Okt 122017
 

PRESIDEN SOEHARTO BUKAN TRADISI MILITERISME YANG DIPUPUK  TAPI TRADISI KEPRAJURITAN

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menegaskan, tradisi keprajuritan yang dipupuk bukanlah tradisi militerisme. Bangsa Indonesia tidak mengenal suatu kelas militer yang berdiri terpisah dari rakyat, apalagi berada di atas rakyat.

Militer Indonesia adalah pejuang, yang bersama-sama seluruh pejuang bangsa di bidang lainnya berdampingan bahu membahu mencapai tujuan bangsa yang luhur. Penegasan itu dikemukakan Kepala Negara ketika meresmikan Museum Keprajuritan di Taman Mini Indonesiaindah (TMII) Jakarta, Minggu pagi.

Menurut Presiden Soeharto, jika mendengar kata-kata “prajurit” terbayang dipikiran tentang peperangan dan kekuatan militer dengan segala peralatan perangnya. Namun bagi bangsa Indonesia, tradisi keprajuritan bukanlah tradisi perang, bukan tradisi militer.

“Citra keprajuritan kita lebih luhur dari citra peperangan, lebih luhur dari citra militer. Tradisi keprajuritan kita adalah tradisi patriotisme, tradisi kebangsaan, tradisi cinta tanah air. Semangat keprajuritan kita adalah semangat patriotisme, semangat kebangsaan dan semangat kebangsaan dan semangat cinta tanah air,” tegasnya.

Melekat Erat

Kepala Negara menambahkan, tradisi keprajuritan tersebut bersumber pada perasaan yang sangat dalam, ialah rasa satu dengan tanah tumpah darah tempat hidup dan juga tempat mengakhiri hidup dihari nanti.

Karena itu tradisi keprajuritan bangsa Indonesia melekat erat dengan kecintaan kepada tanah air, dengan hak dan kewajiban yang dirasakan sebagai kehormatan bagi seorang warga negara yang bertanggung jawab.

Dikatakannya, untuk menjawab  tantangan militer zaman, profesionalisme militer memang harus terus ditingkatkan. “Namun profesionalisme militer itu sendiri bukan tujuan, melainkan merupakan cara agar dapat mengabdikan diri sebaik­baik nya dalam perjuangan besar  bangsa Indonesia  untuk  mencapai tujuan ­ tujuannya yang luhur. Tujuan itu adalah kehidupan lahir batin yang maju, sejahtera dan adil makmur berdasarkan Pancasila.

“Karena itu tradisi keprajuritan bangsa kita sesudah kemerdekaan bersumber pada tekad untuk membela negara Pancasila dan membangun masyarakat Pancasila,” tambah Presiden Soeharto.

Sebagai prajurit profesional, demikian Presiden Soeharto, prajurit ABRI sama dengan prajurit profesional dimanapun didunia ini. Namun ditegaskan, ketiga marga pertama dari Sapta Marga membedakan dan menjadi kan prajurit ABRI mempunyai watak khas jika dibanding prajurit profesional lainnya. “Watak khas itu ialah perjuangannya yang tidak mengenal menyerah dalam membela Pancasila sebagai ideology negara,” tambahnya.

Marga pertama dari Sapta Marga menegaskan bahwa prajurit ABRI adalah warga negara kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila. Marga kedua menandaskan bahwa prajurit ABRI adalah patriot Indonesia, pendukung serta pembela ideologi negara yang bertanggung jawab dan tidak mengenal menyerah. Marga ketiga menyatakan  bahwa prajurit ABRI  adalah kesatria Indonesia, yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Kesepakatan Nasional

Dibagian lain pidatonya, Presiden Soeharto mengatakan. Pancasila yang termuat dalam UUD 45 yang didekritkan kembali berlaku sejak 5 Juli 1959, tidak lain adalah Pancasila yang merupakan kesepakatan bulat pendiri-pendiri republik ini yang mensahkan UUD 45 itu pada tanggal 18 Agustus 1945. Pancasila adalah rangkaian yang bulat, utuh, dan tidak boleh dipisah-pisahkan yang satu dari yang lain, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan  yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Pancasila yang demikian itulah yang mencapai kesepakatan nasional kita. Bukan Pancasila yang lain,” ujarnya.

“Sebagai bangsa yang tahu berterima kasih dan mempunyai rasa hormat,” demikian Kepala Negara, “Kita menyampaikan rasa terima kasih yang tidak terhingga dan rasa hormat yang sangat dalam, kepada semua pemimpin-pemimpin bangsa dan pendahulu-pendahulu kita yang telah memberikan sumbangan pikiran yang besar dan luhur mengenai Pancasila itu.”

Dikatakan pula, peresmian Museum Keprajuritan pada tanggal 5 Juli 1987 itu mempunyai makna yang khas pula. Karena 28 tahun lalu dinyatakan Dekrit Presiden untukkembalike UUD 45.

Mengenai Museum Keprajuritan, Kepala Negara menilai hal tersebut merupakan bagian dari usaha melanjutkan dan memperkuat semangat kebangsaan dan perjuangan. Dari museum itu, semua yang hidup di zaman ini maupun generasi-generasi mendatangakan melihat kembali sejarah dan tradisi keprajuritan yang dimiliki bangsa Indonesia.

Berfungsi Ganda

Sementara itu Pangab/Pangkopkamtib Jenderal TNI L.B. Moerdani dalam laporannya mengatakan, pembangunan Museum Keprajuritan Indonesia dicetuskan gagasannya oleh Ny. Tien Soeharto dan direalisasikan perwujudannya oleh ABRI serta berbagai instansi lainnya menjadi salah satu bagian dari TMII. Awal pembangunannya diresmikan Ny. Tien Soeharto 20 November 1985.

Jenderal Moerdani menambahkan, museum yang berdiri di atas tanah seluas 68.000 m2 dengan bangunan berbentuk benteng segi lima berlantai dua itu berfungsi ganda. Pertama, museum sebagai materi sejarah merupakan satu rangkaian dengan Museum Pergerakan Nasional di Monumen Nasional, Museum Satria Mandala, Monumen Pancasila Sakti dan museum-museum lainnya yang dalam taraf penyelesaian, dimaksudkan untuk meningkatkan kewaspadaan nasional terhadap musuh-musuh Pancasila.

Fungsi kedua, merupakan upayaABRI untuk ikut melengkapi dan lebih meningkatkan makna dari TMII. Museum berbentuk benteng itu dilengkapi bastion pada setiap sudutnya. Dinding luar bagian bawah benteng diisi dengan peragaan relief dan patung yang menggambarkan perlawanan bangsa menghadapi kekuasaan asing, Benteng itu dikelilingi parit dan di bagian depannya terhampar danau buatan dilengkapi perahu Banten dan Pinisi.

Di bagian dalam terdapat panggung terbuka berkapasitas 800 tempat duduk dan di kiri kanannya digelarkan 23 patung pahlawan dan tokoh lainnya. Antara lain patung Gajah Mada, Laksamana Nala, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Tengku Cik Di Tiro, Panglima Polim dan Cut Mutiah.

Sementara di lantai dua terdapat diorama dan ruang pamer yang berisi benda relik atau replika senjata, pakaian perang, panji serta boneka peraga.

Seusai peresmian, Presiden dan Ny. Tien Soeharto yang didampingi Wapres dan Ny. Kartinah Umar Wirahadikusumah meninjau museum, diiringi para menteri, pejabat serta undangan lainnya.

Sumber: KOMPAS (06/07/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 610-613

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: