Sep 042017
 

PRESIDEN RESMIKAN PABRIK BAJA CANAI CILEGON

 

 

Presiden Soeharto mengingatkan bahwa perlindungan yang diberikan Pemerintah kepada sesuatu industri pada hakekatnya merupakan pengorbanan masyarakat, sehingga tidak mungkin dipikul terus-menerus.

“Hendaknya disadari, perlindungan itu haruslah bersifat sementara dan hanya untuk waktu yang terbatas”, tegas Presiden hari Senin ketika meresmikan pabrik baja lembaran canai dingin, PT. Cold Rolling Mill Indonesia Utama, di kawasan industri Cilegon, Banten, Jawa Barat.

Sebagai industri yang baru berdiri, wajarlah pabrik baja lembaran jenis baru di Indonesia itu memerlukan perlindungan awal. Namun, kata Presiden, perlindungan tersebut haruslah bersifat sementara.

Pabrik baru di Cilegon itu dibangun dengan investasi 803,13 juta dolar AS dan memiliki kapasitas terpasang 850.000 ton baja lembaran per tahun. Tenaga kerja yang diserap sekitar 1.200 orang.

Produknya terdiri dari bahan baku baja lapis seng, bahan baku untuk pipa, bahan baku untuk galvanis serta bahan baku untuk lembar baja lapis timah (tin-plate).

Selama ini baja lembar canai dingin masih sepenuhnya diimpor melalui PT. Krakatau Steel, persero milik negara di bidang industri baja. Setelah beroperasinya pabrik baru itu diharapkan impor tersebut dapat dihentikan, sehingga dapat menghemat devisa sekitar 82 juta dolar AS setahun.

Keperluan di dalam negeri dewasa ini sekitar 600.000 ton setahun, sehingga pabrik canai dingin itu dapat mengekspor kelebihan produknya.

Saham PT. Cold Rolling Mill Indonesia Utama dipegang tiga perusahaan yaitu PT. Krakatau Steel (40 persen), PT. Kaolin Indah Utama (40 persen) dan Sistiacier SA (20 persen).

Persaingan Ketat

Dalam sambutannya Presiden menyatakan gembira melihat industri baja Indonesia semakin mantap, antara lain terlihat dari terus turunnya komposisi impor produk-produk baja karena diisi produk baja dalam negeri.

“Pabrik ini harus mampu menghasilkan produk-produk lembaran baja tipis secara efisien dengan biaya produksi sewajarnya, sesuai dengan keperluan dan perkembangan industri hilir, yang selama ini menggunakan lembaran baja impor”, ujar Presiden.

Walaupun berbesar hati dengan kemajuan industri baja, namun Presiden mengatakan bahwa keberhasilan Indonesia dalam menerobos pasaran intemasional belum sebagaimana diharapkan.

“Kita menyadari bahwa kita masih harus menempuh jalan panjang dalam membangun industri baja yang dapat diandalkan”, demikian Kepala Negara.

Peresmian pabrik baja lembaran canai dingin itu dihadiri sejumlah menteri kabinet dan beberapa kepala perwakilan asing di Indonesia.

Dalam kesempatan di Cilegon itu Presiden dan rombongan melihat proses produksi dan berbagai fasilitas pada pabrik baru itu, sebelum kembali ke Jakarta. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (23/02/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 395-396.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: