Presiden Soeharto : MENINGGALKAN HUTAN RUSAK, DOSA BESAR

Presiden Soeharto : MENINGGALKAN HUTAN RUSAK, DOSA BESAR[1]

Bogor, Kompas

Dosa besar jika tinggalkan hutan-hutan rusak, demikian kata Presiden Soeharto dalam sambutan pemberangkatan Tim Eksplorasi Flora KR (Kebun Raya) 1995 hari Senin (22/5). Tim ini dibentuk dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-50 Proklamasi Kemerdekaan R.I.

Presiden menyerahkan panji-panji Gorol KR kepada Kepala KR Bogor Dr Ir Suhinnan selaku ketua tim. Sementara Nyonya Tien Soeharto menyerahkan obat­ obatan. Acara ini antara lain dihadiri Mendikbud Wardiman Djojonegoro.

Bagi Presiden, konservasi hutan merupakan tugas penting Balai Pengembangan Kebun Raya. Dalam kaitan ini, ditandaskannya,

“Kekayaan flora kita adalah kekayaan nasional kita. Namun, kekayaan flora itu juga merupakan warisan umat manusia secara keseluruhan. Dengan memelihara kelestarian flora kita, maka kita te1ah ikut menyelamatkan kekayaan nasional dan kekayaan umat manusia.”

Sehubungan dengan eksplorasi ini, Presiden menyuarakan, tanah air kita memiliki kekayaan flora yang tidak ternilai harganya. Sebagian dari jenis-jenis flora itu telah diketahui manfaatnya. Sebagian lagi, namanya belum ada dan jenisnya belum diketahui, apalagi manfaatnya.

“Karena itu kegiatan Tim Eksplorasi ini sangat penting bagi bangsa kita, bagi ilmu pengetahuan dan bagi umat manusia di masa sekarang maupun di masa  mendatang.”  tandasnya.

Belum Banyak Meneliti

Hutan-hutan kita mempunyai kekayaan flora berlimpah. Namun  harus diakui, belum banyak penelitian dilakukan untuk memanfaatkan kekayaan flora itu. Padahal, dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, bioteknologi dan industri dewasa ini, kekayaan flora itu dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan-bahan baru bagi kehidupan manusia, seperti bahan pangan, obat-obatan, serat dan bahkan untuk pengembangan  energi altematif di masa depan.

“Tanpa pemahaman yang mendalam tentang manfaat dari kekayaan hutan itu, maka kekayaan itu hanya akan menjadi sia-sia dan telantar. Karena itu, kita harus lebih banyak mempelajari dan meningkatkan penelitian mengenai pemanfaatan flora kita.” tegas Presiden Soeharto.

Presiden juga mengungkapkan, tugas mengkonservasi flora bukanlah tugas yang sederhana dan mudah. Dari waktu ke waktu, pemerintah terus berupaya memperluas lahan konservasi dengan menyediakan biaya dan tenaga yang tidak sedikit jumlahnya.

Ditambahkannya dewasa ini kita memiliki 4 buah kebun raya, juga memiliki 374 kawasan konservasi hutan, termasuk 23 kawasan konservasi laut. Lahan konservasi darat kita seluas 16 juta hektar dan kawasan konservasi laut seluas 2 juta hektar. Dapat dibayangkan betapa berat tugas untuk mengamankan dan memeliharanya.

Sehubungan dengan era tinggal landas, Presiden Soeharto menandaskan perlunya tekad memperkuat kemandirian, termasuk dalam lapangan ilmu pengetahuan. Arrinya, di masa depan penemuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan flora yang kita miliki tidak hanya datang dari ilmuwan asing, tetapi juga ilmuwan bangsa sendiri.

“Kita adalah bangsa yang serasi dan akrab dengan alam lingkungan. Karena itu, kita juga dambakan munculnya ilmuwan bangsa Indonesia yang menegakkan nama dengan memperkaya pengetahuan mengenai Tanah Airnya sendiri.” demikian tambahnya.

Harus Bertanggung  Jawab

Lebih lanjut, Presiden mengimbau untuk menunjukkan kecintaan pada tanah air dengan menyelamatkan berbagai jenis flora dari kemusnahan. Untuk itu antara lain harus memantau dan mengendalikan kegiatan-kegiatan perladangan berpindah yang dilakukan oleh sebagian penduduk  Indonesia di daerah pedalaman.

“Mereka perlu dibimbing agar dapat bertani dengan cara-cara yang lebih baik, sehingga tidak merusak lingkungan. Kita juga harus mencegah penebangan hutan secara tidak bertanggung jawab, yang akhirnya akan merusak keseimbangan ekosistem di dalam alam. Dari tempat ini, untuk kesekian kalinya, saya serukan kepada semua pengusaha pemegang HPH, agar memenuhi segala kewajibannya untuk ikut serta memelihara kelestarian hutan.” tegas Presiden Soeharto.

Sementara Ketua LIPI Dr. H.Soefjan Tsauri dalarn sarnbutannya rnengemukakan, 18 Mei lalu KR Bogar genap berusia 178 tahun. Dalam usianya itu, KRB makin menunjukkan kesiagaan untuk kegiatan yang makin berat, bahkan dalam beberapa hal menampakkan pula semangat kepeloporan.

“Dengan akan berangkatnya tim eksplorasi besar, yang melibatkan hampir 100 orang, dapat dilihat bahwa semangat kepeloporan itu masih berkobar di dada karyawan KR. Semangat ini penting sekali mengingat KR sebagai salah satu ujung tombak LIPI, khususnya dalam penelitian serta konservasi flora Indonesia.”

Sementara itu, Wakil Gubernur Jabar HM Sampoerna membacakan sambutan Gubernur Jabar Nuriana, sedangkan Kepala KRB Dr Ir Suhirman secara singkat menyampaikan laporan kepada Presiden Soeharto tentang sasaran kegiatan yang dilakukan. Usai memberangkatkan tim eksplorasi, Presiden dan Nyonya Tien Soeharto menuju tempat ekspose tanaman hasil eksplorasi 1991-1995 di halaman depan Kantor KR Bogar.

Sumber : KOMPAS (23/05/1995)

_______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 638-640.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: