Mei 142018
 

PRESIDEN SOEHARTO AJAK SULTAN BRUNEI BANTU KERJASAMA SELATAN-SELATAN [1]

 

Jakarta, Pelita

Presiden Soeharto mengajak Sultan Hasanal Bolkiah membantu kerjasama Selatan-Selatan misalkan memberikan dana bagi negara-negara di Afrika yang ingin belajar pertanian di Indonesia.

Ajakan itu dikemukakan Kepala Negara ketika bertemu dengan Sultan Brunei di Bandar Seri Begawan, Selasa (6/10/1992) sebelum mengakhiri kunjungannya di negeri tersebut.

Dalam keterangannya kepada wartawan mengenai hasil pertemuan Presiden Soeharto dengan Sultan Hasanal Bolkiah, Mensesneg Drs. Moerdiono mengemukakan, secara khusus Presiden mengundang Brunei agar ikut serta dalam kerjasama Selatan-Selatan.

Secara lebih konkret, Indonesia menawarkan pengalamannya dalam peningkatan produksi pangan khususnya dengan negara Afrika yang mengalami kelaparan. Peningkatan kerjasama yang paling tepat dengan mengundang petani dari Afrika yang memerlukan pengalaman untuk tinggal di tengah-tengah petani Indonesia, dengan demikian mereka tahu dalam praktik sesungguhnya upaya apa yang telah dilakukan Indonesia dalam meningkatkan produksi pangan.

Tetapi, kata Mensesneg banyak negara-negara Afrika mengalami kesulitan dana untuk mengirimkan petaninya ke Indonesia. Dan, kita pun juga tidak cukup mempunyai biaya untuk mengundang mereka ke Indonesia. Melalui kerjasama ini, diharapkan Brunei dapat memberikan dana untuk membiayai perjalanan petani tersebut ke Indonesia.

Presiden dan Ibu Tien Soeharto berada di ibukota negara tetangga itu untuk menghadiri 25 tahun naik tahtanya Sultan Hasanal Bolkiah. Kepala Negara yang berada di Brunei Darussalam sejak Senin (5/ 10) didampingi Mensesneg Moerdiono, Menlu Ali Alatas dan seorang puteri Presiden, Ny. Siti Hardiyanti Rukmana .

 

Ramos dan Leekpai

Di Bandar Seri Begawan, kemarin Presiden Soeharto secara berturut-turut menerima kunjungan PM Thailand Chuan Leekpai dan Presiden Filipina Fidel Ramos.

Mengenai pertemuan Presiden Soeharto dengan Presiden Fidel Ramos, Mensesneg mengatakan, Presiden Ramos menyampaikan terima kasih kepada Presiden Soeharto atas bantuan Indonesia, sehingga Filipina dapat diterima menjadi anggota GNB.

Presiden Ramos menjelaskan kepada Presiden Soeharto, di dalam pemerintahnya Ramos akan menaruh perhatian yang besar pada pembangunan ekonomi dalam negerinya setelah masalah politik dapat diselesaikan.

Presiden Ramos dan Presiden Soeharto juga membicarakan hasil KTT ke-10 GNB di Jakarta, awal September lalu. Secara khusus Ramos menyoroti masalah utang dari dunia ketiga dan mengharapkan agar di bawah kepemimpinan Indonesia masalah utang itu, yang juga menjadi salah satu perhatian KTT GNB dapat dicari pemecahannya.

Presiden Soeharto yang juga Ketua GNB menyampaikan pandangannya, sebenarnya negara industri maju telah mempunyai komitmen untuk menyisihkan 0,7 persen dari GNP mereka untuk membantu sebesar 0,37 persen yang telah diberikan, sehingga masih kurang sekitar 0,3 sampai 0,4 persen. Jumlah ini jika dihimpun semuanya, maka negara industri maju masih mempunyai kekurangan sekitar 50 milliar dolar AS dari komitmen yang sudah mereka nyatakan sendiri.

Dalam pertemuan itu Presiden Soeharto menekankan kembali pentingnya kerjasama Selatan-Selatan, bukan hanya dapat segera ditanganinya masalah-masalah sosial ekonomi Selatan-Selatan, tapi dengan kerjasama konkret antara Selatan­ Selatan, maka Selatan akan mempunyai bobot dalam berdialog dengan Utara.

Mengenai masalah orang-orang Indonesia yang berada di Filipina, Presiden Ramos mengatakan bahwa hal itu dapat diselesaikan sebaik-baiknya dan pejabat antara kedua pemerintahan dapat bertemu. Kedua Kepala Negara menganggap penting sekali pertemuan yang lebih sering dan lebih teratur antara pejabat kedua negara.

 

Masalah Kamboja

Sedangkan dengan Perdana Menteri Thailand Chuan Leekpai juga dibahas masalah bilateral dan perkembangan masalah Kamboja. Leekpai sebagai PM baru menyadari diantara negara anggota ASEAN ada kelaziman Kepala Pemerintahan yang baru segera mengadakan kunjungan perkenalan kepada Kepala Pemerintahan yang lain di ASEAN.

Karena banyak masalah yang harus diselesaikan di Thailand, maka kunjungan itu belum dapat dilakukan.

“Dan itu dikatakan PM Thailand, dan pertemuan di Bandar Seri Begawan kiranya dapat dianggap sebagai bagian perkenalan pribadi antara PM Thailand dan Presiden RI, Presiden menyadari hal itu sepenuhnya,” ucap Moerdiono.

Mengenai masalah regional, Indonesia mengharapkan agar Thailand dapat ikut berperan lebih besar lagi dalam rangka penyelesaian masalah Kamboja, karena akhir­ akhir ini mengalami sedikit kemacetan. Menlu Perancis yang ditugasi Sekjen PBB untuk segera mencari jalan keluar dari kemacetan ini.

PM Leekpai mengatakan, telah menjadi komitmen pemerintahnya mengambil peran yang aktif untuk menyelesaikan masalah itu, sesuai dengan persetujuan Paris.

Setelah melakukan kunjungan selama dua hari di Brunei Darussalam,Presiden dan Ibu Tien Soeharto beserta rombongan tiba di Jakarta, Selasa sore. Di Bandara Halim Perdanakusuma, Presiden dan Ibu Tien disambut oleh Wakil Presiden dan Ibu EN Sudharmono serta sejumlah menteri dan pejabat lainnya.

Sumber: PELITA (07/10/1992)

 

 

_________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 365-366.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: