Nov 202017
 

PRESIDEN SOEHARTO DIUNDANG KE IRAN

 

Jakarta, Merdeka

Presiden Soeharto menerima baik undangan Presiden Iran Ali Khamenei untuk berkunjung ke Iran yang akan dilaksanakan pada waktu-waktu mendatang.

Undangan tersebut disampaikan oleh Menlu Iran Ali Akbar Velayati ketika melakukan kunjungan kehormatan kepada Kepala Negara di Bina Graha Selasa pagi. Presiden pada kesempatan itu didampingi oleh Menlu Mochtar Kusumaatmadja.

Menlu Iran itu tiba di Jakarta Senin siang untuk kunjungan tiga hari di Indonesia. Dalam pertemuan dengan Presiden Soeharto, kata Velayati, dibahas berbagai hal dalam hubungan bilateral, baik politik maupun ekonomi dan perdagangan.

“Kami berharap, agar kunjungan ini dapat meningkatkan kerjasama kedua Negara dalam berbagai bidang,” katanya kepada wartawan usai pertemuan tersebut.

Dijelaskan bahwa dia juga membicarakan dengan Presiden Soeharto berbagai masalah regional dan intemasional. Antara lain masalah Kamboja, Afghanistan. Gerakan Non Blok dan Organisasi Konperensi Islam (OKI) serta situasi Teluk Parsi.

Hal serupa juga disinggung dalam pertemuannya dengan Menlu Mochtar Kusumaatmadja siang harinya di Departemen Luar Negeri Pejambon, selama kurang lebih dua jam.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai perang Iran-Irak yang berlarut-larut. Velayati mengatakan, Iran dipaksa untuk berperang melawan Irak. Sejak perang itu pecah, Teheran telah menyampaikan syarat-syarat untuk mengakhiri perang yang tetap berlaku hingga sekarang.

Akan tetapi dalam tukar pikiran dalam pertemuannya dengan rekannya Menlu Mochtar Kusumaatmadja di Pejambon siang harinya , Iran menurut Velayati sebagaimana dikutip oleh Mochtar usai pertemuannya itu, pada dasamya setuju dengan usaha-usaha yang dilakukan Sekjen PBB Javier De Cuellar untuk mengakhiri Perang Teluk secara damai.

“Itulah jalan sebaiknya,” kata Mochtar mengutip ucapan Menlu Iran yang juga menyerukan dikuranginya campur tangan negara-negara besar dan menyerahkan penyelesaiannya kepada negara-negara Teluk dengan bantuan Sekjen PBB.

Ditanya apakah Iran juga bersedia membantu mencari petugas PBB di Libanon. Kolonel Higgins dari AS yang hilang diculik goIongan Amal Syiah, oleh Velayati dikatakan bahwa pihaknya tidak tahu persis mengenai peristiwa tersebut.

“Kami tahu adanya penculikan tersebut dari berita-berita koran. Namun demikian bilamana pemerintah Iran dapat melakukan usaha-usaha perikemanusiaan untuk keselamatan petugas PBB itu, tentu saja kami akan melakukannya,” katanya.

Komisi Bersama

Siang harinya di Departemen Luar Negeri di Pejambon, Menlu Mochtar mengatakan kepada wartawan bahwa pertemuannya dengan Velayati yang berlangsung sekitar dua jam, lebih banyak membahas mengenai upaya meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan antar kedua negara.

Baik Velayati maupun Mochtar menjawab pertanyaan wartawan mengatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk membentuk sebuah komisi bersama sebagai wadah bagi berbagai usaha untuk meningkatkan hubungan dagang langsung antara kedua negara.

Ini penting, kata Mochtar, karena selama ini hubungan dagang Indonesia-Iran lebih banyak dilakukan melalui pihak ketiga, yaitu Singapura atau Abu Dhabi.

Melalui komisi bersama itu kedua pihak kini berusaha menyusun daftar barang­barang yang mungkin dapat diperdagangkan antara kedua belah pihak, menurut sistem pembayaran biasa.

“Indonesia tentu saja menginginkan Iran membeli lebih banyak lagi komoditi non Migas seperti teh yang persediaannya memang banyak, sementara Iran mungkin akan menawarkan minyak mentah yang nantinya akan diolah di kilang-kilang minyak Indonesia seperti Cilacap, di samping karpet dan kacang,” kata Mochtar.

Selama ini Indonesia membeli sekitar 100.000 barrel per hari minyak mentah Arab Saudi (ALC- Arabian Light Crude) untuk dikilang jadi BBM Di Cilacap. Minyak mentah Iran memiliki kadar belerang yang cukup tinggi sehingga cukup ekonomis untuk menghasilkan minyak pelumas dan aspal di samping bahan bakar minyak.

Menurut Mochtar, selain Menlu Velayati, saat ini sedang berada pula di Jakarta delegasi dagang Iran untuk menjajagi kemungkinan untuk membeli lebih banyak teh dari Indonesia, sementara dalam waktu dekat ini akan datang pula delegasi lainnya dari negara yang sama untuk pembelian karet.

 

 

Sumber : MERDEKA (24/02/1988)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 32-34.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: