Sep 222017
 

PRESIDEN RI RESMIKAN PABRIK TEH HITAM JABAR

 

 

 

Tasikmalaya, Antara

Presiden Soeharto mengatakan, kerja sama petani teh dengan pabrik merupakan salah satu contoh nyata upaya pengembangan kerjasama pengusaha kecil dan yang besar dalam pembangun.

Dalam sambutannya ketika secara simbolis meresmikan empat pabrik teh hitam milik PT Tehnusamba Indah di Desa Margalaksana Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa, Presiden mengatakan, kerjasama itu juga merupakan contoh nyata dari wujud demokrasi ekonomi Indonesia yang berazaskan kekeluargaan.

Kepala Negara mengatakan, pabrik secara sadar memang tidak menanam sendiri pohon teh untuk memenuhi kebutuhannya, tapi teh-teh itu diperoleh dari petani-petani sekitarnya.

“Dengan menjual pucuk daun teh ke pabrik, petani akan mendapat jaminan bahwa jualannya itu mendapat harga yang sebaik-baiknya. Dengan harga yang baik itu maka kita semua juga berharap penghasilan petani akan meningkat,” kata Kepala Negara sambil meminta perhatian para petani agar daun teh yang diserahkan kepada pabrik tetap tinggi mutunya dan dalam jumlah yang memadai sehingga pabrik bisa berfungsi dengan baik.

“Berfungsinya pabrik dengan baik pada gilirannya akan memberikan manfaat besar kepada para petani teh itu sendiri.” Keempat pabrik pengolah teh rakyat PT Tehnusamba Indah yang di resmikan Presiden itu, berlokasi di Sukabumi, Cianjur, Garut dan Tasikmalaya.

Tentang kerjasama pengusaha kecil, menengah dan besar, Presiden Soeharto mengatakan, hal itu bukan saja mungkin dilaksanakan, tapi memang harus dilakukan. “Perusahaan besar, menengah dan kecil tidak mungkin hidup sendiri secara terpisah­ pisah, tapi ketiganya saling memerlukan dan saling mengisi,”kata Kepala Negara.

Presiden menjelaskan, jika pabrik-pabrik teh itu sudah berjalan baik maka sebagian sahamnya akan dijual kepada para petani melalui koperasi.

Koperasi, kata Presiden, memang baru menangani berbagai kegiatan yang nampaknya sederhana dan kecil-kecil. Tapi jika ia telah tumbuh dan berakar kuat dimana-mana maka koperasi pun harus dapat menangani kegiatan-kegiatan yang besar danluas.

Dengan kehadiran pabrik teh ini, kata Kepala Negara, berarti telah pula kita mulai usaha-usaha nyata memperbaiki kembali citra teh hitam, baik di dalam negeri maupun di pasaran dunia.

“Kita memang menyadari bahwa selama ini penanganan teh hitam agak terbengkalai, yakni sejak berakhirnya Perang Dunia II. Karena itu , dengan membangkitkan kembali citra teh hitam di pasaran ini akan merupakan perjuangan tersendiri,” kata Presiden sambil berharap kerjasama PT Tehnusamba dengan para petani dapat menjadi contoh bagi pabrik-pabrik lain, termasuk di bidang kegiatan ekonomi lainnya.

Investasi yang ditanamkan PT Tehnusamba Indah dalam mengelola teh hitam di Jawa Barat ini sekitar Rp 3,5 miliar dengan pemrakarsa pembangunannya Presiden Soeharto sendiri.

Luas perkebunan teh rakyat yang akan menunjang keempat pabrik itu 5.850 ha dengan jurnlah petani 7.100 orang. Sedang produksi 22 ton pucuk teh basah tiap hari atau sekitar 1.500 ton tiap tahun. (LS)

 

 

Sumber: ANTARA (07/09/1987)

 

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 530-531.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: