PRESIDEN SOEHARTO LANTIK 12 DUBES BARU

PRESIDEN SOEHARTO LANTIK 12 DUBES BARU

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto di Istana Negara Jakarta Sabtu melantik dan mengambil sumpah 12 duta besar luar biasa dan berkuasa penuh RI, termasuk Nona Petronella M. Luhulima SH untuk Kerajaan Swedia.

Para dubes itu adalah Prof Dr D.A. Tisna Arnidjaja (sebelumnya Ketua LIPI) untuk Perancis, Soekasah Somawidjaja (untukArab Saudi merangkap Oman dan Republik Arab Yaman ), Drs H. Dalindra Aman (Republik Kenya merangkap Seychelles), Drs Haringun Hardjotanojo (Denmark).

Kemudian, Drs Hidayat Soemo (Tanzania merangkap Zambia, Muritius, Wanda, Burundi, dan Comoros), sedangkan Dubes RI untuk Uni Soviet merangkap Mongolia adalah Drs Janwar Marah Djani. Mereka merupakan diplomat karier dari Deplu.

H. Sukarno SH (mantan Dirjen PPG Deppen) dilantik menjadi dubes RI untuk Nigeria merangkap Ghana dan Liberia, Trenggono menjadi dubes untuk Colombia dan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (mantan Gubernur Bali) menjadi Dubes untuk India.

Dua anggota ABRI hari Sabtu itu juga diangkat menjadi Dubes, yaitu Laksarnana Madya TNI Gatot Suwardi (mantan Irjen Mabes ABRI) untuk Kerajaan Thailand, dan Mayjen TNI B.P. Makadada untuk Republik Sosialis Birma merangkap Kerajaan Nepal.

Yang cukup menarik adalah dilantiknya seorang wanita menjadi dubes, sesuatu yang jarang terjadi, yaitu Petronella M. Luhulima SH untuk Kerajaan Swedia. N Luhulima adalah seorang diplomat karier yang dilahirkan di Balikpapan 18 Januari 1934.

Wanita diplomat lulusan ADLN dan FHUI itu sebelumnya adalah Deputi Chief of Mission (Wakil Dubes) di Belgia.Ia memang lebih banyak bertugas di luar negeri antara lain di Belanda, Meksiko, Singapura, dan Denmark.

Petronella Luhulima dan Mayjen TNI Makadada mengangkat sumpah secara agama Protestan, Prof. Ida Bagus Mantra secara agama Hindu Bali, sedang sembilan dubes lainnya secara agama Islam.

Setelah mengucapkan sumpah jabatan, masing-masing dubes menandatangani naskah sumpahnya di hadapan Presiden. Kemudian, Presiden menghadiahkan pulpen yang dipakai menandatangani kepada setiap dubes sebagai ciri khas dari upacara pelantikan dubes.

Presiden diikuti Ny. Tien Soeharto dan para pejabat tinggi lainnya kemudian memberikan ucapan selamat kepada para dubes yang dilantik beserta istri masing­masing.

Petronella Luhulima pada kesempatan itu didampingi kakak sulungnya Dr C.P.S. Luhulima yang juga seorang diplomat.

 

 

 

Sumber : ANTARA(25/03/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 93-94.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.