Mei 302018
 

PRESIDEN SOEHARTO MEMBAWA BLUE PRINTUNTUK TATANAN DUNIA BARU[1]

Jakarta, Suara Pembaruan

PUTRA terbaik Indonesia tersebut berdiri di depan forum dunia Perserikatan Bangsa-bangsa di New York, untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Dunia Ketiga sebagai hasil Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok di Jakarta.

Mulai bagian pertama pidatonya Presiden Soeharto tidak punya pretensi ingin mempromosikan Indonesia dan sejuta kemajuan yang dicapai pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinannya.

“Menjadi kewajiban bagi saya untuk menyampaikan pesan dari negara-negara berkembang yang bergabung dalam GNB…. saya berbicara bukan saja atas nama 180 juta rakyat Indonesia, tetapi juga atas nama GNB yang beranggotakan 108 negara dan yang mewakili bagian terbesar umat manusia, serta hampir dua pertiga keanggotaan Majelis Umum PBB.”

Dalam pidato sepanjang 11 halaman lebih Kepala Negara RI yang untuk jangka waktu tiga tahun mendatang menjabat sebagai Ketua GNB, tidak lagi menyebut mengenai Indonesia, tetapi Dunia Ketiga yang sedang membangun untuk memperbaiki nasibnya.

Soeharto memang tidak perlu berdiri di forum dunia yang mewakili 178 negara untuk mempromosikan negaranya. Badan dunia tersebut sudah mengenal arsitek Orde Baru yang berhasil membimbing bangsanya menuju berbagai keberhasilan pembangunan. Badan dunia PBB-lah yang sudah mengakui berbagai keberhasilannya ketika tahun 1985 badan PBB untuk urusan pangan dan pertanian FAO (Food and Agriculture) menganugerahkan penghargaan atas keberhasilan Indonesia beranjak dari negara pengimpor beras terbesar di dunia, menjadi negara yang swasembada pangan. PBB pula yang tahun 1989 menganugerahkan Population Award kepada Presiden Soeharto atas keberhasilan Indonesia dalam keluarga berencana.

Atas keberhasilan yang sama, dua lembaga bukan PBB juga memberikan penghargaan kepada Kepala Negara RI. Keberhasilan dalam keluarga berencana malah tertuang dalam uang logam di atas mana muka Presiden Soeharto tertera sepanjang masa.

Kehadiran Presiden Soeharto di depan forum PBB yang sudah pernah dikunjunginya beberapa kali sebelumnya adalah untuk berbagi keberhasilan Indonesia dalam pembangunan tersebut. Setelah kembali dari KTT GNB di Lusaka, Zambia, tahun 1972, di mana banyak negara yang masih suka retorik ketimbang membangun menampiknya, bukankah Soeharto bertekad untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa kebijakan yang diambil Orde Baru adalah tepat. Memang, tampil di panggung internasional tidaklah gampang, tanpa bobot. Lihat saja Rusia yang bukan super power lagi. Tetapi Soeharto sekarang sudah bisa tampil di forum mana pun di dunia, mengatasnamakan dan membawa suara Dunia Ketiga, suara negara­ negara Selatan.

“Blue Print”

Bukan secara kebetulan 31 tahun yang lalu pada persidangan umum tahun 1961, seorang putra Indonesia juga tampil di depan Majelis yang mulia di New York tersebut, dan berbicara lantang mengenai impiannya untuk membangun tatanan dunia yang baru Tiga puluh satu tahun lalu Presiden Soekarno tampil denganjudul pidato: “To Build the World A New”. Tiga puluh satu tahun kemudian Soeharto tampil di depan majelis yang sama. Ia membawa blueprint untuk tatanan dunia baru.

Ada orang pintar di Indonesia yang mengatakan Pancasila lebih tinggi dari DecLaration of Independence Amerika di mana salah satu silanya menyebutkan mengenai kebebasan topursuit happiness. Tetapi dalam sila kelima Pancasila keadilan sosial dihantarkah kepada masyarakat melalui pembangunan masyarakat adil dan makmur. Jadi bukan hanya kebebasan mengejar kebahagiaan saja. Apa kita perlu heran delegasi Amerika pada pertemuan Komisi Hak-hak Asasi Manusia di Jenewa Mei tahun lalu, merupakan satu-satunya delegasi yang tidak menyetujui bahwa hak membangun merupakan salah satu hak asasi manusia?

Oleh karena itu adalah hati nurani mayoritas manusia juga yang disuarakan Presiden Soeharto waktu di depan Majelis Umum PBB ia berkata

“Dengan ini kami menegaskan hak asasi setiap manusia perorangan maupun bangsa untuk melaksanakan pembangunan, meraih kemajuan sosial dan berperan serta dalam menentukan masa depan bersama umat manusia.”

Bagi Soeharto, yang membawa suara Selatan, sudah waktunya Selatan tidak bersikap sebagai penonton belaka atau membiarkan diri dikesampingkan dalam arus perubahan bersejarah yang melanda dunia. Kesempatan langka yang disebutnya sebagai kesempatan langka, oleh karena itu harus direbut dan dipergunakan Utara maupun Selatan dengan sebaik-baiknya.

Sejak dari mula yang retorik memang sudah sirna. Majelis yang mulia di PBB jika menyadari rupanya hal tersebut. Dengan sopan setiap anggota delegasi mendengarkan pidato Presiden hanya bertepuk pada bagian terakhir. Memang Ketua GNB juga seolah mengingatkan audience ketika ia berkata:

“Pesan Jakarta hendaknya jangan hanya dicari dalam pidato-pidato kami, tetapi dalam karya nyata GNB di hari-hari yang akan datang”.

Apa blue print tatanan dunia baru tersebut? Secara umum, yang bebas, dari perang dan kemiskinan, intoleransi dan ketidakadilan; yang berlandaskan atas prinsip­ prinsip hidup berdampingan secara damai dan saling ketergantungan yang sejati; tatanan yang sepenuhnya menghargai keanekaragaman sistem sosial dan budaya di dunia.

Lalu Soeharto memasukkan  konsep yang telah membawa Indonesia menuju berbagai keberhasilan dalam pembangunan. Apabila perbincangan internasional kata Presiden RI dimaksudkan untuk mengembangkan saling pengertian mengenai konsep yang mendorong penyelesaian yang dihadapi dunia dewasa ini, maka Trilogi Pembangunan akan merupakan cara yang sederhana dan efektif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi manusia dalam berbagai segi kehidupannya. Di depan 400 orang wakil-wakil perusahaan raksasa Amerika, Kepala Negara mengemukakan kemitraan global tidak bisa terbayangkan terkecuali dengan tekad untuk membagi secara merata hasil dari tanggung jawab pembangunan ekonomi pada tingkat global.

“Indonesia merasa yakin Trilogi Pembangunan bisa dilaksanakan demi untuk kebaikan umat manusia,” kata Kepala Negara.

Blue print tanpa dana bisa tinggal retorik belaka. Tetapi Soeharto berkata:

“Gerakan kami senantiasa berpendapat bahwa sumber daya yang disisihkan, dari proses perlucutan dan pengurangan persenjataan hendaknya dialihkan kepada upaya pembangunan sosial ekonomi semua negara. Dalam perjalanan kembali ke tanah air dari New York dan Jepang, Presiden masih menunjuk pada putusan KTT Rio mengenai komitmen negara-negara maju untuk menyisihkan 07 dari GNP mereka untuk pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang.

Imbauan

Cooperation and confrontation sudah merupakan slogan di dunia yang saling tergantung. Seperti dikatakan Soeharto, disadari GNB bahwa masalah-masalah global kini saling berkait, terutama di bidang ekonomi. Hampir seluruh permasalahan dewasa ini bersifat global. Penyelesaiannya tidak bisa hanya yang bersifat sementara atau bersifat tambal sulam. Oleh karena itu Soeharto mengusulkan sudah waktunya bagi Utara dan Selatan untuk menumbuhkan kesepakatan baru mengenai pembangunan dan menggalang kemitraan demokratis dalam merumuskan penyelesaian global terhadap masalah-masalah global. Dalam kata lain menghidupkan kembali dialog Utara Selatan.

“Karena jelas kiranya berhasilnya peningkatan kerja sama ekonomi diantara negara-negara berkembang pada giliranya akan lebih menggairahkan pertumbuhan dan perluasan ekonomi dunia secara keseluruhan.” Ini imbauan Soeharto di depan Persidangan Majelis PBB.

Beberapa wakil anggota PBB yang dihubungi penulis di Markas Besar PBB setelah mereka mendengar pidato Presiden Soeharto mengemukakan berbagai forum yang bisa dimanfaatkan untuk memulai dialog Utara-Selatan. Tetapi setelah kernbali dari KTT Rio tampaknya Presiden Soeharto semakin bertekad bahwa dialog tersebut harus dilaksanakan di bawah naungan PBB. Dengar saja apa yang ia katakan di depan Majelis PBB:

“Bagi negara-negara Non-Blok suatu tatanan dunia baru hanya akan tangguh dan dapat diterima oleh semua bila didirikan atas dasar pengakuan bahwa PBB merupakan unsur pokoknya dan kerangka universalnya. Serta bila tatanan tersebut sepenuhnya berakar pada prinsip-prinsip dasar Piagam PBB”

Karena tatanan baru yang ingin dicapai melalui dialog dan kerja sama baru dapat diwujudkan atas dasar universalitas sejati, yang dapat menjamin keserasian, perdamaian, keadilan dan kemakmuran bagi semua.

Sehubungan dengan pandangan di atas itulah GNB berketetapan hati untuk memainkan peran aktif dan konstruktif dalam usaha revitalisasi, restrukturisasi dan demokratisasi sistem PBB. Kelompok kerja tingkat tinggi dengan tugas merumuskan usul-usul kongkret restrukturisasi badan dunia tersebut yang sudah dibentuk GNB memperlihatkan bagaimana seriusnya tekad mereka. Rincian pandangan bagaimana Dewan Keamanan harus mewakili seluruh dunia dari berbagai kelompok yang merupakan realita zaman sekarang, tidak pada zaman pasca perang dunia kedua, 47 tahun yang lalu.

Tetapi bagaimana Soeharto akan menggiring GNB yang beranggotakan 108 negara tersebut untuk mencapai apa yang tertera dalarn blue print KTT Jakarta? Ada judullagu bahasa Inggris beijudul I ll do it my way. Itulah Soeharto, putra terbaik dari Indonesia.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (31/10/1992)

______________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 421-424.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: