Agu 092018
 

PRESIDEN SOEHARTO AJAK ASEAN LEBIH AKTIF CIPTAKAN KEADILAN[1]

Kuala Lumpur, Antara

Presiden Soeharto mengajak negara-negara ASEAN untuk menganggap situasi dunia yang kini masih belum stabil dan tidak menentu sebagai suatu tantangan untuk memainkan peranan lebih aktif bagi menciptakan hubungan internasional yang lebih adil.

Kepala Negara juga mengharapkan keharmonisan hubungan di antara negara­negara anggota ASEAN saat ini dapat mendorong terciptanya hubungan dan kerjasama yang lebih harmonis di antara negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Ajakan dan harapan tersebut dikemukakan Presiden dalam pesan tertulisnya yang disampaikan Ketua DPR/MPR Wahono pada hari pertama sidang Organisasi Parlemen IntraASEAN (AIPO) ke-14 di Kuala Lumpur, Senin.

Sidang yang dijadwalkan berlangsung lima hari itu antara lain akan membahas rancangan sebuah deklarasi tentang penegasan sikap bersama ASEAN dalam masalah pelaksanaan hak-hak asasi manusia.

Kepala Negara berpendapat situasi perekonomian dunia menunjukkan gambaran yang agak kurang menentu. Kecenderungan proteksionisme belum mereda, sementara masalah-masalah yang menyangkut hubungan Utara-Selatan belum menunjukkan indikasi penyelesaian yang lebih adil.

Beban utang negara-negara berkembang, sambungnya, merupakan suatu isu mengkhawatirkan yang terus meningkat.

Menurut Presiden, dalam kondisi itu, ASEAN perlu bersyukur bahwa kerjasama regional dalam konteks ASEAN berkembang lebih erat.

Ia menilai ASEAN lewat kerjasama itu berhasil mengambil langkah-langkah strategis yang memberi sumbangan penting untuk menciptakan iklim lebih baik bagi memperkokoh kerjasama intra ASEAN dan kerjasama dengan negara-negara lain.

Transisi

Presiden mengatakan perang dingin kini sudah berakhir dan ketegangan Timur ­Barat pun telah mereda Ia berpendapat, dunia kini berada pada sebuah periode transisi menuju pembentukan tata internasional bam.

Akan tetapi,  di berbagai kawasan masih terlihat konflik bersenjata akibat intervensi asing maupun percekcokan dalam negeri akibat konflik etnis, agama, rasial dan kemunculan nasionalisme sempit.

“Perkembangan ini telah mempengaruhi hubungan internasional baru yang kita harapkan dapat menciptakan peluang lebih baik bagi terciptanya dunia yang aman, adil dan makmur,” katanya.

Menyinggung masalah Kamboja, Kepala Negara menyatakan wajar jika ASEAN memperluas bantuannya kepada rakyat Kamboja dalam melakukan konsolidasi dan pembangunan kembali negara mereka.

Pernyataan senada tentang situasi dunia saat ini juga dikemukakan para kepala negara/pemerintahan ASEAN lain dalam pesan tertulis mereka pada sidang AIPO di Kuala Lumpur itu.

Deputi PM Malaysia Ghafar Baba mengatakan masih banyak yang perlu dilakukan ASEAN untuk mengikuti perubahan global, sedangkan Presiden Singapura Ong Teng Cheong berpendapat ASEAN harus memperluas kerjasama untuk menghadapi situasi tidak menentu dunia dewasa ini.

Sementara itu, Presiden Pilipina Fidel Ramos menekankan perlunya ASEAN menunjukkan komitmen untuk menyukseskan missi AIPO, sedangkan PM Thailand Chuan Leekpai mengatakan negaranya ingin melihat Kamboja dan Myanmar menyertai ASEAN bagi membantu mewujudkan keamanan, kestabilan dan kemakmuran di kawasan tersebut.

(FAC. KL03/DN01120/09/93 22:07/RU6/23:59)

Sumber : ANTARA (20/09/1993)

________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 239-241.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: