Agu 072017
 

PRESIDEN SOEHARTO AKAN RESMIKAN PLTA SAGULING DI JAWA BARAT

 

Presiden Soeharto hari pekan depan akan meresmikan pengoperasian Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling di wilayah Kabupaten Bandung, kurang lebih 30 km sebelah barat kota Bandung atau 100 km tenggara Jakarta. PLTA ini terdiri dari 4 unit berkekuatan masing-masing 175 Megawatt (MW) dan dibangun dengan dana dalam dan luar negeri sebesar 665.897.821 dollar AS sejak tahun 1981.

“Sejak akhir Mei, PLTA Saguling telah beroperasi dengan kapasitas penuh 700 MW. Malah sampai dengan 30 Juni telah menghasilkan energi listrik Iebih dari 1,5 juta MW dan disalurkan melalui jaringan ekstra tinggi (KHV) 500 KV ke dalam jaringan kelistrikan se-Jawa,” tutur Ir H. Husni Sabar, Kepala PLN Proyek Induk Pembangkit Hidro Jawa Barat (Pikitdro Jabar) di Saguling, hari Rabu lalu.

PLTA Saguling dibangun dengan rnembendung aliran Sungai Citarum.

Tinggi bendungan 99 meter, sedang tinggi permukaan air maksimum di atas permukaan laut 645 meter. Luas waduk yang terjadi 5.340 hektar, dapat menampung air 982 juta meter kubik. Namun kapasitas efektif yang dapat dimanfaatkan untuk PLTA 609juta meter kubik, sehingga lainnya sewaktu­ waktu disalurkan lewat saluran pelimpah.

Hemat BBM

Menumt Husni, PLTA Saguling dapat membangkitkan energi listrik rata­rata sebesar 2.155 juta kilowatt jam (kwh)/tahun. Sehingga jika diambil rata­rata harga BBM yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik sekarang Rp 200/liter, sangat besar penghematan yang dapat dicapai dengan pengoperasian PLTA tersebut.

“Bayangkan, untuk membangkitkan tenaga listrik sekitar 1 kwh saja, dibutuhkan BBM sekitar 0,3 liter,” komentarnya.

Dalam usaha semakin menghematkan penggunaan BBM itulah maka PLN Pikitdro Jabar membangun lagi sejumlah PLTA lain dalam aliran Sungai Citarum. Di antaranya telah beroperasi PLTA Jatiluhur 125MW yang nantinya akan dapat ditingkatkan sampai 150 MW. Juga sedang dibangun PLTA Cirata, 500 MW yang diharapkan selesai dalam tahun 1988 mendatang. PLTA ini direncanakan untuk dilanjutkan pembangunannya sampai mencapai kapasitas produksi 1.000 MW tahun 1992, terutama untuk menampung permintaan energi listrik yang diperkirakan akan sangat meningkat pada masa tersebut.

Pimpinan PLN itu menyatakan, sementara ini Sungai Citarum saja diperkirakan mempunyai potensi sekitar 3.110 MW.

Hal tersebut diperoleh dari PLTA Jatiluhur yang dapat ditingkatkan sampai 150 MW, PLTA Cirata sampai 1.500 MW, PLTA Saguling sampai 1.400 MW dan PLTA Rajamandala 60 MW. Yang terakhir ini telah pemah diteliti, tapi belum direncanakan untuk dikembangkan dalam waktu dekat ini.

Tetapi, kata Husni, pembuatan waduk di Sungai Citarum bukan hanya dilihat dari segi potensi energi kelistrikan yang dapat dihasilkannya, melainkan juga untuk memanfaatkan air sungai itu untuk berbagai kepentingan.

Waduk Jatiluhur misalnya, dapat menampung air sekitar 2.000 juta meter kubik.

Dampak

Dikatakan, hasil-hasil yang telah tercapai dalam pembangunan PLTA Saguling sekarang ini merupakan dampak positif. Namun tidak kurang pula pengaruh negatif yang terpaksa teljadi karena proyek itu, yang pemecahannya dilakukan bekerja sama dengan berbagai pihak.

Luas daerah yang dibebaskan untuk daerah genangan pada elevasi 645 meter kurang lebih 5.832 hektar, meliputi bagian-bagian dan 6 kecamatan dan 35 desa di Kabupaten Bandung. Kecuali itu di luar daerah genangan dibebaskan sekitar 718 hektar tanah untuk pembangunan konstruksi.

“Seluruhnya menelan biaya pembebasan sekitar Rp 54 milyar dan telah berhasil diselesaikan dengan baik,” katanya.

Dari daerah genangan seluruhnya dipindahkan sekitar 3.036 kk sedang dari luar daerah genangan yang terkena pengaruh proyek sekitar 9.043 kk. Sampai bulan Juli ini di antaranya telah dipindahkan 2.249 kk untuk transmigrasi, dan yang mengadakan pilihan pekerjaan sendiri diperkirakan 7.583 kk. (RA)

 

 

Jakarta, Kompas

Sumber : KOMPAS (19/07/1986) 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 689-691.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: