PRESIDEN SOEHARTO SAKSIKAN PARADE REOG DI SOLO [1]

Solo, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto Sabtu, (25/11) sore menyaksikan gelar dan parade Reog Ponorogo di Stadion Sriwedari Solo. Di tengah hujan rintik­-rintik, para warok dari seluruh Indonesia memperlihatkan keterampilannya memainkan Dadak Merak yang beratnya berkisar 50 kilogram.

Dalam pembukaan gelar dan parade yang memperebutkan piala Ibu Tien Soeharto tersebut, ditampilkan 50 Dadak Merak di tengah lapangan. Selanjutnya, sepuluh di antaranya maju ke depan tribun kehormatan dan menampilkan kebolehannya. Antara lain menyusun formasi Dadak Merak susun dua dan tiga. Namun saat menyusun tiga, warok yang berada paling atas terpelanting ke belakang karena Dadak Merak yang ditungganginya tidak kuat menahan berat.

Gelar dan parade akbar Reog Ponorogo tersebut diprakarsai oleh Sarana Duta Perdamaian Indonesia (Sadupi) dan Paguyuban Reog Ponorogo Indonesia. Menurut pimpinan Sadupi, Begug Poernomosidi SH, kegiatannya meliputi dua bentuk yaitu gelar dan parade reog.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 250 grup reog yang ada di Indonesia. Sementara itu, pada penilaiannya, setiap 10 grup menjadi satu kelompok. Pada festival tersebut terdapat 25 kelompok yang bersaing untuk memperebutkan tropi Ibu Tien.

Dikatakan, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ganda. Pertama, memperoleh nilai tambah dalam pembinaan budaya bangsa. Kedua, nilai tambah dalam bidang industri pariwisata karena Reog Ponorogo berpotensi untuk dikembangkan di bidang pariwisata.

Pembukaan gelar dan parade ditandai dengan pemukulan gong oleh Presiden Soeharto. Turut hadir dalam acara tersebut. Mendikbud Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro, Gubernur Jateng Soewardi.

Festival berlangsung dari petang hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Selama berjalan festival, stadion dipenuhi penonton meski hujan lebat turun.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (26/11/1995)

______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 694.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.