Agu 142018
 

PRESIDEN SOEHARTO DI TUNIS: PENGELOMPOKAREGIONAL CENDERUNG PROTEKSIONISTIS

[1]

 

Tunis, Kompas

Menjelang kunjungannya ke Seattle, AS, menghadiri KTT tidak resmi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasific (APEC) 19-20 November, Presiden Soeharto hari Senin malam di Tunis mengingatkan lagi bahaya terjadinya pengelompokan ekonomi regional di lingkungan negara-negara maju yang cenderung bertambah kuat dan proteksionistis.

Menurut Kepala Negara dalam jamuan makan malam oleh Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben, Ali di Istana Chartage semalam, pengelompokan itu dapat bersifat positif apabila tetap membuka diri terhadap produk-produk negara-negara yang sedang membangun.

“Tetapi jika mereka menutup diri maka kepincangan dunia dan ketidakadilan di bidang ekonomi akan bertarnbah besar, dan pada gilirannya dapat menjadi suatu awal bencana di masa yang akan datang,” tegas Kepala Negara seperti dilaporkan wartawan Kompas Ansel da Lopez dari Tunis semalam. Menurut Presiden, gejala proteksionisme, jatuhnya harga-harga komoditi yang berasal dari negara-negara yang sedang membangun dan beban utang negara-negara Dunia Ketiga, masih tetap menjadi permasalahan dunia yang berat dan perlu diatasi bersama oleh sernua negara.

Dalam kaitan itu Presiden Soeharto yang juga Ketua Gerakan Non Blok (GNB) itu, mengajak kedua negara sebagai sesama negara anggota Non Blok, dan juga negara-negara Selatan lainnya, untuk bekerja sama ikut menanggulangi melalui pembangunan di negara masing-masing, dan juga meniadakan kesenjangan ekonorni yang mencolok antara negara-negara industri maju dan negara-negara yang sedang membangun melalui kerja sama Selatan-Selatan, tanpa mengurangi kerja sama Utara­ Selatan.

Presiden juga mengajak Tunisia sebagai Ketua Persatuan Arab Maghribi untuk bekerja sama yang bermanfaat dengan ASEAN bagi kesejahteraan rakyat masing­ masing.

Ketat dan Meriah

Presiden tiba di Tunis Senin pagi waktu setempat (sore WIB), disambut dan dikawal empat pesawat tempur F-5 Tunisia, begitu pesawat DC-10 Garuda yang membawa Kepala Negara dan Nyonya Tien memasuki wilayah Tunisia dari Malta.

Kedatangan Kepala Negara dan Nyonya Tien di Bandara Carthage Tunisia mendapatkan sambutan yang luar biasa dengan barisan kehormatan militer dan dentuman meriam, serta rakyat yang berjejal di bandara sambil membawa spanduk dan poster ucapan selamat datang, serta foto-foto berukuran besar Presiden Soeharto dan Presiden Ben Ali, diiringi pula musik tradisional. Melihat sambutan masyarakat yang begitu meriah, membuat Presiden Soeharto merninta mobil yang dikendarainya bersama Presiden Ben Ali berhenti sejenak, untuk turun dan melambaikan tangan membalas sambutan masyarakat. Di sepanjang jalan yang dilalui Kepala Negara menuju Istana Essada La Marsa, masyarakat juga berjejal menyambut kedatangan Presiden Soeharto.

Ini adalah kunjungan pertama Presiden Soeharto ke negara di utara benua Afrika yang berpenduduk sekitar 8,4 juta jiwa dan sekitar 99 persen beragama Islam itu, dan dengan hasil utama semen, minyak bumi, seng dan timah.

Di samping meriah, penjagaan keamanan kedatangan Presiden kemarin juga terasa sangat ketat. Kecuali di Bandara Chartage, di sepanjang jalan sekitar 10 kilometer dari bandara ke Istana Essada La Marsa, pasukan keamanan lengkap bersenjata terus berjaga-jaga.

Tampaknya Pemerintah Tunisia memang tidak mau mengambil risiko keamanan karena Presiden Palestina Yasser Arafat, yang hari Selasa ini akan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Soeharto, kabarnya Senin kemarin juga telah berada di Tunis.

Menurut rencana pembicaraan Presiden Soeharto dan Yasser Arafat akan berlangsung hari Selasa sore ini pukul 18.55 waktu setempat atau pukul 00.55 WIB, dan akan berakhir pukul 19 .30 waktu setempat atau pukul 01.55 WIB di Istana Essada La Marsa.

Di Malta

Sementara itu hari Minggu eli Valetta, Malta sebelum ke Tunisia, Wakil PM Malta Guido de Marco dalam pembicaraan dengan Presiden Soeharto selaku Ketua GNB, mengharapkan GNB perlu mengadakan langkah-langkah penyesuaian dengan keadaan bam karena saat ini zaman sudah berubah dan bipolar tak ada lagi.

Menanggapi hal itu, kata Mensesneg Moereliono, Presiden Soeharto mengatakan bahwa GNB telah berupaya untuk itu sejak KIT X GNB tahun lalu di Jakarta. GNB tidak konfrontatif, tapi ingin mengembangkan dialog, kemitraan dan ingin mengembangkan kerja sama yang positif serta sating menguntungkan.

Dalam pembicaraan pada saat jamuan  makan malam tidak resmi di Istana Ke Presidenan Minggu malam, kata Moerdiono pula, Presiden Malta Dr Censu Tabone sangat menghargai sikap Pak Harto selaku Ketua GNB yang bijaksana dalam mengembangkan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

Presiden Tabone juga menghargai peranan Presiden Soeharto selaku Ketua GNB yang telah berhasil membangkitkan kembali Gerakan ini. Jamuan makan malam itu tidak diacarakan sebelumnya, tetapi atas permintaan Presiden Tabone yang ingin memberikan penghargaan kepada Presiden Soeharto, yang dinilainya sangat berperanan dalam GNB.

Kepada Presiden Malta, Presiden Soeharto menekankan kembali peranan GNB dan langkah-langkah yang dilakukan selaku Ketua GNB. Antara lain disinggung mengenai pentingnya pertemuan Ketua GNB dengan PM Jepang yang mewakili kelompok tujuh negara industri maju (G-7) di Tokyo bulan Juli lalu.

Pertemuan Tokyo tersebut dinilai Presiden Malta sebagai pertemuan yang historis, dan merupakan langkah awal dialog Utara-Selatan. Namun Presiden Soeharto mengingatkan bahwa keberhasilan GNB ditentukan oleh tanggungjawab bersama anggota-anggota Gerakan ini yang kini jumlahnya 108 negara. Bahkan GNB merupakan organisasi yang terbesar di dunia. Apabila GNB ini bersatu dan di PBB diberlakukan cara-cara mengambil keputusan dengan suara terbanyak, sesungguhnya GNB-lah yang akan bisa menentukan keputusan-keputusan PBB. namun sayang, di PBB masih ada prosedur pengambilan keputusan yang tidak hanya ditentukan oleh suara terbanyak, tapi ada pula lembaga veto,” kata Mensesneg.

Karena itu Presiden Soeharto berjanji akan berupaya terus agar keinginan GNB agar struktur PBB diperbaiki, mendapat tanggapan positif Demikian pula perlunya diperbaiki lembaga veto di DK PBB. Presiden Soeharto mengundang Presiden Malta berkunjung ke Indonesia. Undangan ini disambut baik dan akan dilakukan pada saat yang tepat.

Ditanya apakah dalam pertemuan kedua pemimpin dibahas mengenai keanggotaan Malta di GNB, Moerdiono mengatakan, seperti diberitakan surat kabar di Malta, memang ada keinginan negara ini untuk bergabung dengan Masyarakat Eropa (ME). Alasannya, mengingat kedekatan wilayah negara ini dengan Eropa. Namun untuk bergabung dengan ME, Malta diwajibkan mengadakan restrukturisasi ekonomi. Menurut Moerdiono, Indonesia menilai, kendatipun Malta ingin bergabung dengan ME, namun tidak perlu keluar dari GNB. Sebab antara GNB dengan ME sebenarnya tidak ada relevansinya. Bahkan, jika Malta bisa masuk ME dan tetap menjadi anggota GNB, maka nilainya akan bertambah  besar. Dan, tambahnya, Indonesia menilai tidak ada indikasi bahwa Malta akan keluar dari GNB .(*)

Sumber: KOMPAS (19/11/ 1993)

___________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 372-375.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: