Mei 042017
 

PRESIDEN SOEHARTO : INDONESIA AGAR TIDAK GANTUNGKAN PEREKONOMIAN HANYA PADA WILAYAH MINYAK BUMI SAJA

Presiden Soeharto mengharapkan agar keputusan organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) menurunkan produksi 10 persen dapat dijadikan cambuk untuk meningkatkan dan mempergiat produksi non-minyak karena sejak semula sudah menjadi tekad Indonesia untuk tidak menggantungkan perekomiannya hanya pada minyak bumi saja.

Presiden mengemukakan harapannya itu ketika menerima laporan Menteri Pertambangan dan Energi Subroto di Bina Graha, Jakarta, Sabtu siang, mengenai hasil-hasil konperensi OPEC ke-60 di Jenewa awal minggu ini.

Selesai diterima Presiden, Menteri Soebroto menjelaskan kepada pers, bahwa keputusan OPEC menurunkan produksi 10 persen itu berpengaruh terhadap anggaran negara dan perekonomian Indonesia karena minyak bumi merupakan sumber penghasil devisa dan penerimaan negara terbesar.

Oleh karena itulah Presiden mengingatkan agar Indonesia tidak menggantungkan perekonomiannya hanya pada minyak bumi saja, katanya.

Presiden menyerukan, baik kepada unsur pemerintah maupun rakyat umumnya agar terus meningkatkan produksi non minyak, seperti produksi industri, pertanian dan pertambangan non minyak.

Menteri Subroto mengatakan, keputusan menurunkan produksi minyak itu paling terasa pengaruhnya selama triwulan ketiga mendatang.

Harus Bertindak Sekarang

Mengenai keputusan yang telah diambil dalam konperensi ke-60 OPEC tersebut, Menteri mengatakan, jika OPEC tidak berbuat apa-apa sekarang organisasi itu nantinya akan dipaksa oleh pasaran untuk melakukan penurunan harga atau penurunan produksi, atau penurunan harga dan penurunan produksi sekaligus.

Oleh karena itu OPEC melakukan tindakan mendahului pasaran, dengan mengambil keputusan di bidang harga, produksi dan strategi jangka panjang.

Di bidang harga diputuskan untuk membekukan harga pada tingkat US $ 36 per barrel harga patokan (untuk market crude) dan harga maksimal US $ 41 per barrel. Di bidang produksi, semua negara anggota OPEC kecuali Iran, Irak dan Arab Saudi, bersepakat menurunkan produksi sebanyak 10 persen.

Keputusan OPEC itu diambil berdasarkan pada perkembangan pasaran minyak dunia terutama dengan adanya banjir suplai, Sampai akhir triwulan kedua tahun ini kelebihan suplai minyak di pasaran dunia mencapai 2,8 juta barel sehari.

Banjir suplai ini disebabkan turunnya permintaaan akibat mulai berhasilnya usaha konservasi (penghematan) dan mulai berhasilnya investasi dalam usaha memanfaatkan sumber energi pengganti minyak seperti batu bara dan tenaga nuklir.

Mulai berhasilnya usaha2 menggunakan sumber energi pengganti minyak ini mengakibatkan pula terjadi perubahan struktural dalam permintaan terhadap sumber energi.

Sebab-Sebab Lain

Di samping faktor perkembangan pasaran, banjir suplai minyak juga disebabkan meningkatnya produksi minyak negara2 penghasil non-OPEC seperti Inggris, Meksiko dan Norwegia.

Beberapa negara anggota OPEC seperti Indonesia, Iran dan Irak juga mengalami peningkatan produksi yang mengakibatkan bertambahnya suplai di pasaran.

Jika situasi yang demikian berlangsung terus, diperkirakan dalam triwulan ketiga tahun ini berlebihan suplai minyak di pasaran dunia mencapai empat juta barrel sehari.

Berdasarkan keadaan itu semua negara anggota OPEC bersepakat harga agar perekonomian dunia dapat bernafas kembali sehingga inflasi juga menurun.

"Turunnya tingkat inflasi akan menggiatkan kembali perekonomian dan meningkatnya kembali pertumbuhan ekonomi negara2 industri dan permintaan akan meningkat lagi," kata Menteri Subroto. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (31/05/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 387-389.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: