Agu 072017
 

PRESIDEN SOEHARTO : PENILAIAN YANG JUJUR MERUPAKAN KUNCI KEBERHASILAN LEBIH BESAR

 

Presiden Soeharto mengajak para petani menilai pengalaman bersama selama ini. Penilaian itu, kata Kepala Negara hendaknya dilakukan secara jujur, baik mengenai kelemahan yang masih ada maupun kekuatan yang dapat dihimpun, serta kesulitan-kesulitan yang dirasakan serta keberhasilan yang dinikmati.

Ajakan ini secara khusus disampaikan Presiden kepada petani dan nelayan yang mengikuti Pekan Nasional ke-6 Pertemuan Kontak tani­ Nelayan Selasa kemarin yang dirangkaikan dengan puncak Peringatan Hari Krida Pertanian ke-14 yang dipusatkan di Desa Marihat Bandar, Simalungun, Sumatera Utara.

“Penilaian yang jujur itu perlu, sebab pada akhirnya dari penilaian atas pengalaman bersama itulah terletak kunci keberhasilan yang lebih besar di masa datang,” ujar Presiden dan pada keberhasilan itulah, menurut Kepala Negara, terletak kemajuan dan kesejahteraan kaum tani Indonesia beserta keluarganya.

Untuk Afrika

Sebelum pembukaan Pekan Nasional ke-6 Pertemuan Kontak tani ­ Nelayan oleh Presiden, dua orang petani Indonesia menyerahkan sumbangan tahap pertama sebesar 4,5 juta dollar AS dari para petani dan nelayan Indonesia kepada Dirjen FAO, Dr. Edouard Saouma, untuk rakyat di Afrika yang sedang menderita kekurangan pangan. Sumbangan yang seluruhnya akan bernilai Rp 17,5 milyar ekuivalen 100.150 ton beras itu, dijanjikan para petani dan nelayan Indonesia pada sidang peringatan 40 Tahun FAO di bulan Nopember tahun lalu.

Mengenai pemberian sumbangan ini, Presiden Soeharto mengatakan, karena bangsa Indonesia pun pernah secara langsung merasakan apa arti kekurangan pangan.

“Sebagai bangsa yang pernah menjadi pengimpor beras terbesar di dunia, kita pernah merasakan apa arti keterbelakangan di bidang pertanian. Di tahun-tahun sangat sulit yang telah lama lewat, kita pun secara langsung merasakan apa arti kekurangan pangan.”

Pengalaman-pengalaman pedih masa lalu itulah yang telah menggugah dan membangkitkan perasaan setia-kawan dari berjuta-juta petani Indonesia kepada rekan-rekannya sesama petani dan sesama manusia di beberapa bagian Benua Afrika yang masih menderita karena kekurangan pangan.

Lebih jauh Kepala Negara mengemukakan, sumbangan itu juga mencenninkan kemampuan petani-petani Indonesia dalam berorganisasi melalui kelompok tani-nelayan.

Perlu Kerja Keras

Presiden Soeharto mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala keberhasilan di bidang pertanian yang telah diperoleh bangsa Indonesia saat ini, khususnya di bidang swasembada beras. Keberhasilan itu, menurut Kepala Negara, mempakan hasil perjuangan yang sangat panjang dan hasil kerja keras yang luar biasa.

Namun Kepala Negara juga mengingatkan, keberhasilan yang dicapai sekarang baru mempakan sukses awal. Kita perlu bekerja lebih keras lagi agar di masa yang akan datang meraih sukses-sukses yang lebih besar.

Diingatkan, swasembada beras yang telah dicapai, bukan saja harus dipertahankan dan dimantapkan, melainkan masih harus disusul dengan sukses-sukses lain di bidang pertanian dalam arti luas, di bidang palawija, buah-buahan, di bidang perikanan darat dan laut, petemakan, perkebunan, kehutanan dan sebagainya.

“Rasa syukur kita yang sangat dalam karena sukses swasembada beras sama sekali tidak boleh membuat kita lengah dan puas diri. Perjalanan kita dalam membangun bidang pertanian masih akan panjang dan ujian-ujian masih harus kita lalui.”

Dalam usaha memantapkan, melanjutkan, meningkatkan dan memperluas pembangunan pertanian dalam arti yang luas itulah terletak arti penting Pekan Nasional Pertemuan Kontak tani-Nelayan.

Dalam kerja keras itu, kata Presiden selanjutnya, perlu adanya kerja sama berbagai pihak yang saling membutuhkan.

“Memang sesungguhnyalah, pembangunan hanya akan berhasil jika semua lapisan, semua golongan dan semua generasi bangsa kita bekerja keras bahu-membahu dan isi-mengisi secara serasi. Pembangunan hanya akan berhasil jika semua lapisan, semua golongan dan semua generasi bangsa ini memberikan sumbangan secara aktif dan kreatif,” ujar Kepala Negara.

Sementara itu Dirjen FAO, Edouard Saouma, dalam sambutannya menyatakan rasa salut kepada Presiden Soeharto yang berhasil memajukan bangsa Indonesia di bidang pertanian dari negara pengimpor beras menjadi negara swasembada.

“Inilah pertama kali dunia menyaksikan petani menyumbang petani. Ini suatu simbol kemajuan pertanian dan pembangunan pemerintahan dari ketja keras puluhan juta petani Indonesia,” kata Saouma lantang.

Perlu Diperhatikan

Seusai peresmian Penas VI KTN, Presiden dan Ny. Tien Soeharto didampingi Mentan Affandi, Gubernur Sumut Kaharudin Nasution dan Bupati JP Silitonga bertemu wicara dengan 31 orang yang mewakili sekitar 3700 peserta dari 27 propinsi termasuk 12petani ASEAN.

Presiden saat itu mengingatkan ancaman pertambahan penduduk dan produksi beras di Indonesia perlu diperhatikan. Diakui Kepala Negara, Indonesia sampai tahun 2000 masih bisa mempertahankan swasembada pangan dan beras.

Ini mengingat stok beras dalam 2 tahun ini (1985 dan 1986) 5 juta ton. Tapi melihat pertambahan penduduk Indonesia per tahun 2.3 juta jiwa, itu berarti paling sedikit 500.000 ton beras kebutuhan mereka. (RA)

 

 

Simalungun, Kompas

Sumber : KOMPAS (23/07/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 693-696.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: