Feb 202017
 

PRESIDEN SOEHARTO SERAHKAN BIBIT KEPADA PARA TRANSMIGRAN SULUT

Pejabat Jangan Buat Laporan Yang Ngecap

Presiden Soeharto, Selasa pagi, menyerahkan bantuan bibit tanaman pangan dan bibit tanaman keras kepada transmigran di Desa Mopuya dan Desa Mobugap, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara dan menyanggupi pembangunan jalan sepanjang lima kilometer yang menghubungkan antara dua desa transmigrasi tersebut.

Pemberian dan kesanggupan Kepala Negara itu disambut dengan tepuk tangan para transmigran.

Bibit bibit yang diserahkan itu adalahjagung, kedele kacang hijau, padi gogo, jeruk, mangga, jambu dan rambutan. Bibit-bibit itu diterima secara simbolis oleh kepala desa dari kedua desa transmigran itu.

Presiden dalam dialognya dengan para transmigranmen pkan agar pejabat­pejabat dalam memberikan laporan tentang pelaksanaan pembangunan jangan ngecap.

Hal itu jelas tercermin dari pertanyaan-pertanyaannya kepada rakyat,

“apa benar yang selalu mendapat jawaban, benar, benar. Diawal dialognya secara bergurau ia berkata: Jangan-jangan nanti Pak Lurah hanya ngecap saja kepada saya.”

Ia mengatakan hal itu setelah Kepala Desa Mopuya dan Mobugap mengatakan, bahwa kedua desa tersebut sekarang menghasilkan satu setengah ton kedele setiap hektar satu kali tanam, sedangkan satu setengah tahun yang lalu hasilnya bam satu ton saja.

“Saya turut gembira,” demikian katanya, setelah mendapat kepastian dari rakyat bahwa apa yang dikatakan kedua kepala desa itu benar. Tentang soal irigasi ia mengatakan, pemerintah akan meningkatkan saluran-saluran irigasi di daerah transmigran menjadi saluran tehnis, sehingga pertanian dengan sistem Panca Usaha dapat dilaksanakan.

Sambil melihat kebelakang Presiden mengatakan,

“saya melihat air sudah mengalir di belakang saya, tetapi mudah-mudahan tidak hanya pada waktu saya datang kemari saja.”

Ketika berada di daerah transmigrasi Mopuya, Presiden meminta agar rakyat di daerah transmigrasi dapat mengembangkan wilayah karena hal itu berarti membantu pemerintah sehingga dapat mengenyam kemakmuran.

Kepala Negara mengatakan desa transmigrasi harus dapat dikembangkan menjadi desa yang maju dan dapat berdiri sendiri.

Kata Presiden, pemerintah berkewajiban selalu memikirkan kebutuhan rakyat, di samping mempertinggi produksi untuk meningkatkan pendapatan, meningkatkan jaringan jaringan jalan guna memperlancar pemasaran hasil produksi.

Presiden mengatakan dengan dipenuhinya keinginan transmigras Mopuya untuk memperlengkapi jembatan bukan berarti pemerintah mengistimewakan transmigran.

”Jaringan jalan”, kata Presiden,” memegang peranan penting guna memperlancar pemasaran hasil produksi.”

Kepala Negara mengatakan ia gembira melihat kemajuan yang diperoleh transmigran Mopuya.

Resmikan Jalan Amurang

Daerah-daerah pedalaman yang subur harus segera dibebaskan dari keterasingan dengan cara membuat jalan-jalan baru, Presiden Soeharto mengatakan pagi ini di Kotamobagu, ketika meresmikan jalan Amurang Kotamobagu Dulodua Sulawesi Utara.

Seperti halnya adanya jalan yang diresmikannya ini, dikatakannya menurut laporan kegiatan masyarakat makin meningkat tanah-tanah bam mulai dibuka, rumah­rumah baru bermunculan danlalu lintas bertambah ramai.

Ini menunjukkan bahwa jalan memang benar-benar dibutuhkan masyarakat dan dapat memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

“Saya minta agar ke pemerintah daerah dan masyarakat memanfaatkan sebaik baiknya jalan ini, antara lain dengan, mempercepat pengembangan daerah pertanian di Kabupaten Bolaang Mongondow ini termasuk pengembangan daerah transmigrasi yang ada di sini,” kata Presiden.

Dikatakannya bahwa daerah ini mempunyai surplus untuk maju bahkan punya kemampuan untuk membuat surplus produksi pertanian, seperti kelapa dan cengkeh yang merupakan bahan-bahan yang makin diperlukan dan merupakan pula sumber penghasilan yang baik bagi masyarakat. (DTS)

Bolaang Mongondow, Merdeka

Sumber: MERDEKA (17/05/1978)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 794-795.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: