Mei 092017
 

PRESIDEN RESMIKAN BENDUNGAN SERBAGUNA WONOGIRI MELALUI PEMBANGUNAN BANGSA INDONESIA BERUSAHA MENGUBAH NASIB

Masalah-masalah yang harus ditangani dalam pembangunan tidak akan pernah selesai, sebab pembangunan selalu membawa persoalan baru dan juga tuntutan baru. Namun bangsa Indonesia tetap bertekad melaksanakan pembangunan.

Melalui pembangunan yang dilaksanakan secara besar-besaran, bangsa Indonesia berusaha mengubah nasibnya, mengubah keadaan masa lampau yang buruk menjadi masa depan yang lebih baik, menggantikan masa lampau yang serba kekurangan menjadi zaman baru yang serba kecukupan, dan merombak masyarakat lama yang timpang menjadi masyarakat baru yang maju, sejahtera dan berkeadilan sosial berdasarkan Pancasila sebagaimana dicita­citakan sejak Proklamasi Kemerdekaan.

Hal itu diketengahkan Presiden Soeharto dalam amanatnya etika meresmikan waduk Serbaguna Wonogiri, Jawa Tengah, Selasa kemarin, disaksikan oleh puluhan ribu warga masyarakat yang ikut hadir menyaksikan jalannya upacara.

Ditegaskan oleh Kepala Negara, pembangunan juga merupakan perjuangan yang tidak sepi dari duka dan derita.

"Bahkan mungkin juga diselingi oleh kegelisahan dan keresahan," ucap Presiden.

Pembangunan kadang-kadang memang memerlukan pengorbanan yang sulit dihindari, kendati pengorbanan itu tidak selamanya berarti penderitaan, tetapi seringkali hanya minta kemampuan menahan diri pada saat ini untuk mencapai hasil yang lebih besar di kemudian hari. Pembangunan merupakan proses yang panjang, apa yang dikerjakan hari ini baru akan dapat dirasakan hasilnya beberapa tahun kemudian.

"Tetapi kita akan tabah memikul beban pembangunan ini, karena pada akhirnya kita sendiri dan anak cucu kita yang akan merasakan hasil pembangunan itu," kata Presiden.

Kepada segenap rakyat Presiden mengajak untuk terns bergerak maju, bahu membahu melaksan akan pembangunan, memelihara yang telah tercapai dan meningkatkannya.

Pengorbanan Rakyat Wonogiri

Menyinggung pengorbanan, Presiden mengatakan, pelaksanaan proyek Bendungan Serbaguna Wonogiri juga minta pengorbanan dari sebagian masyarakat daerah Wonogiri. Lebih dari 13 ribu kepala keluarga yang tinggal di kawasan bendungan terpaksa melepaskan sawah, ladang, dan tempat tinggal karena semuanya tergenang air bendungan.

Pemerintah memang telah memberi ganti rugi dan mentransmigrasikan penduduk ke tanah-tanah luas yang masih kosong di luar pulau Jawa. Di tempat baru itu mereka memperoleh lahan pertanian sebagai miliknya.

"Namun kesadaran dan kesediaan penduduk untuk meninggalkan daerah ini agar di sini dapat dibangun bendungan besar, sungguh pantas kita hargai setinggi-tingginya."

"Pengorbanan mereka bukanlah pengorbanan yang sia-sia," kata Presiden.

Bendungan itu akan membawa perbaikan keadaan bagi masyarakat luar. Dengan selesainya bendungan, banjir 60 tahunan yang biasa melanda kawasan Sukoharjo, Karanganyar, dan Surakarta akan dapat dikendalikan, dan ribuan hektar sawah akan dapat diairi di samping bertambahnya aliran listrik.

“Atas kesediaan masyarakat daerah ini melepaskan tanah mereka sehingga Bendungan Serbaguna Wonogiri dapat diselesaikan pembangunannya, saya pribadi dan atas nama Pemerintah mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya," ucap Presiden.

Penghargaan juga disampaikan oleh Kepala Negara kepada Departemen Pekerjaan Umum dan semua pihak yang telah ikut menyelesaikan proyek itu.

Pemanfaatan Sumber Daya Alam

Menjelaskan arti pembangunan bendungan, Presiden mengatakan, hal itu merupakan usaha memanfaatkan dan mengembangkan sumber daya alam. Karenanya, pelaksanaan proyek merupakan langkah untuk menciptakan landasan masyarakat adil dan makmur sebagaimana ditetapkan dalam GBHN.

Pembangunan proyek merupakan bagian dari pembangunan di bidang ekonomi yang mendapatkan prioritas pertama dalam cara pembangunan dewasa ini, karena hanya dengan pembangunan ekonomi, kesejahteraan rakyat dapat ditingkatkan. Pembangunan ekonomi ternyata juga telah mencapai kemajuan sehingga ekonomi nasional bertambah baik dan kehidupan serta kesejahteraan rakyat terus meningkat.

Tercapainya kemajuan itu akan mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri bangsa Indonesia, dan bangsa ini memang mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pembangunan.

Pengendalian Banjir dan Pengairan Sawah

Kepala Proyek Ir. Suminta, yang saat itu berpakaian adat kebesaran daerah Solo lengkap dengan kain, destar dan keris, melaporkan di hadapan Presiden, bahwa bendungan Serbaguna Wonogiri seluas 8.800 hektar mampu mengendalikan arus sungai Bengawan Solo dari 4.000 m3 per detik menjadi 400 m3 per detik.

Dengan pengendalian air itu, bendungan mampu mengairi secara teknis 23.200 hektar sawah dan dari pengembangan anak sungainya mampu mengairi lagi 23.600 hektar sawah.

Biaya pembuatan waduk sebesar Rp. 58.78 terdiri dari dana APBN sebesar Rp. 36 miliyar lebih dan pinjaman dari Pemerintah Jepang senilai Rp 22 miliyar lebih.

Selain itu masih tersedia dana Rp.10 miliyar lebih yang belum terpakai Pembangunan memakan waktu 5 tahun termasuk persiapan. Pembangunan proyek itu mengakibatkan 14.000 KK berasal dari 51 desa terpaksa harus pindah. Sebanyak 10ribu KK lebih telah bertransmigrasi "bedol desa" ke Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu.

Pembangunan yang tidak mengenal lelah termasuk juga pada waktu bulan puasa dari para pekerja telah memungkinkan proyek itu selesai lebih cepat dari rencana.

Menurut Suminto, banyak pihak telah membantu terlaksananya proyek itu, bahkan secara tersendiri ia menyebutkan adanya peranan Fraksi Karya Pembangunan DPR yang tekun mengikuti dan memberikan sumbangan pikiran terhadap pelaksanaan proyek.

Sementara itu, Menteri PU Purnomosidi Hadjisarosa dalam sambutannya menjelaskan pentingnya pengendalian arus sungai Bengawan Solo, baik pada saat banjir maupun musim kemarau.

Dilaporkan pihaknya dewasa ini sedang meninjau kembali rencana pembangunan bendungan serbaguna Jipang sebagai upaya pengendalian air di bagian hilir Bengawan Solo.

Menurut Menteri, disain proyek Jipang itu akan dipertimbangkan untuk penyesuaian, mengingat pemakaian air sungai Bengawan Solo meliputi juga masyarakat Gresik, Jawa Timur yang memerlukan debit air yang cukup tinggi agar air asin tidak masuk ke hulu.

Ikut memberikan sambutan Gubernur Jawa Tengah Supardjo Rustam.

Upacara Meriah

Upacara peresmian bendungan itu ditandai dengan acara yang megah dan meriah ditengah hujan rintik-rintik berselang seling dengan panas matahari.

Tarian daerah kreasi baru diiringi musik gamelan Solo ikut memeriahkan jalannya upacara selesai menandatanganan prasasti yang disusul penekanan tombol tanda peresmian Presiden Soeharto, Ibu Tien Soeharto dan para Menteri Kabinet yang hadir disuguhi pertunjukan olah raga layang-gantung juga dipertunjukkan tetapi tidak berhasil mendekat tempat upacara karena arah angin tidak memungkinkan.

Jenis-jenis oleh raga yang dipertunjukkan sangat memungkinkan untuk dikembangkan di daerah itu berkat kehadiran waduk Wonogiri.

Cium Keibuan

Di tengah tengah kernegahan upacara, Presiden sempat pula menyampaikan penghargaan kepada keluarga dari pekerja yang meninggal dalam melaksanakan tugas pembangunan proyek serta wakil para transmigrasi asal Wonogiri yang kini bermukim di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Karban yang meninggal dalam menjalankan tugas tercatat 6 orang, yaitu Tukino, Tukiman, Mangunredjo, Djaenuri, Susilo, Pratorno, Maseri dan Sardi.

Wakil transmigran yang mendapat penghargaan atas pengorbanan merelakan tanahnya untuk pembangunan waduk yaitu Djimin Martosuwito (Sitiung, Sumatera Barat), Sugiharto (Kuro Tidur-Bengkulu), Hadisuprapto (Rimbo Bujang-Jambi) dan Kamino dari Panggang, Sumatera Selatan.

Rasa haru terlihat di wajah mereka beserta isteri ketika mendapat bingkisan dan jabatan tangan penghargaan Presiden dan lbu Tien. Bahkan lbu Tien tanpa ragu-ragu menyampaikan cium keibuan kepada "para mbok tani" yang kelihatan wajahnya berkilat kehitaman disengat terik matahari ketika bekerja di ladang. Mata berkaca-kaca penuh haru terlihat diwajah para ibu transmigran.

Dalam kesempatan lain Presiden sempat bertanya kepada petani transmigran "ingin kembali kesini lagi ndak".

"Wah tidak pak, sudah kerasan di sana," jawab mereka serempak.

Patung Mengharukan

Selesai upacara resmi Presiden dan Ibu Tien beserta rombongan mengadakan peninjauan di seputar pelataran tempat upacara. Tidak ketinggalan Presiden memperhatikan patung "keluarga Pak Tani" yang di bawahnya tercantum prasasti yang menyebutkan jumlah desa yang tergenang air.

Prasasti itu bersemboyan "Jer Basuki Mawa Beya" yang artinya untuk mencapai kebahagiaan memang memerlukan pengorbanan"

Patung itu menggambarkan sebuah keluarga Tani yang bergegas hendak pergi meninggalkan kampung halamannya "mbok Tani" dengan wajah tenang tetapi kelihatan penuh pikiran menggendong bungkusan dan botol air minum sambil memanggul anaknya laki-laki yang kecil melangkah maju ke depan, sedang anak perempuan yang lebih besar tampak dengan gembira menatap masa depan, membawa tas sekolah ikut bergegas Pak Tani yang berpakaian beskap model Solo lengkap dengan ikat pinggang dan sarung yang dilihat dengan tangan kiri menjinjing cangkul, tampak tertegun sejenak.

Ia menoleh kebelakang sambal melambaikan "caping" (topi dari bambu) seolah-olah berkata "selamat tinggal" kampung halamanku yang kini telah tenggelam menjadi danau. Keluarga petani itu berangkat menuju masa depan yang baru dengan membawa bekal buku Tabanas di kantongnya serta tekad yang besar.

"Sungguh berbicara patung ini mengharukan," komentar beberapa yang menyaksikan. Patung itu dibuat oleh Singgih, seniman dari Yogyakarta.

Pelepasan burung

Sebagai usaha gerakan pelestarian alam, pada upacara itu dilakukan juga pelepasan sejumlah burung dan ikan. Jenis burung yang dilepaskan al. balam, jalak, parkit, kutilang, pipit, bondol, gereja, dan murai. Sayang sekali kesadaran masyarakat akan gerakan kelestarian alam belum tertanam secara mendalam, sehingga ketika burung dilepaskan, sekelompok masyarakat berusaha menangkapnya kembali. Akibatnya banyak burung yang tidak jadi menikmati kebebasan alam tetapi kembali kekurungan yang dibuat manusia.

Dalam upaya pelestarian alam itu, Gubernur DKI Tjokropranolo, melalui Gelanggang Samudra Jaya Ancol menyumbang sejumlah burung. Jenis burung yang disumbangkan yaitu, 1 pasang bangau tongtong, 2 pasang pecuk padi, 2 pasang blekok, 5 pasang belibis dan 5 pasang kuntul putih di samping sumbangan sejumlah burung belibis dari Semarang. Khusus untuk pengamanan burung itu Gelanggang Samudra Ancol menyertakan pengawal, Wage Marsudi.

Selain itu, di bendungan itu ditebarkan duajenis ikan, yaitu tawes dan mujair. Jenis lain, seperti ikan emas dan gurami, berdasarkan penelitian, belum diperkenankan untuk ditebarkan. Waduk itu mampu ditebari 40 juta bibit ikan.

Peresmian itu dihadiri pula oleh sejumlah Menteri al. Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, Menteri PU Purnomosidi Hadjisarosa, Menteri Pertanian Sudarsono, Menteri Nakertrans Harun Zein, Menteri PPLH Emil Salim dan Menteri Muda Urusan Perumahan Cosmas Batubara.

Hadir pula di tengah rombongan, putra Presiden dan menantu Bambang Trihatmodjo dan istrinya Halimah Agustina Kamal yang masih dalam status pengantin baru yang menjalani bulan madu. (DTS)

Wonogiri, Suara Karya

Sumber: SUARA KARYA (18/11/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 438-443.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: