Apr 302017
 

PRESIDEN SOEHARTO: MEMBANGUN DENGAN BIAYA DAN CORAK PRIBADI SENDIRI

Presiden Soeharto, Kamis pagi, menyerukan kepada anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk sebaiknya membangun negaranya menurut biaya dan corak kepribadian sendiri. Dan memang pengalaman menunjukkan, tidak ada satu model pembangunan pun yang cocok untuk semua bangsa.

Ini perlu karena ekonomi dunia yang sampai zaman ini didominasi oleh gaya dan corak masyarakat industri maju, ternyata mengalami banyak kelemahan struktural yang kini akibat-akibat buruknya melanda seluruh dunia dalam wujud keadaan ekonomi yang serba tidak menentu.

Ketika menerima 168 orang peserta Kongres Perhimpunan Perencanaan Perumahan ASEAN yang diantar Menmud Drs. Cosmas Batubara di Istana Negara, Presiden menekankan dari pengalaman itu sebaiknya kita dapat belajar dari kesalahan dan kelemahan masyarakat industri maju.

"Sehingga kita dapat menghindarkan diri dari akibat-akibat samping yang buruk yang dilahirkan oleh gaya dan corak pembangunan mereka," tambah Presiden.

Diikemukakan sebagai negara yang sedang membangun yang sudah bersatu dalam ASEAN, tukar menukar pendapat dan pengalaman perlu terus dilakukan.

Ini penting karena masalah dan prioritas nasional masing-masing negara dapat berbeda dan mungkin ada yang berhasil baik dilaksanakan di Indonesia tapi belum tentu hasilnya sama kalau dilaksanakan di luar Indonesia, demikian sebaliknya.

"Namun bagaimanapun juga dengan tukar menukar pikiran dan pengalaman, saya percaya kita pasti akan mendapatkan sesuatu pikiran dan data yang lebih baik lagi," berkata Presiden.

Perumahan

Menyinggung pembangunan perumahan Indonesia, Presiden Soeharto mengatakan diletakkan sebagai bagian dari keseluruhan pembangunan nasional.

Sasarannya dalam memperbanyak pembangunan perumahan yang menjamin kesehatan dan kesejahteraan keluarga yang harganya terjangkau masyarakat banyak, peningkatan produksi bahan bangunan murah secara massal dan terbuat dari bahan dalam negeri, memperluas kesempatan kerja, memperbaiki lingkungan hidup, perbaikan kampung dan pedesaan.

Sekitar perhimpunan itu yang lahir dari "ASEAN Concord" yang ditandatangani di Bali hampir 6 tahun yang lalu, Presiden menyatakan perlu didewasakan dan dimanfaatkan bersama.

Kongres yang berlangsung dari 7-10 Desember 1981 di Jakarta itu memilih Ketua Umum Ir. Sardjono dari Indonesia dan Sekjen Jaime A. Cure dari Filipina (DTS)

Jakarta, Sinar Harapan

Sumber: SINAR HARAPAN (10/12/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 310-311.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: