PRESIDEN SOEHARTO: BUKA MUNAS TIMTIM, TANTANGAN MASA DEPAN TIDAK RINGAN

PRESIDEN SOEHARTO: BUKA MUNAS TIMTIM, TANTANGAN MASA DEPAN TIDAK RINGAN

 

 

Dili, Angkatan Bersenjata

PRESIDEN Soeharto mengatakan kita harus menyadarkan anak-anak dan remaja kita bahwa tantangan masa depan mereka tidak ringan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan mereka nikmati bukan tanpa dampak, baik dampak sosial, budaya maupun lingkungan hidup. Kita harus mempersiapkan generasi masa depan yang lebih tanggap dan lebih tangguh.

Ketika membuka Munas Gerakan Pramuka tahun 1988, di Dili Timtim Selasa siang, Presiden Soeharto menilai Gerakan Pramuka merupakan wahana yang sangat tepat untuk menanamkan dan menumbuhkan kesadaran sosial, budaya dan lingkungan hidup bagi generasi muda bangsa kita, bagi anak-anak dan remaja bangsa kita.

Karena itu program untuk usaha ini perlu kita rencanakan secara lebih baik dan lebih terarah. Dengan menanamkan dan menumbuhkan kesadaran sosial, budaya dan lingkungan hidup itu, hakaketnya kita memberikan makna yang dinamis para rasa cinta lanah air.

“Kita harus membangkitkan kesadaran pada anak-anak dan remaja kita bahwa semangat cinta tanah air mestilah diwujudkan dalam usaha membangun tata kehidupan yang lebih baik, mengembangkan kebudayaan yang lebih maju dan memelihara lingkungan hidup yang lebih alamiah,” kata Kepala Negara.

 

Pendidikan

Kesadaran akan masa depan, mengharuskan kita memusatkan perhatian yang makin besar kepada dunia pendidikan kita. Masa depan dunia memang penuh tantangan. Tidak saja dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin pesat, tapi juga dalam bentuk berbagai masalah kemanusiaan dan lingkungan yang makin dahsyat.

Sudah saatnya para pemikir pendidikan bangsa kita memperhatikan lebih dalam mengenai berbagai tantangan masa depan itu dan merumuskan langkah-langkah yang harus kita ambil, kalau kita ingin menjadi bangsa yang tak tertinggal di belakang.

”Namun dalam mengejar kemajuan, kita pun harus tetap memelihara nilai-nilai luhur bangsa kita. Kita tidak ingin tercabut dari bumi budaya kita sendiri. Bangsa yang tak mempunyai identitas adalah bangsa yang rapuh. Kita harus merebut kemajuan tanpa kehilangan kepribadian,” pesan Presiden.

Kesadaran yang demikian itu mendorong kita untuk melaksanakan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila, artinya pembangunan itu dituntun oleh wawasan yang sangat jelas dan kuat. Pembangunan menurut Presiden bukan pekerjaan ringan, lebih-lebih bangsa Indonesia sangat besar jumlahnya dan sangat luas wilayahnya.

 

Tepat

Menurut Presiden, diselenggarakannya Timtim untuk Munas Gerakan Pramuka sebagai tepat, yang membuktikan propinsi termuda ini sanggup melakukan kegiatan nasional yang besar. Dan ini akan mendorong Timtim ke arah kemajuan di berbagai bidang.

Kesempatan ini disamakan untuk digunakan sebaik-baiknya untuk menambah pengetahuan kita tentang perkembangan di berbagai daerah di tanah air kita. Para utusan dari daerah lain bisa merasakan dari dekat kehidupan sesama saudara kita di Timtim, dan membayangkan bekas-bekas penjajahan asing yang belum terlalu lama kita enyahkan.

“Dengan demikian, generasi baru kita akan lebih tahu makna kemerdekaan yang akan dapat mendorong terpeliharanya semangat untuk memberi isi kepada kemerdekaan itu melalui kegiatan pembangunan. Saya harapkan nilai-nilai patriotisme yang kita tanamkan melalui Gerakan Pramuka akan mempunyai makna lebih dalam bagi generasi muda bangsa kita,”demikian Presiden Soeharto.

 

Capai 17 Juta Lebih

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Letnan Jenderal TNI (Purn) Mashudi dalam laporannya mcnyebutkan jumlah anggota Pramuka sampai saat ini mencapai 17.377.914 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, terdiri dari 16.453.096 peserta didik dan 924.818 anggota dewasa.

Khusus di daerah Timor Timur, perkembangan gerakan Pramuka juga mengalami kemajuan pesat. Saat ini berjumlah 63.351 peserta didik dan 1,311 pembina.

Munas yang akan berlangsung hingga 8 Nopember ini menurut Mashueli dihadiri 27 Kwarda , meliputi 258 peserta dan 88 peninjau. Dalam Munas yang bertema “Dengan taqwa, disiplin dan sikap mental belajar, bekerja dan ibadah seumur hidup untuk mandiri menghadapi tahun 2.000,” itu, akan memberi pengarahan Menko Kesra Soepardjo Rustam, Mendagri Rudini, Menpen Harmoko, Menpora Akbar Tanjung, Mentan Wardoyo, Menkop Bu stanil Arifin, Menhankam L B Moerdani, Panglima ABRl Jenderal TNl Try Sutrisno, Ketua PMI Ibnu Sutowo dan Kepala BKKBN Haryono Suyono.

 

Dampak Luas

Sementara itu Gubernur Timor Timur, Ir. Mario Vi egas Carascalao dalam sambutannya menyatakan, penyelenggaraan Munas Gerakan Pramuka di Propinsi Timtim mempunyai dampak yang luas terhadap pembangunan di propinsi termuda ini.

Satu kebanggaan yang dicatat dari gerakan Pramuka merupakan di Timtim ini menurut gubernur adalah bahwa seluruh anggota Timtim berintegrasi dengan Indonesia. Dan gerakan Pramuka selalu ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, disamping kegiatan dalam program daerah sendiri.

Anggota Pramuka yang tersebar di pelosok pedesaan di Timor Timur ini menurut gubernur, melalui berbagai kegiatannya secara langsung mampu menimbulkan semangat dan kesadaran berbangsa dari bernegara bagi generasi muda, khususnya para remaja.

Secara tidak langsung, menurut gubernur Pramuka ikut meng­Indonesi akan generasi-generasi yang lebih tua melalui partisipasi aktifnya dalam upaya memberantas buta aksara yang sedang berlangsung di seluruh Timtim.

Hadir dalam pembukaan Munas Pramuk:a tersebut, Ibu Tien Soeharto, sejumlah menteri Kabinet Pembangunan V, para dubes negara sahabat serta sejumlah undangan lainnya. Seusai membuka Munas Presiden dan Ibu Tien Soeharto beserta rombongan yang hari itu menggunakan pakaian seragam gerakan Pramuka menuju Akanunu yang terletak sekitar 9 km dari kota Dili.

Di tempat ini, Presiden melakukan penanaman pohon cendana, menyaksikan pagelaran drum-band dengan alat-alat musik tradisional serta kegiatan ketrampilan Saka-Saka.

 

Mengatasi Tantangan

Sementara itu, Menpora Akbar Tanjung dalam ceramahnya yang berjudul “Mempersiapkan Generasi Muda Menjelang Tahun 2000” Selasa malam menekankan, agar setiap anggota Pramuka ikut berupaya mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi sertamencari jalan ke luarnya.

Dikatakan, tantangan yang dihadapi itu antara lain bagaimana mengatasi akibat ledakan penduduk di tahun 2000 mendatang yang berdampak pada lonjakan angkatan kerja serta di bidang pendidikan.

Menurut menteri, setiap anggota Pramuka hendaknya ikut berusaha mengembangkan diri, meningkatkan kemampuan, menyiapkan diri, baik secara mental ideologi maupun secara intelektual, keahlian profesional serta kepekaan sosial dalam menghadapi tahun 2000 mendatang. Upaya menyiapkan diri itu juga sudah merupakan salah satu partisipasi Pramuka dan generasi muda pada umumnya dalam pembangunan bangsa.

Dikatakan oleh menteri bahwa sebagai bagian dari generasi muda Indonesia, Gerakan Pramuka mempunyai tugas dan peranan penting dalam upaya membina dan mengembangkan generasi muda.

Sebagai anggota masyarakat, seorang anggota Pramuka harus merupakan anggota masyarakat yang berharga dan dihargai oleh masyarakat. Untuk itu, seorang anggota Pramuka hendaknya mampu memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsanya.

 

Resmikan Proyek

Dalam rangkaian kunjungan kerja dua hari di Timtim, Presiden Soeharto hari Rabu ini akan meresmikan sejumlah proyek-proyek pembangunan yang dipusatkan di Gereja Kathedral Immucalata Conceptio di kota Dili. Adapun proyek pembangunan yang diresmikan itu adalah Gereja Katheral Immaculato Conceptio, Stadion Olahraga Dili, Gedung STM Negeri Dili, Jembatan Uaimui, Kantor Bupati Koka lima dan Kantor Bupati Viqueque.

Gereja Kathedral yang merupakan gereja terbesar di Indonesia ini dibangun dengan dana Rp 1 milyar lebih yang berasal dari pemerintah pusat sebesar Rp 27,8 juta, bantuan Panglima ABRl Rp 400,5 juta, dari Pemda Timtim Rp 350 juta serta dari umat Katolik di Timtim dan luar Timtim Rp 159,1 juta dan pengusaha serta lain-lainnya Rp 82,8 juta.

 

 

Sumber : ANGKATAN BERSENJATA (02/11/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 677-680.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.