Jul 102018
 

PRESIDEN SOEHARTO: MASUKNYA SWASTA TANPA ARAH MATIKAN USAHA TERNAK RAKYAT[1]

Bandarlampung, Kompas

Presiden Soeharto mengatakan, pemerintah memang memberi kesempatan kepada swasta untuk ikut mengembangkan usaha peternakan, tetapi keikutsertaan itu harus jelas arahnya agar peternak kecil tidak rugi.

“Jika swasta kita biarkan masuk tanpa arah dan tujuan yangjelas, maka hal itu dapat mematikan usaha peternakan rakyat,” kata Kepala Negara di Desa Batin, Jabung, Lampung Tengah, Sabtu (23/5) ketika meresmikan industri peternakan sapi potong milik PT. Tipperary Indonesia (Tippindo). Sekaligus melakukan panen nasional usaha penggemukan sapi pola PIR (Peternakan Inti Rakyat). Pola PIR antara lain dilakukan dengan model PIR Penggemukan, PIR Pakan Ternak, dan PIR Bakalan.

Perusahaan yang melaksanakan selain PT Tippindo, juga PT Great Giant Livestock Coy (GGLC) yang memiliki pabrik pengalengan nenas, serta PT. Hayumi Mas Lestari (HML). PT. Tippindo yang mengembangkan industri penggemukan sapi potong, bekerjasama dengan petani anggota KUD di daerah Lampung Tengah dalam hal penyediaan pakan ternak berupa tanaman jagung usia 75 hari. Bibit, obat­ obatan, dan pupuk disediakan PT. Tippindo yang merupakan bantuan kredit natura.

Ditegaskan oleh Presiden, arah yang harus ditempuh swasta jika ingin ikut bergerak dalam bidang petemakan adalah dengan melibatkan para peternak misalnya melakukan alih teknologi, membelikan bantuan pemasaran serta pemberian modal.

Pengusaha besar, menengah dan kecil harus bekerjasama secara erat karena mereka tidak mungkin bekerja sendiri-sendiri. Ketiganya saling memerlukan dan saling mengisi, kata Presiden yang didampingi Komisaris Utama Tippindo Aburizal Bakrie.

Berperanan Penting

Presiden Soeharto mengingatkan, bidang peternakan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup bangsa. Daging ternak mengandung protein hewani yang sangat penting bagi pertumbuhan, kesehatan dan kekuatan tubuh. Selain itu, kemajuan peternakan akan meningkatkan penghasi lan petani peternak.

Dengan berkembangnya peternakan sapi misalnya, maka produksi daging akan kita tingkatkan untuk memenuhi kebutuhan yang terus bertambah banyak. Bertambahnya konsumsi daging yang mengandung protein hewani akan dapat memperbaiki mutu gizi makanan rakyat. Dewasa ini,lanjut Presiden,usaha petemakan di Indonesia sebagian terbesar masih merupakan usaha peternakan rakyat. Ciri-ciri petemakan rakyat itu antara lain adalah ukuran usahanya kecil dilakukan sebagai usaha sambilan, teknologi yang diterapkan masih sangat sederhana sehingga produktivitasnya rendah dan mutunya kurang terjamin.

“Usaha semacam ini jelas sangat peka terhadap berbagai perubahan yang terjadi Karena itu, usaha peternakan rakyat ini perlu terus kita dorong agar makin maju. GBHN 1988 telah menggariskan agar kita terus meningkatkan jumlah ternak maupun mutu ternak. Perhatian khusus perlu diberikan kepada peternakan rakyat, dengan jalan meningkatkan, peranan koperasi dan usaha swasta, “kata Presiden menegaskan

Presiden mengharapkan kerja sama antara perusahaan besar dan petani peternak yang dilaksanakan di Lampung itu dapat terus berkembang, sehingga dapat menjadi contoh bagi usaha serupa di tempat-tempat lain.

Mampu Mengatasi

Pada bagian lain sambutannya, Presiden mengungkapkan, dalam kunjungannya ke daerah-daerah di Tanah Air selalu melihat dari dekat betapa rakyat kita bekerja keras memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk membangun dirinya, membangun daerahnya dan membangun masa depannya. Di daerah yang tanahnya subur dan irigasinya baik, rakyat bekerja keras meningkatkan produksi padi melalui intensifikasi. Hasilnya luar biasa, kita telah bertahun-tahun berhasil mencapai swasembada beras.

“Di daerah yang tanahnya cocok untuk perkebunan, rakyat berusaha keras meningkatkan hasil kebunnya, yang penting sebagai bahan baku industri dalam negeri maupun untuk kita ekspor. Di daerah pantai rakyat berjuang untuk memanfaatkan kekayaan laut sekitarnya. Di kota-kota rakyat bekerja keras untuk melaksanakan pembangunan di bidang masing-masing,” demikian Presiden.

Kita merasa bersyukur bahwa setelah hampir seperempat abad melaksanakan pembangunan kehidupan bangsa kita, khususnya kehidupan kaum tani, terus bertambah baik. Dewasa ini kita jarang sekali mendengar adanya daerah yang kekurangan pangan. Apabila sampai terjadi, kita pun akan mampu mengatasinya dengan cepat. Meskipun demikian kita juga menyadari bahwa banyak di antara kita yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Karena itulah kita akan terus bekerja keras melarutkan pembangunan yang telah menunjukkan hasil-hasil awal yang mengesankan.

Seusai peresmian Presiden didampingi Menteri Pertanian, Menteri Koperasi/ Kabulog, Gubernur Poedjono Pranyoto serta sejumlah pejabat tinggi, meninjau lokasi proyek penggemukan sapi potong PT.Tippindo.

Menurut Aburizal Bakrie, perusahaan penggemukan sapi potong itu merupakan perusahaan patungan dengan Australia. Pihak Indonesia memiliki 51 persen dan Australia 49 persen, yang dibangun dengan modal 25 juta dollar AS dengan bantuan sepenuhnya dari Bank Bumi Daya. Jumlah kapasitas perusahaan ini adalah 60.000 ekor/tahun. Sekitar 60 persen di antaranya akan diekspor. (Ant/barn/dar)

Sumber: KOMPAS (24/05/ 1992)

____________________________________________________________

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 522-524.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: