Jul 132018
 

PRESIDEN RESMIKAN PROYEK-PROYEK DI SULSEL : KESEJAHTERAAN JELAS TELAH MENINGKAT[1]

Ujung Pandang, Pelita

Presiden Soeharto mengatakan, pembangunan yang dilaksanakan adalah pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan kesejahteraan itu jelas telah meningkat. Tapi, disadari bahwa tugas-tugas yang dihadapi bangsa ini masih tetap besar.

Kepala Negara mengemukakan hal itu di Ujungpandang, Kamis (16/7), sesaat sebelum meresmikan berbagai proyek yang selesai dibangun di Sulawesi Selatan yang nilai seluruhnya Rp44,3 milyar.

Menurut Presiden, pembangunan bukanlah kegiatan sekali jadi, melainkan rangkaian kegiatan bertahap, terpadu dan dilakukan terus-menerus tanpa mengenal henti. Pembangunan juga tidak selalu berjalan mulus, selalu ada tantangan, hambatan dan gangguan. Oleh karenanya, dalam melaksanakan pembangunan, semangat membangun harus selalu dipelihara.

Proyek-proyek yang pengoperasiannya diresmikan oleh Presiden Soeharto itu masing-masing RS Haji Ujungpandang, Kantor Gubernur KDH Tk. I Sulsel, Gedung Juang 45, pabrik kelapa sawit Luwu dan kapallatih perikanan, politeknik pertanian, Universitas Hasanuddin.

Acara peresmian yang dipusatkan di halaman kantor baru Gubernur KDH Tk. I Sulsel di Ujungpandang itu, selain dihadiri Ny. Tien Soeharto, Mendagri Rudini, Menteri Agam a H. Munawir Sjadzali MA, Mendikbud Fuad Hasan dan Menteri Pertanian Wardoyo, juga Gubernur H.A. Amiruddin , Pangdam VII Wirabuana Mayjen Z.B. Palaguna, Rektor Unhas Prof Dr. H. Basri Hasanuddin, seluruh Bupati/Waliktoa se-Sulsel dan pimpinan instansi pemerintah di Sulsel.

Kepala Negara berharap, dengan selesainya pembangunan proyek-proyek ini akan memberi manfaat bagi masyarakat luas, dapat meningkatkan kesejahteraan umum dan lebih meningkatkan kegairahan masyarakat untuk membangun.

Perbedaan

Di bagian lain sambutannya, Presiden Soeharto mengatakan, dewasa ini kemajuan-kemajuan yang dicapai terasa di mana-mana di seluruh Tanah Air. Semua daerah mengalami kemajuan. Tapi, kata Kepala Negara, memang ada daerah yang lebih cepat membangun dari daerah-daerah lain. Menurut Presiden, perbedaan itu terjadi karena adanya perbedaan kemampuan dalam memanfaatkan kesempatan yang terbuka, baik berupa kemampuan sumber daya alam, sumber daya manusia maupun masih terbatasnya prasarana-prasarana ekonomi. Namun, kata Presiden, secara bertahap kita bertekad untuk meningkatkan kemampuan semua daerah agar lebih merata pada tingkat yang lebih tinggi.

Menyinggung gerak pembangunan Sulsel, Presiden mengatakan, rakyat Sulsel terkenal memiliki semangat yang tinggi, ulet dan dinamis. Rakyat yang berani mengarungi lautan, menempuh ombak dan badai. Karena itu Presiden merasa yakin bahwa pembangunan di daerah ini akan terus bergerak maju dan kesejahteraan rakyat akan terus meningkat serta bertambah baik.

Presiden Soeharto mengatakan, secara kebetulan peresmian RS Haji Ujungpandang dilakukan bertepatan dengan saat kepulangan jamaah haji bangsa Indonesia yang baru saja selesai. Rumah sakit ini adalah salah satu dari empat buah RS serupa yang dibangun di Medan, Jakarta dan Surabaya. Presiden mengharapkan, kehadiran RS ini hendaknya dapat menambah sarana pelayanan kesehatan masyarakat.

Dalam kunjungan kerja selama dua jam di Ujungpandang ini, selain menandatangani prasasti kelima proyek yang selesai dibangun itu, Presiden juga menyaksikan visualisasi proyek-proyek yang baru diresmikan.

Acara memasuki kantor baru gubernur KDH Tk I Sulsel, ditandai dengan pengguntingan rentangan sarung bugis oleh Ny. Tien Soeharto. Gedung baru kantor Gubernur Sulsel itu menghabiskan dana sebesar Rp20,9 miliar yang berasal dari APBD Tk I Sulsel sejak tahun anggaran 1987/1988.

Presiden beserta Ny. Tien Soeharto dan beberapa Menteri Kabinet Pembangunan V sebelum bertolak kembali ke Ibukota, berkesempatan meninjau RS Haji Ujungpandang. Pembangunan RS tahap I ini diatas tanah seluas dua hektar, berkapasitas 60tempat tidur, merniliki fasilitas gedung adrninistrasi ,gedung poliklinik, gedung laboratorium, ruang operasi, ruang rontgen, ruang perawatan, ruang dapur dan sebuah mushalla. Gedung-gedung dengan arsitektur yang sesuai iklim tropis ini, menampilkan enam klinik yang ditangani dokter ahli atau spesialis. Sehingga RS ini disebut Type CPlus. Karena, selain merniliki klinik bedah,klinik penyakit dalam,klinik anak dan kebidanan serta klinik mata, juga memiliki klinik gigi dan klinik THT (telinga, hidung dan tenggorokan) dengan peralatan medis yang mutakhir dan canggih.

Pembangunan tahap II, menurut Arniruddin, yang berkapasitas 90 tempat tidur di atas tanah seluas 5,1 hektar. Pembangunan tahap I yang diresmikan Presiden, telah menggunakan dana seluruhnya Rp5,3 miliar, termasuk biaya konstruksi sebesar Rp1,3 miliar dan kelengkapan medis sebesar Rp3,4 miliar. (Bur/Daniel R.Sendouw).

Sumber: PELITA (07/07I 1992)

___________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 585-587.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: