Apr 142017
 

PRESIDEN SOEHARTO: MASYARAKAT PANCASILA HARUS BEKERJA KERAS DAN PUNYA KESADARAN SOSIAL TINGGI

Masyarakat Pancasila harus sanggup bekerja keras, hemat, sederhana, bertenggang rasa dan punya kesadaran sosial yang tinggi. Demikian dikemukakan Presiden Soeharto dalam sambutannya ketika membuka musyawarah kerja nasional Pembimbing Sosial Masyarakat, Karang Taruna dan Partisipasi Sosial Masyarakat di Istana Negara kemarin pagi.

Hal tersebut merupakan nilai yang terkandung dalam Pancasila karena itu perlu disebarkan di dalam masyarakat, kita, karena kita ingin membentuk manusia-manusia Pancasila.

Masyarakat Pancasila bercirikan keserasian, keselarasan dan keseimbangan, karena itu kesadaran dan kesetiakawanan harus merupakan faktor yang sangat penting. Masyarakat Pancasila tidak membiarkan ada dan terciptanya jurang pemisah antara mereka yang berpunya dan tak berpunya, antara yang kuat dan yang lemah.

"Inilah yang kita usahakan dengan pembangunan Nasional sekarang," kata Presiden.

Dalam pembangunan yang kini memasuki repelita III telah dicapai banyak kemajuan, meskipun demikian kita tidak menutup mata terhadap masih banyaknya masalah diberbagai biang kehidupan masyarakat yang memerlukan perhatian dan penanganan.

Untuk melaksanakan pembangunan, kita harus mengerahkan dan mengarahkan keikutsertaan segenap lapisan dan golongan dalam masyarakat, demikian Presiden.

Pengabdi Masyarakat

"Pekerja sosial adalah pengabdi masyarakat dan pengabdi kemanusiaan. Menjadi seorang pekerja sosial mestilah mempunyai idealisme kerakyatan yang tinggi dan ketrampilan kerja yang memadai. Tanpa idealisme kerakyatan, ia tidak akan betah dengan pekerjaan sosial, dan tanpa ketrampilan kerja ia tidak akan dapat berbuat banyak untuk membantu masyarakat mengatasi dan memecahkan persoalan­persoalan mereka,” kata KepalaNegara.

Sikap dan idealisme kerakyatan sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, yang harus kita hayati dan amalkan dalam kehidupan sehati-hari. Sikap yang demikian juga mesti dihayati manusia-manusia pembangunan, karena dengan pembangunan kita bercita­cita melahirkan manusia Pancasila dan masyarakat Pancasila.

Generasi Muda

Generasi muda merupakan salah satu potensi yang diperlukan dalam pembangunan. Mereka memiliki kesegaran pikiran, kesigapan gerak dan wawasan tentang masa depan yang lebih terbuka. Semua ini harus disalurkan sebaik-baiknya. Dalam hubungan ini, demikian Presiden.

Karang Taruna dapat berfungsi sebagai saluran dinamika generasi muda dalam menggairahkan pembangunan kita.

"Dengan memberikan tempat seluas-Iuasnya pada partisipasi generasi muda dalam kerja-kerja sosial, saya yakin usaha-usaha kita akan lebih memberikan harapan pada masyarakat," kata Presiden.

Dipusatkan di Malang

Menteri Sosial Sapardjo dalam laporannya mengatakan, musyawarah kerja nasional tersebut diikuti 296 peserta dari 27 propinsi. Mereka adalah anggota Karang Taruna, Pembimbing Sosial Masyarakat dan Partisipasi Sosial Masyarakat.

Musyawarah yang dibuka di Jakarta itu, akan diteruskan di Malang dari 19 s/d 22 Desember. Selain musyawarah, mereka juga melakukan kegiatan-kegiatan seperti pameran pembangunan di bidang kesejateraan sosial, apel massal pekerja sosial, peresmian proyek-proyek pembangunan nasional di bidang kesejahteraan sosial.

Semua ini dilakukan di Malang, pada 20 Desember, di bawah pimpinan Wakil Presiden Adam Malik Dalam rangka musyawarah itu juga, mereka akan mengadakan penyuluhan sosial massal secara serentak di 12 kabupaten di Jawa Timur, dan karya bakti sosial di daerah-daerah tersebut. (DTS).

Jakarta, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (19/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 994-995.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: