Nov 142017
 

PRESIDEN RI MENTERI LINGKUNGAN ASEAN III

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Jakarta, mengatakan, kawasan Asia Tenggara harus menjadi zona bebas, damai dan netral.

Zona bebas, damai dan netral itu akan dapat diwujudkan apabila ketahanan nasional masing-masing negara anggota ASEAN mantap, kata Presiden sewaktu menerima peserta Pertemuan Menteri Lingkungan ASEAN III, Sabtu.

Para Menteri Lingkungan ASEAN tersebut adalah Deputi Menteri Pembangunan Brunei Darussalam, Dato Paduka Hj Selamat Hj Munap, Menteri Iptek dan Lingkungan Malaysia, Datuk Amar Stephen K.T. Yong, Menteri Lingkungan dan Sumber daya Alam Filipina, Fulgencio S.

Factoran, dan Menteri Lingkungan Singapura, Ahmad Mattar, Menteri Iptek dan Energi Thailand, Banyat Bantadtan serta Meneg KLH, Prof. Dr. Emil Salim.

Ia mengatakan ketahanan nasional itu sendiri akan dapat diwujudkan apabila stabilitas nasional tercipta melalui pelaksanaan pembangunan di segala bidang.

Tetapi diingatkan oleh Presiden, agar hendaknya dalam melaksanakan kegiatan pembangunan itu masalah sumber daya alam dan lingkungan tidak boleh diabaikan.

Karena dengan mengabaikan masalah-masalah sumber daya alam dan lingkungan, berarti stabilitas nasional sulit diciptakan.

Untuk itu Presiden mengharapkan kepada Menteri Lingkungan ASEAN agar dalam rangka melaksanakan kegiatan pembangunan nasional menuju terciptanya stabilitas dan ketahanan nasional, keutuhan sumber daya alam dan lingkungan tetap dijaga.

Meneg KLH, Emil Salim didampingi para Menteri Lingkungan ASEAN seusai diterima Presiden mengatakan, hasil-hasil Pertemuan Menteri Lingkungan ASEAN akan diajukan ke KTT ASEAN di Manila, Filipina, Desember mendatang.

Salah satu hasil yang akan diajukan dalam KTT tersebut adalah yang menyangkut usulan pembentukan Komite Lingkungan Hidup ASEAN.

Dikatakan, selama ini masalah lingkungan kedudukannya berada dalam Komite lptek, dibawah koordinasi Menlu ASEAN, dan terpisah sama sekali dari komite­komite ekonomi seperti pertanian dan industri.

“Padahal yang mungkin mengakibatkan terjadinya pencemaran antara lain adalah sektor-sektor pertanian maupun industri,” katanya.

Jakarta, ANTARA

Sumber : ANTARA (31/10/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 860-861.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: