Mar 202017
 

PRESIDEN SOEHARTO TERIMA UTUSAN KHUSUS PLO

Presiden Soeharto dan utusan khusus Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Khalid Al Sheikh di Bina Graha, Jakarta, Sabtu pagi, membicarakan situasi politik di Timur Tengah, perkembangan keadaan dan prospek bagi tercapainya perdamaian di kawasan tersebut.

Khalid Sheikh, sesaat setelah diterima Kepala Negara menjelaskan kepada pers, bahwa dengan Presiden Soeharto dia juga telah membahas masalah hubungan antara PLO dan Indonesia.

Dia menyatakan puas terhadap jaminan Presiden Soeharto bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia akan terus mendukung perjuangan bangsa Arab, khususnya perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan hak-hak nasionalnya, bebas dari dominasi negara lain dan membentuk satu negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Khalid Al Sheikh menyatakan sangat terkesan dalam pertemuannya dengan Presiden itu. Dia mengharapkan dukungan Indonesia, membantu perjuangan rakyat Palestina dalam mencapai cita-cita nasionalnya.

Secepatnya

Ketika menjawab pertanyaan apakahjuga dibahas masalah pembukaan perwakilan PLO di Jakarta, dia membenarkan dengan mengatakan bahwa pada prinsipnya hal ini sudah disetujui pihak Indonesia.

Dia mengharapkan perwakilan PLO di Jakarta, secepat mungkin dapat dibuka setelah menyelesaikan masalah teknis dan formalitas lainnya bagi pembukaan perwakilan PLO itu.

Ketika menanggapi masalah pembelian pesawat Skyhawk oleh Indonesia, Khalid Al Sheikh menyatakan bahwa PLO sama sekali tidak berkeberatan Indonesia membeli pesawat jenis Skyhawk itu dari Amerika Serikat.

”Ini sama sekali masalah Indonesia.” Dia mengatakan bahwa Presiden Soeharto sudah menjelaskan kepadanya mengenai masalah pembelian pesawat pesawat Skyhawk tersebut, Presiden mengatakan bahwa pesawat tersebut dibeli dari Amerika Serikat, bukan dari negara lain.

Masalahnya bagi PLO jika pesawat Skyhawk itu berasal dari Israel.

"Selama pesawat itu dibeli dari Amerika Serikat atau negara lain di luar Israel kami tidak berkeberatan", kata khalid.

Tergantung AS

Ketika menjawab pertanyaan apakah dilihat dari segi kepentingan PLO akan ada penyelesaian damai di Timur Tengah, Khafid Al Sheikh mengatakan bahwa PLO senantiasa mengharapkan tercapainya penyelesaian politik secepatnya dalam masalah Palestina.

"Penyelesaian politik ini sama sekali tergantung pada keputusan PBB, terutama dalam hal ini Amerika Serikat", kata Khalid.

Dia mengatakan, Amerlka Serikat sampai batas-batas tertentu memahami bahwa penyelesaian masalah Palestina tidak dapat dicapai atas dasar persetujuan Camp David karena dalam persetujuan itu tidak diakui hak-hak rakyat Palestina, untuk dapat menentukan hari depannya sendiri menuju terbentuknya suatu negara Palestina yang merdeka dan beradab.

Amerika Serikat harus dapat memahami bahwa tanpa mengakui hak-hak rakyat Palestina ini tidak akan tercapai penyelesaian masalah Palestina yang menjadi kunci penyelesaian masalah Timur Tengah.

PLO berharap agar Amerika Serikat melalui persetujuan Camp David mengakui dan menjamin hak-hak rakyat Palestina ini.

Dia mengemukakan pula pengunduran diri Moshe Dayan dari pemerintahan Israel tidak akan membawa perubahan apa-apa terhadap perkembangan di Timur Tengah.

"Kemungkinan pengunduran diri Moshe Dayan itu akibat pertentangan pribadi dalam pemerintah Israel", kata Khalid.

Dia hanya mengatakan bahwa pengunduran diri Moshe Dayan menunjukkan bahwa para pemimpin Israel tidak sungguh-sungguh dalam usaha mencapai perdamaian yang langgeng dan adil di kawasan itu dan tidak sungguh-sungguh dalam mencapai penyelesaian damai di TimurTengah. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (27/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 190-192.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: