Jan 102018
 

PRESIDEN SOEHARTO BUKA MUNAS GERAKAN PRAMUKA DI TIMTIM, MASA DEPAN PENUH TANTANGAN DUNIA

 

 

Dili, Merdeka

Presiden Soeharto hari Selasa ketika membuka Munas Gerakan Pramuka tahun 1988 di Dili, Timor Timur menegaskan ,bangsa Indonesia hams merebut kemajuan tanpa kehilangan kepribadian, karena bangsa yang tidak mempunyai identitas adalah bangsa yang rapuh.

Di depan peserta Munas IV Gerakan Pramuka yang datang dari berbagai penjuru tanah air, Kepala Negara menegaskan, dalam mengejar kemajuan bangsa Indonesia harus tetap memelihara nilai-nilai luhurnya.

“Kita tidak ingin tercabut dari bumi budaya kita sendiri,” tegas Presiden. Presiden yakin bahwa kesadaran yang demikian itulah yang mendorong bangsa Indonesia untuk melaksanakan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.

“Ini berarti bahwa pembangunan nasional kita dituntun oleh wawasan yang sangat jelas dan kuat. Masalah yang kita hadapi bersama adalah bagaimana mewujudkan gagasan luhur itu ke dalam rencana dan kegiatan pembangunan bangsa, ke dalam kehidupan nyata masyarakat,” ujarnya.

Dikemukakan, kesadaran akan masa depan mengharuskan bangsa Indonesia memusatkan perhatian yang makin besar kepada dunia pendidikan mengingat masa depan dunia penuh tantangan.

Tantangan itu, tidak saja dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin pesat, tetapi juga dalam berbagai masalah Bangsa Indonesia harus merebut kemajuan tanpa kehilangan kepribadian, karena bangsa yang tidak mempunyai identitas adalah bangsa yang rapuh.

“Kita harus menyadarkan anak-anak dan remaja kita bahwa tantangan masa depan mereka tidaklah ringan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan mereka nikmati bukanlah tanpa dampak, baik dampak sosial, budaya maupun lingkungan hidup,” demikian Presiden.

Gerakan Pramuka, ujar Presiden, merupakan wahana yang sangat tepat untuk menanamkan dan menumbuhkan kesadaran sosial, budaya dan lingkungan hidup bagi generasi muda, bagi anak-anak dan remaja bangsa Indonesia.

“Program untuk usaha ini perlu kita rencanakan secara lebih baik dan terarah,” Ujarnya.

Presiden mengemukakan, harus dibangkitkan kesadaran pada anak-anak dan remaja bahwa semangat cinta tanah air mestilah diwujudkan dalam usaha membangun tata kehidupan yang lebih baik, mengembangkan kebudayaan yang lebih maju dan memelihara lingkungan hidup yang lebih alamiah.

Kepala Negara berpendapat, sudah saatnya para pemikir pendidikan memperhatikan lebih dalam mengenai tantangan masa depan itu dan memmuskan langkah-langkah yang harus diambil agar bangsa lndonesia tidak menjadi bangsa yang tetap tertinggal di belakang.

Disebutkan, salah satu tujuan luhur Gerakan Pramuka adalah menghidupkan semangat patriotisme di kalangan Generasi Penerus bangsa.

“Melalui Gerakan Pramuka kita berusaha mendidik anak-anak dan remaja menjadi Generasi Penerus yang mempunyai semangat kebangsaan yang tinggi, wawasan kemanusiaan yang dalam dan pandangan yang jauh ke depano”

“Melalui Gerakan Pramuka bangsa Indonesia berusaha mempersiapkan generasi masa depan yang tanggap terhadap tantangan-tantangan yang akan mereka hadapi”

 

Kepercayaan

Dalam sambutannya Gubernur Timtim Mario V. Carasscalao menyebut penyelenggaraan Munas Pramuka di Dili itu sebagai suatu kepercayaan besar bagi rakyat Timtim, mengingat sarana dan kemampuan daerah itu yang masih sangat terbatas.

Namun dia yakin, Munas IV Pramuka yang merupakan peristiwa atau pertemuan besar tingkat nasional yang pertama yang diselenggarakan di Dili itu akan berlangsung sukses.

Munas yang berlangsung sampai 8 Nopember itu diikuti sekitar 500 orang yang terdiri dari Majelis Pembimbing Nasional, Kwartir Nasional, Majelis Pembimbing Daerah dan Kwartir Daerah, Majelis Pembimbing Cabang dan Kwarcab, utusan kwartir Pramuka di luar negeri serta sejumlah peninjau.

Dalam Munas itu mereka akan memberikan penilaian terhadap laporan pertanggung-jawaban Kwartir Nasional masa bakti 1983-1988 kemu dian membentuk komisi khusus untuk menyusun formatur yang akan menetapkan pengurus Kwarnas untuk periode 1988-1993.

Pada akhir Munas, peserta akan menetapkan kwartir daerah yang akan menjadi tuan rumah Munas V tahun 1993. Suasana kota Dili yang berusia 219 tahun itu sekarang semarak bendera dan umbul-umbul berkibar di setiap sudut kota, sementara orang berpakaian seragam terlihat dijalan, di kantor, sekolah dan pasar.

Sudah seminggu ini Dili menjadi “kota pramuka”

Menurut Gubernur Carasscalao, besarnya perhatian masyarakat terhadap Munas disebabkan kegiatan kepramukaan memang sejalan dengan tuntutan kepentingan masyarakat setempat.

Kegiatan mendasar kepramukaan itu meliputi peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan YME, meningkatkan kecerdasan dan keterampilan membentuk budi pekerti luhur, memperkuat kepribadian dan percaya diri sendiri, mempertebal semangat kebangsaan serta menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang berdisiplin dan jujur.

Ada satu kebanggaan dari kepramukaan di Timtim yakni, seluruh anggota Pramuka merupakan hasil didikan murni dalam zaman kemerdekaan sejak Timtim bergabung dengan Indonesia, kata Gubernur.

Dewasa ini di Timtim tercatat 60.351 anggota Pramuka terdiri dari 29.101 pramuka siaga, 21.509 pramuka penggalang, 8.160 Pramuka penegak, 1.581 pendega dan 1,311 pembina.

Kegiatan Pramuka yang tersebar hingga pelosok desa secara langsung telah menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi generasi muda serta ikut aktif dalam upaya pemberantasan buta huruf.

Kunjungan Presiden ke Timtim kali ini merupakan yang kedua kalinya, setelah kunjungan tahun 1978 ketika propinsi bekas jajahan Portugal itu merayakan ulang tahun ke-2 integrasi ke dalam wilayah kesatuan RI.

Selesai membuka Munas Gerakan Pramuka 1988 di Gedung Serba Guna Matahari Terbit, Presiden yang disertai Nyonya Tien Soeharto kemudian meninjau Bumi Perkemahan Gerakan Pramuka Akanunu dan menyaksikan pergelaran drum band dengan alat musik tradisional dan kegiatan ketrampilan saka-saka. Dilanjutkan dengan penanaman pohon cendana.

Presiden Soeharto menginap satu malam di Dili. Hari Rabu ini Presiden meresmikan berbagai proyek pembangunan di Timtim yang dipusatkan di Katedral Imaculada Conceicao. Proyek yang diresmikan itu meliputi Katedral, Stadion Dili, STM Negeri Dili, Gedung Kantor Bupati Kovalirna, Jembatan Uaimui.

 

 

Sumber : MERDEKA(02/11/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 680-683.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: