Agu 082017
 

PRESIDEN SOEHARTO JAMU PRESIDEN BANGLADESH

 

 

Indonesia dengan segala keterbatasannya tetap berusaha memberikan bantuan teknik kepada sesama negara sedang membangun, sebagai cerminan kemauan politiknya dalam memberi isi bagi kerja sama Selatan-Selatan.

Hal tersebut dikemukakan Presiden Soeharto dalam pidatonya pada jamuan santap malam kenegaraan untuk menghormat Presiden Bangladesh Hussain Muhammad Ershad dan isterinya di Istana Negara Jakarta Selasa malam.

“Dilihat dari jumlahnya, kami sadar, bantuan teknik itu kecil. Namun ini mencerminkan kemauan politik kami untuk memberi isi kepada kerja sama antara Selatan-Selatan,” kata Soeharto.

Pemimpin Indonesia itu memandang kerja sama Selatan-Selatan akan menjadi kekuatan bersama semua negara sedang membangun untuk mengembangkan kerja sama Utara-Selatan. Pada gilirannya, hal tersebut akan menjadi kunci utama bagi terwujudnya Tata Ekonomi Dunia Baru yang memberi keadilan bagi semua bangsa dan semua negara.

Indonesia senantiasa memandang penting kerja sama antar sesama negara sedang membangun, tegasnya.

Persaudaraan Indonesia dan Bangladesh katanya, memiliki persamaan dasar yang kuat, antara lain dalam politik luar negeri, pemeliharaan tradisi dan kebudayaan serta penegakan stabilitas nasional sebagai prasyarat pembangunan nasional masing­-masing.

“Saya yakin persamaan-persamaan itu dapat menjadi kekuatan utama bagi peningkatan kerja sama kedua negara dan bangsa kita,” demikian Presiden Soeharto.

Dalam kesempatan itu Presiden menyambut gembira pembentukan Perhirnpunan Negara-negara Asia Selatan untuk kerja sama regional yang antara lain menghimpun India, Pakistan dan Bangladesh.

Apabila Perhirnpunan Negara-negara Asia Selatan itu dapat bekerja sama dengan ASEAN untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan, maka kerja sama tersebut pasti bermanfaat besar bagi bangsa-bangsa di ke dua kawasan tersebut, ujar Soeharto.

Ia menyebut perdamaian dan kesejahteraan sebagai dua masalah kembar umat manusia dewasa ini, mengingat masih banyaknya pertikaian bersenjata di berbagai kawasan.

“Kita masih melihat sejumlah bangsa tidak bebas menentukan pilihan dan masa depannya karena adanya pendudukan tentara asing. Kita juga masih merasakan kecemasan karena perlombaan senjata antara kekuatan-kekuatan besar dunia belum ada tanda akan mereda,” kata Kepala Negara RI.

Hal-hal tersebut, menurut Presiden, memperkuat tekad Indonesia dan Bangladesh untuk bersama-sama negara lain dalam Gerakan Non Blok beljuang untuk perdamaian dunia, pembangunan dan kesejahteraan umat manusia.

“Dalam arti itulah saya memberi nilai tinggi pada kunjungan Yang Mulia ke Indonesia kali ini,” ujarnya.

Ia percaya, kunjungan Presiden Ershad itu akan menambah erat tali persaudaraan dan kerja sama ke dua negara.

Jamuan santap malam kenegaraan itu diikuti pula oleh Wakil Presiden, Ibu Umar Wirahadikusumah dan sejumlah Menteri Kabinet serta pejabat tinggi lain. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (13/01/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 14-15.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: