Agu 292017
 

PRESIDEN SOEHARTO PERTIMBANGKAN UNDANGAN PEMlERINTAH AUSTRALIA

 

 

Presiden Soeharto akan mempertimbangkan dengan serius serta mencari waktu yang tepat guna memenuhi undangan pemerintah Australia untuk berkunjung ke negara tersebut.

Kepala Negara mengemukakan hal itu ketika menerima Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Senator Gareth Evans, di Bina Graha kemarin.

Menlu Evans menjelaskan kepada para wartawan bahwa kunjungannya dimaksudkan untuk memperbaharui undangan bagi Presiden Soeharto dari pemerintah Australia untuk berkunjung ke “negeri kanguru” itu. Di samping itu Evans juga menyampaikan salam hormat dari Perdana Menteri dan Gubernur Jenderal untuk Kepala Negara RI.

Dalam kesempatan bertemu dengan Presiden Soeharto, Menlu Evans juga membahas masalah Timor Gap dan ditanggapi dengan positif oleh Presiden.

Masalah lain yang dibicarakan dengan Presiden, menurut Evans, adalah masalah Kamboja di mana Presiden Soeharto mengharapkan agar Australia dan Indonesia dalam dialognya dapat menyumbangkan pemikiran bagi penyelesaian masalah tersebut.

Pada kesempatan yangsama Evans mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan Indonesia dalam Expo ’88 di Brisbane yang baru lalu. Dalam membahas pertemuan para pengusaha Australia – Indonesia di Bali awal pekan ini, Evans menilai pertemuan itu akan membuka jalan bagi perkembangan hubungan dagang antara kedua negara.

Sementara itu di Departemen Luar Negeri, Pejambon, siang harinya Menlu Evans dan Menlu Alatas menandatangani pernyataan bersama tentang pengukuhan kesepakatan yang dicapai pada tingkat pejabat senior mengenai Zona Kerjasama di Timor Gap.

Kedua Menlu itu mempelajari dengan seksama rekomendasi dari pertemuan para pejabat senior kedua negara bulan lalu tentang pembentukan Zona tersebut di Timor Gap guna kerjasama eksplorasi dan eksploitasi minyak, serta prinsip­prinsip dasar yang akan mengatur Zona itu. Prinsip-prinsip tersebut sudah harus dihasilkan dalam persetujuan yang akan dicapai dalam setahun.

Kedua Menteri yakin pembentukan Zona itu akan mempererat hubungan kedua negara.

Evans Puas

Dalam acara konperensi pers yang diadakan setelah penandatanganan, Menlu Evans menyatakan kepuasannya atas penjelasan Alatas tentang kematian seorang warga Australia di kepulauan Serui, Irian Jaya.

Pemerintah Australia menuduh bahwa polisi Indonesia telah menembak mati seorang warga Australia, David Blenkinsop, yang bersama pacarnya yang sedang hamil memasuki perairan Indonesia.

Menlu Alatas dalam penjelasannya kepada wartawan mengatakan bahwa proses interogasi terhadap tertuduh baru saja selesai dan kasusnya sekarang sudah diserahkan kepada penuntut umum.

“Menurut hukum Indonesia, penuntut umum akan menyerahkan kasusnya ke pengadilan,” kata Alatas.

Menlu Evans mengatakan, “Bagi Australia yang penting adalah ditegakkannya hukum terhadap yang bertanggungjawab melalui penyelidikan, peradilan, dan proseduryang layak”.

Nelayan Tradisional

Mengenai nelayan tradisional (Indonesia) yang sering menangkap ikan diperairan Australia, Alatas mengatakan Indonesia sudah membicarakan dengan pihak Australia bahwa Indonesia ingin agar para nelayan diberikan informasi tentang hukum yang berlaku.

Penyebab terbesar mungkin adalah karena para nelayan tidak tahu persis di mana mereka boleh atau tidak boleh menangkap ikan, ikan apa yang boleh atau tidak boleh ditangkap, kata Alatas.

Pada tingkat selanjutnya, kata Alatas, usaha harus ditujukan bagaimana mencegah agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi pada masa mendatang dengan meningkatkan mekanisme kelembagaan koordinasi.

Optimis

Menlu Alatas menganggap ada perlunya untuk meningkatkan hubungan kedua negara melalui jalur “orang ke orang” (people to people), karena sumber kesalahpahaman di masa lalu adalah perbedaan kultur kedua negara. Menlu RI itu mengatakan optimis hubungan kedua negara akan semakin erat pada masa yang akan datang.

Ketika wartawan Australia menanyakan kapan mereka bisa meliput Indonesia di luar kunjungan Menlu Evans ini, Alatas menjawab, “Mari kita berjalan selangkah demi selangkah. Kami ingin mengucapkan selamat datang pada kenyataan bahwa kalian semua sekarang ada di Indonesia.”

Alatas berjanji akan memperhatikan imbauan wartawan Australia itu agar kunjungan kali ini diikuti oleh kunjungan lain pada masa mendatang.

Di Pejambon, Menlu Evans mengatakan bahwa ketika bertemu Presiden Soeharto ia juga membicarakan proyek digital telekomunikasi kedua di mana pengusaha Australia ikut dalam tendernya. (RA)

 

 

Jakarta, Pelita

Sumber : PELITA (28/10/1988)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 280-282.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: