Agu 022017
 

PRESIDEN SOEHARTO : SGS AGAR TINGKATKAN PEMERIKSAAN BARANG YANG DIIMPOR KE INDONESIA

 

 

Presiden Soeharto minta kepada perusahaan surveyor SGS (Societe Generale de Surveilance), agar lebih meningkatkan lagi pemeriksaan dan pengawasan terhadap barang-barang yang diimpor ke Indonesia, terutama di negara-negara yang bertetangga dengan Indonesia, guna mencegah terjadinya penyelundupan.

Permintaan itu disampaikan kepada pimpinan SGS yang berkedudukan di Geneva, Marc Andre Chargueraud, yang datang mengadakan kunjungan kehormatan kepada Kepala Negara di Bina Graha, Selasa pagi.

Ia disertai pimpinan eksekutif O.J. Knebuehler dan perwakilan SGS di Jakarta, Wareham. Dalam pertemuan itu telah dibicarakan hal-hal yang menyangkut Inpres No. 471985.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit, Presiden Soeharto yang didampingi Menteri Perdagangan Rachmat Saleh menyatakan, Indonesia masih tetap bekerja sama dengan SGS dalam upaya lebih memperlancar arus barang impor ke Indonesia.

Sejak Inpres No. 4/1985 dikeluarkan, SGS telah dipilih untuk melaksanakan tugas pemeriksaan di negeri asal terhadap barang­-barang yang akan diimpor ke Indonesia berdasarkan kontrak kerja selama tiga tahun. Terhadap barang-barang yang telah diperiksa, SGS kemudian mengeluarkan semacam sertifikat yang disebut LKP (Laporan Kebenaran Pemeriksaan).

Pangab/Pangkopkamtib Jenderal L.B. Moerdani hari Senin mengatakan, selama Inpres No. 4/1985 berjalan setahun, diketahui adanya praktek-praktek yang menyalahi kemudahan yang ada dalam Inpres.

Ada yang memasukkan barang yang sebenarnya bernilai di atas 5.000 dollar AS, tapi dipecah jadi beberapa bagian yang nilainya di bawah itu untuk menghindari pemeriksaan. Penyalahgunaan lainnya berupa, isi barang ternyata lain dari dokumen yang disebutkan dalam LKP.

Hal ini bisa terjadi karena perwakilan SGS di suatu negara tertentu dapat disuap dan mengubah LKP yang sebenarnya. Tetapi Pangab hanya menyebutkan nama perwakilan SGS itu dengan “di kota-kota tertentu di sekitar kita.”

Tindakan merugikan lainnya yang dilakukan perwakilan SGS yakni mengubah isi LKP sesuai dengan apa yang diinginkan importir.

Tingkatkan Pengawasan

Menjawab pertanyaan wartawan seusai pertemuan dengan Kepala Negara, Marc Andre Chargucraud mengatakan SGS akan lebih meningkatkan lagi pengawasan secara teknis terhadap kemungkinan dilakukannya pertukaran barang yang dilakukan pihak importir untuk mencegah terjadinya penyelundupan.

Ditanya kemungkinan penyalahgunaan peraturan impor tersebut dilakukan perwakilan SGS di Singapura atau Hongkong, pimpinan pusat SGS itu mengatakan, SGS menyambut baik keputusan Presiden Soeharto untuk mengadili importir yang melakukan penyimpangan sebagai tindakan subversif, karena dengan demikian akan menimbulkan pengaruh pencegahan kepada mereka yang ingin penyelewengan.

Tetapi mengenai terlibatnya perwakilan SGS di Singapura atau Hongkong, Marc Andre Chargueraud mengatakan, ia tidak melihat adanya skandal di sana.

Dengan Menkeu Radius Prawiro ia membicarakan cara-cara untuk mempermudah pemeriksaan pada waktu barang-barang yang dicurigai dilakukan penukaran.

“SGS sadar bahwa masalah-masalah itu terjadi dan akan berusaha khusus untuk melakukan audit untuk bisa membongkar kasus-kasus yang mencurigakan.” Dalam menangani masalah itu, kata Andre Chargueraud, pejabat-pejabat Indonesia akan segera dilibatkan.

Ketika dikejar terus, apakah penyalahgunaan peraturan impor tersebut karena kelemahan SGS atau kelicikan importir, pimpinan SGS itu secara diplomatis menjawab, apabila tidak ada orang yang licik dan menipu maka SGS tentu tidak akan ada.

Harapkan Lebih

Tentang masa kontrak tiga tahun SGS, ia mengatakan, SGS tentu mengharapkan agar apa yang dikerjakan dengan Indonesia saat ini akan lebih dari tiga tahun. Tapi, tambahnya, ini tentu tergantung pada Pemerintah Indonesia sendiri.

Dikatakan, SGS mempunyai cukup tenaga untuk melayani Indonesia sekalipun jumlah pekerjaan yang akan dilayani akan lebih meningkat lagi.

Ia menjelaskan, dewasa ini SGS mempekerjakan sekitar 18.000 karyawan di seluruh dunia dengan 140 laboratorium di beberapa tempat.

Mengenai usaha peningkatan pengawasan barang-barang di beberapa negara tetangga yang akan diimpor ke Indonesia, Andre Chargueraud mengatakan, akan dilakukan terhadap pelaksanaan teknisnya, yaitu pengawasan dari inspektur sendiri.

Namun ia juga tidak lupamenekankan bahwa selalu akan ada terjadi kasus-kasus pergantian barang, tetapi SGS akan berusaha untuk mengurangi sekecil mungkin skandal yang demikian itu.

“Sekali lagi, orang mempunyai banyak imajinasi. Ini suatu kenyataan hidup,” ujarnya.

Apakah kasus-kasus semacam itu juga terjadi di negara-negara lain, pimpinan SGS itu menjawab, “importir-importir di negara-negara lain tentu tidak lebih bodoh dari Indonesia.”

Sejak kontrak kerja dengan Indonesia dimulai, menurut Andre Chargueraud, SGS telah mengeluarkan 110.000 LKP. Tetapi berapa imbalan yang telah diperoleh SGS untuk itu, ia tidak bersedia menyebutkannya. (RA)

 

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (04/06/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 486-488.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: