Mei 142018
 

PRESIDEN SOEHARTO JUMPA RAMOS DAN LEEKPAI DI BRUNEI [1]

Bandar Seri Begawan, Kompas

Presiden Indonesia Soeharto hari Selasa (6/10) melangsungkan pertemuan secara terpisah dengan tiga pemimpin ASEAN lainnya,yakni Presiden Filipina Fidel Ramos, PM Thailand Chuan Leekpai dan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, di Jerudong Park dan lstana Nurul Iman,Brunei Darussalam.

Dalam pertemuan  dengan Presiden Ramos, keduanya sepakat untu k menyelesaikan masalah mengenai orang-orang Indonesia di Filipina dengan baik. Dengan PM Chuan Leekpai, Presiden Soeharto meminta peran lebih aktif Thailand dalam ikut menyelesaikan permasalahan Kamboja. Sementara dengan Sultan Bolkiah, Presiden Soeharto mengundang negara itu untuk ikut serta dalam kerja sama Selatan­ Selatan.

Pertemuan itu, sebagaimana dilaporkan wartawan Kompas Sri Hartati Samhadi dari Bandar Seri Begawan semalam merupakan pertemuan pertama Presiden Soeharto dengan Presiden Filipina dan PM Thailand setelah keduanya terpilih dalam pernilu tahun ini. Ketiga pemimpin negara ini berada di Bandar Seri Begawan untuk menghadiri perayaan Pesta Perak Sultan Bolkiah yang jatuh pada hari Senin (05/ 10). Presiden Soeharto yang tiba di ibu kota Brunei Senin petang, bertolak kembali ke Jakarta hari Selasa.

Mensesneg Moerdiono kepada para wartawan Indonesia di Jerudong Park mengatakan, para imigran Indonesia yang berada di Filipina itu bisa menimbulkan masalah jika tidak segera diatasi. Orang-orang Indonesia ini melintas perbatasan dan masuk wilayah Filipina untuk berpindah tempat tinggal atau mencari pekerjaan. Dalam hal ini, Presiden Ramos mengatakan, pihaknya memberikan toleransi yang besar kepada Indonesia.

Presiden Ramos juga berharap masalah yang sebenarnya merupakan isu lama dan telah berlangsung lama ini, bisa diselesaikan sebaik-baiknya. Ia juga berharap para pejabat kedua negara dapat bertemu. Baik Presiden Soeharto maupun Presiden Ramos menganggap penting pertemuan yang lebih sering dan teratur antara pejabat pemerintahan kedua belah pihak untuk mempererat hubungan bilateral.

Baik Filipina maupun Indonesia sepakat tak ada masalah yang mengganjal dalam hubungan bilateral. Keduanya juga sepakat untuk menyelesaikan sebaik-baiknya setiap masalah yang mungkin timbul.

Pada kesempatan itu Presiden Ramos juga menyatakan, terima kasih kepada Presiden Soeharto, karena atas bantuan Indonesia, Filipina bisa diterima dalam Gerakan Non Blok. Presiden  Ramos, yang menggantikan tugas-tugas yang ditinggalkan mantan Presiden Ny. Corazon Aquino, menjelaskan kepada Presiden Soeharto, pemerintahannya akan menekankan pada pembangunan ekonomi setelah masalah-masalah politik di dalam negerinya bisa diselesaikan.

Presiden Soeharto dan Presiden Ramos juga membicarakan hasil-hasil KTT X GNB yang dilangsungkan belum lama ini di Jakarta. Mengenai ini, Presiden Ramos secara khusus menyoroti masalah beban utang negara-negara Dunia Ketiga. Ia berharap agar di bawah kepemimpinan Indonesia, masalah utang yang juga menjadi salah satu agenda utama KIT Non Blok ke-10, bisa diselesaikan dengan terobosan­ terobosan berarti.

Presiden Soeharto juga kembali mengungkapkan pandangan-pandangannya yang telah diungkapkan ketika menerima tamu sejumlah kepala negara di New York bulan ini, bahwa negara-negara industri telah memberikan komitmen untuk menyisihkan 0,7 persen dari GNP mereka untuk membantu Dunia Ketiga. Namun sejauh ini, baru sekitar 0,37 persen yang telah diberikan. Dengan demikian, masih ada kekurangan sekitar 0,3-0,4 persen, atau sekitar 50 milyar dollar AS dari seluruh komitmen yang mereka berikan.

Presiden Soeharto juga menekankan pentingnya kerja sama Selatan­ Selatan, bukan sekadar menyelesaikan segera masalah sosio-ekonomi yang dihadapi Selatan, tetapi juga lewat kerja sama konkret antara Selatan-Selatan untuk memberi bobot dalam dialog dengan Utara.

Dalam pertemuan dengan PM Chuan Leek Pai, juga dibahas hubungan bilateral Indonesia-Thailand. Secara khusus, kedua pemimpin negara menyoroti hasil perkembangan penyelesaian masalah Kamboja. Presiden Soeharto meminta Thailand dapat berperan lebih besar lagi dalam penyelesaian masalah Karnboja yang prosesnya mengalami kebuntuan ini. Dalam hal ini, Menlu Indonesia bersama Menlu Perancis sebagai ketua bersama telah diminta oleh Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali untuk segera mencari jalan keluarnya .

PM Chuan Leek Pai mengatakan, telah menjadi komitrnen pemerintahannya untuk mengambil peranan aktif dalam masalah ini. PM Chuan Leek Pai juga mengungkapkan penyesalannya karena belum bisa melakukan kunjungan perkenalan ke negara-negara ASEAN lainnya hal yang lazim dilakukan para pemimpin baru di kalangan ASEAN karena banyaknya masalah yang harus diselesaikan di dalam negerinya.

Namun Ia berharap pertemuan di Brunei kali ini dapat dianggap sebagai bagian dari perkenalan pribadi tersebut.

 

Bantuan untuk Petani Afrika

Dalam pertemuan dengan Sultan Hasanal Bolkiah di Istana Nurul Iman, Presiden Soeharto secara khusus mengundang Brunei untuk turut serta dalam kerja sama Selatan-Selatan. Dalam kerangka kerja sama ini, Indonesia secara konkret menawarkan untuk menularkan pengalaman dalam upaya peningkatan produksi pangan kepada negara-negara Afrika yang mengalami kelaparan dewasa ini.

Indonesia mengundang para petani negara-negara Afrika itu untuk melihat langsung secara praktek di tengah-tengah petani Indonesia. Dalam hal ini, Brunei diminta membantu memberikan dana untuk membiayai perjalanan para petani Afrika itu ke Indonesia, karena baik negara-negara Afrika ini maupun Indonesia tak mampu membiayai program ini.

Sumber: KOMPAS (07/ 1011992)

 

 

________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 367-369.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: