Jan 192018
 

PRESIDEN SOEHARTO MENERIMA KUNJUNGAN WALl KOTA E. KOCH

 

 

New York, Sinar Harapan

Presiden Soeharto Rabu petang menerima kunjungan kehormatan Wali Kota New York, E. Koch, di Hotel Plaza, tempat Kepala Negara Indonesia dan rombongan menginap.

Wali Kota New York mengucapkan selamat datang dan menyerahkan kristal yang merupakan lambang kota ini, sementara Presiden Soeharto menyerahkan sebuah lukisan Bali sebagai kenang-kenangan.

Kunjungan kehormatan yang berlangsung hanya setengah jam itu tertunda tiga jam dan merupakan acara pertama Kepala Negara RI setelah bersama rombongan tiba di kota ini Rabu siang. Kunjungan Kepala Negara adalah dalam rangka penerimaan penghargaan kependudukan dari UNFPA (Lembaga PBB untuk Dana Kependudukan) yang akan berlangsung Kamis (Jumat WIB) petang di Markas Besar PBB di New York dan esok harinya mengadakan pertemuan dengan Presiden AS George Bush di Washington DC.

Kepala Negara dan rombongan yang menggunakan pesawat DC-10 Garuda dari Jenewa, Swiss tiba pukul 11 10 pagi waktu setempat di hanggar 14 Panam, bandar udara internasional John F. Kennedy. Cuaca mendung dengan temperatur sekitar 20 derajat Celcius serta hujan rintik-rintik mewarnai penyambutan yang sederhana ini, demikian laporan wartawan Pembaruan Bachtiar Sitanggang dan Moxa Nadeak dari New York.

Di tangga pesawat Presiden dan Ibu Soeharto disambut oleh Duta Besar/Wakil Tetap RI untuk PBB Nana Sutresna dan seorang gadis Cilik, Mira Widoda menyerahkan buket untuk Ibu Soeharto.

Di pinggir permadani merah yang panjangnya tidak lebih dari 20 meter, turut menyambut Kepala Negara, Dubes Rl untuk AS, dan Nyonya A. Ramli yang tiba Rabu pagi dari Washington DC, Dubes AS untuk Indonesia John C. Monjo dan para pejabat Perutusan Tetap RI untuk PBB yang menjadi “tuan rumah” kunjungan Kepala Negara ini.

Setelah penyambutan yang sederhana ini dan hanya dihadiri kurang lebih 70 orang kecuali rombongan, Kepala Negara dan Dubes Nana Sutresna memasuki limousine yang sudah disiapkan dan lbu Soeharto bersama Ny. Nana Sutresna memasuki mobil lain, langsung menuju Hotel Plaza.

Mengomentari hujan gerimis yang turun pagi itu, sebelum rombongan Kepala Negara tiba, Dubes AS yang baru untuk Indonesia Monjo, yang cukup fasih berbahasa Indonesia mengatakan “Saya masih ingat di Indonesia ada pawang hujan”.

 

Pujian

Sementara itu Werner Fornos, presiden Institut Kependudukan yang berpusat di Washington DC sangat memuji-memuji keberhasilan Indonesia dan peranan Presiden Soeharto dalam program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia, demikian laporan wartawan Pembaruan Jennifer Mandagie dari New York.

Dalam suatu upacara pemberian penghargaan di Markas PBB, Fornos yang didampingi Kepala BKKBN Dr. Haryono Suyono, mengatakan, Indonesia merupakan negara yang unik karena sebagai negara berkembang dapat mengendalikan laju perkembangan penduduk dalam kurun waktu 19 tahun belakangan ini, hanya dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi antara lain seperti IUD, kondom dan susuk yang disisipkan di lengan.

Pemberian penghargaan berupa Global Media Award dilakukan oleh Fornos kepada kolumnis terbaik dalam rangka penulisan masalah KB kepada Pranay Grupte dari Newsweek International. Ia tidak hadir pada upacara penyerahan penghargaan itu bulan Desember tahun lalu di Istana Negara Jakarta, ketika Presiden Soeharto menyerahkan penghargaan serupa bagi sejumlah kolumnis.

Pada kesempatan itu juga Fomos memperkenalkan wartawati Noesrein dari majalah Femina (Indonesia), penerima Population Award bulan Desember tahun lalu. Ia mengunjungi AS sebagai hadiah dari lembaga atau institut kependudukan tersebut.

Fornos mengatakan pula, keunikan Indonesia dibuktikan, karena negara itu bukanlah negara maju seperti AS dengan isu abortusnya, namun dengan kesadaran sendiri menekan laju penduduk. Dalam kaitan ini ia sangat menghargai peranan Presiden Soeharto karena komitmennya yang tinggi terhadap masalah kependudukan di negerinya. Selain itu, Presiden Soeharto dikatakannya mempunyai motivasi yang tinggi menyadarkan masyarakat akan arti penting masalah kependudukan terutama dalam penyampaian pesan bagi generasi muda.

Menurut Fornos, untuk usaha dan peran Presiden Soeharto itu, patutlah ia mendapatkan penghargaan yang tinggi dari UNFPA. “It’s a miracle”, (sungguh mukjizat), katanya memuji keberhasilan Indonesia itu.

 

 

Sumber : SINAR HARAPAN (08/06/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 189-191.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: