Jun 152017
 

PRESIDEN SOEHARTO: TRANSMIGRASI BUKAN PEMINDAHAN KEMISKINAN

Presiden Soeharto menegaskan kembali bahwa usaha transmigrasi bukanlah merupakan pemindahan kemiskinan, tapi untuk menjadikan penduduk dari Pulau Jawa yang sudah padat menjadi prajurit-prajurit pembangunan.

Kepala Negara mengemukakan hal itu dalam pesan-pesannya setelah menjawab dan menanggapi pertanyaan serta permintaan wakil-wakil transmigran Satuan wilayah Pemukiman (SWP) Transmigrasi Pasir Pangarayan dalam suatu temu wicara setelah meresmikan lapangan terbang Pasir Pangarayart Jalan Rantau Berangin dan 48 buah jembatan, hari Sabtu.

Presiden mengatakan, kalau pada waktu yang lalu bangsa Indonesia berjuang mengangkat senjata untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, sekarang seluruh bangsa ini berjuang untuk mengisi kemerdekaan dengan melaksanakan pembangunan.

Di Pulau Jawa sekarang ini terdapat kurang lebih enamjuta petani yang mempunyai tanah setengah hektar. Lima juta mempunyai seperempat hektar dan delapan juta buruh tani, demikian Presiden.

Sedang untuk dapat hidup saja, satu keluarga petani sekurang-kurangnya harus mempunyai setengah hektar tariah. Untuk menambah tanah garapan bagi para petani di Pulau Jawa itu, sudah tidak mungkin lagi. Oleh karena itu 13 juta kepala keluarga

(KK) yang terdiri dari limajuta petani yang mempunyai tanah seperempat hektar dan delapan juta KK buruh tani harus dipindahkan dari Pulau Jawa.

Presiden mengemukakan angka 65 juta orang menunggu giliran dipindahkan dari pulau Jawa. Selama Pelita III, sasaran pemindahan penduduk ke luar Pulau Jawa 500.000 KK.

Jika dalam tahun-tahun setelah Repelita III dapat dipindahkan satu juta orang, sudah terlambat dan akan memakai waktu 65 tahun untuk memindahkan 65 juta orang penduduk dari Pulau Jawa tersebut Presiden dalam hubungan ini mengingatkan agar transmigran yang sudah mendapatkan pemukiman di daerah yang masih luas tanahnya itu bersyukur, kepada Tuhan.

Selain itu para transmigran mendapat dua hektar tanah, yang satu seperempat hektarnya dapat dipergunakan sebagai tanah garapan. Menjelang tanah garapan menghasilkan, mereka mendapatkan pula biaya hidup enam bulan sampai satu tahun.

Oleh karena itu Presiden mengharapkan, agar para transmigran memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.

Dorong Kreativitas

Dalam menjawab pertanyaan dan menanggapi wakil-wakil transmigran itu Presiden lebih banyak mendorong kreativitas masyarakat yang sudah mendapatkan pemukiman dan tanah garapan tersebut.

Ketika menanggapi permintaan membangun pabrik tapioka, sehubungan dengan meningkatnya hasil singkong di lokasi transmigrasi, Presiden berpesan agar warga masyarakat bersangkutan mengambil inisiatif mendirikan pabrik tapioka kecil-kecilan dengan menggunakan cara-cara yang lebih sederhana terlebih dahulu.

Kemudian jika ternyata basil dan pemasarannya sudah besar, barulah dipikirkan untuk mendirikan pabrik yang besar.

Demikian ketika menanggapi permintaan agar dibangun irigasi, Presiden tidak begitu saja mengabulkan permintaan tersebut, tapi mengatakan terlebih dahulu, harus dilakukan penelitian.

Jika ternyata irigasi tersebut akan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat, Pemerintah akan membangunnya. Jika ternyata irigasi itu memerlukan biaya besar, masalahnya tinggal menunggu waktu pada saat dapat diperoleh dana yang cukup untuk membangun jaringan irigasi.

Tapi satu hal yang perlu diperhatikan, kata Presiden mengulangi kembali. "Irigasi itu harus bermanfaat bagi rakyat.”

Ketika diminta agar pemerintah menyediakan traktor, Presiden menganjurkan agar warga transmigran lebih dulu menggunakan ternak, yang di samping tenaganya dapat digunakan untuk mengerjakan tanah, kotorannya dapat digunakan sebagai pupuk.

Menggunakan traktor akan menjadi mahal bagi petani, sebab di samping harus membeli minyak dan olinya, juga harus mengeluarkan uang untuk pemeliharaannya.

Mengingat praktisnya penggunaan ternak itu Presiden minta agar para transmigran meningkatkan pemeliharaan teman dengan sistem gadu.

Barulah ketika seorang wakil transmigran lainnya mengemukakan mengenai masalah bibit. Presiden berjanji akan memperhatikannya, karena memang usaha pertanian tanpa menggunakan bibit unggul tidak akan berhasil baik.

Kepala Negara juga menjawab pertanyaan mengenai masalah pemasaran dan kesulitan yang dihadapi warga transmigran di bidang angkutan hasil produksinya ke pasaran.

Dalam hal ini Presiden minta agar mengusahakan seluruh masyarakat di lokasi transmigrasi menjadi anggota Koperasi Unit Desa (KUD). Jika KUD ini menjadi kuat, warga transmigran dapat memperoleh kredit untuk membeli kendaraan bermotor untuk memasarkan produksi pertanian mereka.

Serahkan Bantuan

Sebelum temu wicara, baik Presiden maupun Ibu Tien Soeharto menyerahkan berbagai bentuk bantuan untuk juara Koperasi Unit Desa, juara Kelompok Tani, juara Keluarga Petani dan Wanita Tani di Kabupaten Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kampar dan Kabupaten Bengkalis.

Presiden menyerahkan empat traktor tangan 2 empat puluh alat untuk memipil jagung, 22 alat uji tanah, 44 alat penyiang tanah, dua mesin pengering gabah, 200 kitab Al Quran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Sedang Ibu Tien Soeharto menyerahkan, 40 lampu petromak, 20 mesin jahit dan delapan lembar, karpet merah. (RA)

Pekanbaru, Kompas

Sumber : KOMPAS (30/08/1982)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 1156-1158.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: