PRESIDEN SOEHARTO : JANGAN BERBEDA ARAH DALAM MENUJU CITA-CITA KEBANGSAAN [1]

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menyatakan, dalam kehidupan berkesenian di negeri ini dapat berbeda-beda pendapat mengenai selera seni dan juga dapat berbeda-beda pilihan terhadap gaya seni yang disukai.

“Tetapi saya minta agar kita tidak berbeda arah dalam menuju sasaran membangun bangsa yang kuat dan bersatu dalam cita-cita kebangsaan.” Kata Kepala Negara pada saat menerima para peserta Kongres Kesenian Indonesia I di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/12) kemarin.

Menurut Presiden, aneka ragam seni budaya daerah adalah kekayaan bersama sebagai satu bangsa. Masing-masing kebudayaan daerah dapat mengembangkan jatidirinya.

“Di samping itu kita semua perlu pula mengembangkan pengetahuan dan apresiasi terhadap berbagai budaya daerah yang beraneka ragam itu, sehingga tidak perlu tumbuh rasa kesukuan yang sempit” tutur Presiden .

“Tugas yang lebih penting lagi bagi kita bersama adalah mengembangkan dan memperkukuh sosok kebudayaan nasional kita, yaitu kebudayaan bangsa Indonesia yang modern dan berakar kepada warisan budaya para pendahulu kita.” demikian Kepala Negara.

Peluang dan Kreativitas

Kepala Negara menunjukkan, masalah dasar pembangunan kesenian di Indonesia saat ini adalah menciptakan kondisi dan peluang sebaik-baiknya agar para seniman dapat mengembangkan kreativitasnya secara optimal, baik berupa seni terapan dan hiburan yang sehari-hari diperlukan, maupun berwujud karya seni yang untuk menikmatinya diperlukan perenungan yang dalam.

“Yang dapat kita laksanakan bersama memang hanya penciptaan kondisi dan peluang, oleh karena kreativitas para seniman sesungguhnya merupakan kualitas yang sangat pribadi dari para seniman.” kata Kepala Negara .

Presiden mengatakan, kesenian bukanlah suatu yang terjadi dengan sendirinya. Ia diciptakan oleh manusia dari waktu ke waktu. Puncak-puncak pencapaian di bidang seni budaya itu merupakan landasan dan pangkal tolak untuk karya kreatif berikutnya.

Dalam perjalanan sejarah budaya bangsa Indonesia, kata Kepala Negara, telah terjadi rangkaian panjang pertemuan-pertemuan budaya, baik antar suku bangsa maupun antar bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa asing.

Berbagai khasanah budaya baru pun tumbuh sebagai hasil dari pertemuan-pertemuan budaya tadi. Namun khasanah budaya juga tumbuh sebagai hasil dari daya cipta di dalam masyarakat Indonesia sendiri.

“Karena itu, kita perlu mengasah kearifan untuk dapat mengenali dan menumbuhkan daya cipta yang ada dalam diri kita sendiri sebagai bangsa.” tegas Presiden.

Kepala Negara menegaskan pula, untuk tetap memelihara semangat kebangsaan, diperlukan pengembangan daya cipta.

“Kita memang menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh asing. Namun hasil karya budaya yang keluar dari diri kita mestilah berkepribadian.” Kilah  Presiden.

“Kita tidak boleh hanya menjadi pengekor semata dari bangsa lain yang mana pun. Dalam hubungan inilah kita memerlukan kesadaran akan wawasan kebangsaan. Dalam olah kegiatan di bidang kesenian pada khususnya diperlukan pula kesadaran berbangsa itu. Dalam teknis dan gaya, kita dapat bergabung dengan aliran perkembangan yang terjadi di mancanegara, tetapi isi pesan dan penggarapannya haruslah memperhatikan kekuatan jati diri kita sendiri.” demikian Presiden.

Berakhir Kamis Ini

Dalam laporannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro mengatakan, peserta kongres ini 475 orang berasal dari seluruh Indonesia, terdiri dari para seniman, pengelola atau sponsor seni, pelindung seni, penikmat dan konsumen seni, pemikir dan kritikus seni serta lembaga pemerintah yang terkait Kongres yang bertema Restropeksi dan Ancangan ke depan ini membahas pemantapan perkembangan seni dalam rangka memperkuat jati diri serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Kongres tiga hari yang dimulai 4 Desember ini dilaksanakan dalam bentuk persidangan dan panggung debat. Dibahas 10 topik dengan 39 makalah serta menampilkan 29 orang pembicara peserta debat. Permasalahan kesenian yang dikaji meliputi aspek fungsi kesenian dalam masyarakat, kesenian nasional dan daerah, kesenian dan berbagai aspek kehidupan bangsa seperti dengan media, pendidikan, pariwisata, hukum, pengayoman, serta untuk refleksi atas perkembangan seni dalam bentuk panggung debat dan seterusnya.

Sumber : KOMPAS (07/12/1995)

______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVII (1995), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 696-698.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.