negara-negara di kawasan ini dapat menghindarkan diri dari akibat-akibat samping yang buruk yang dilahirkan oleh gaya dan corak pembangunan negara industri tersebut.

Oleh karena itu Presiden menekankan perlunya terus menerus diadakan tukar menukar pendapat dan pengalaman di antara negara-negara Asia Tenggara yang sudah bersatu dalam ASEAN.

Berbagai Sasaran

Presiden mengemukakan pula bahwa dalam pembangunan perumahan ini, Indonesia ingin mencapai berbagai sasaran karena pembangunan di bidang ini diletakkan sebagai bagian dari keseluruhan pembangunan nasional.

Sasaran itu adalah memperbanyak pembangunan perumahan yang menjamin kesehatan dan kesejahteraan keluarga, yang harganya terjangkau oleh rakyat banyak dan peningkatan produksi bahan bangunan murah secara massal dan terbuat dari bahan dalam negeri.

Selain itu sasarannya adalah memperluas kesempatan kerja, memperbaiki lingkungan hidup dan perbaikan kampung dan pedesaan, di samping sasaran teknologi yang menunjang sasaran-sasaran tersebut.

Demikian luas sasaran dan masalah yang tersangkut sehingga pembangunan perumahan yang demikian itu memerlukan keterlibatan berbagai keahlian, maka Indonesia pun ingin belajar dari pengalaman negara lain.

Oleh karena itu, Presiden nenyatakan penghargaannya dan mengharapkan dari organisasi seperti Perhimpunan Para Ahli Perencana dan Perumahan ASEAN, karena adanya kerjasama profesi di bidang perumahan dan perencanaan akan mendorong timbulnya tanggung jawab bersama antar negara ASEAN dalam menangani perumahan Rakyat.

Rakyat di negara-negara ASEAN berkepentingan akan pemupukan keahlian melalui organisasi ini karena ilmu pengetahuan dan teknologi, kata Presiden, merupakan tulang punggung pembangunan bangsa.

Presiden menyatakan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi tidak pernah cukup melalui pendidikan formal belaka, tapi harus ditunjang pula dengan penerapan dan tukar menukar pengalaman untuk mengkaji dan meningkatkan ilmu yang dimiliki sesuai dengan profesinya.

Oleh karena itu Presiden menyerukan agar Perhimpunan Para Ahli Perencana dan Perumahan ASEAN ini didukung setiap negara ASEAN karena organisasi profesi seperti ini merupakan rekan yang tangguh dari pemerintah masing-masing negara ASEAN dalam melaksanakan tugas pembangunan.

Perhimpunan ini, kata Presiden, merupakan gerakan nyata dari usaha memasyarakatkan ASEAN yang akan merupakan kekuatan penting bagi kokohnya ASEAN itu sendiri.

"Merupakan kewajiban dari masing-masing pemerintah negara anggota ASEAN untuk membina perhimpunan ini karena Perhimpunan Para Ahli Perencana dan Perumahan ASEAN ini lahir dari ‘ASEAN Concord’ yang ditandatangani di Bali enam tahun lalu," demikian Presiden.

Kongres Perhimpunan Para Ahli Perencana dan Perumahan ASEAN yang berlangsung dari 7 sampai 10 Desember itu telah berhasil memilih ketuanya Ir. Sardjono dari Indonesia dan Sekjen Jaime Akura dari Pilipina.

Para peserta kongres ketika diterima Presiden Soeharto dilstana Negara diantar oleh Menteri Muda Urusan Perumahan Rakyat Drs. Cosmas Batubara. Hadir pula dalam pertemuan itu Mensesneg Sudharmono SH dan pejabat-pejabat pemerintah lainnya. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (10/12/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 308-310.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: