PRESIDEN PUTUSKAN KENAIKAN HARGA PUPUK

PRESIDEN PUTUSKAN KENAIKAN HARGA PUPUK[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto, Rabu, memutuskan kenaikan harga pupuk menjadi Rp. 330/kg dari harga semula urea tablet Rp. 295/kg serta pupuk curah (pril) Rp. 260/kg.

Ketika menjelaskan tentang hasil sidang kabinet terbatas bidang Ekku-Wasbang-­Indag di Bina Graha, Rabu, Menpen Harmoko mengatakan kenaikan harga pupuk yang ditetapkan Rabu ini mulai berlaku pada musim tanam gadu bulan April.

Presiden memerintahkan KaBulog Beddu Amang untuk membeli gabah kering panen untuk menjamin harga dasar gabah sehingga bisa dinikmati petani dan terjaminnya stok nasional.

Sementara itu KUD diminta menyediakan pupuk pril jika urea tablet belum tersedia. Pupuk pril dan urea tablet itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan para petani di daerah itu selama satu bulan dan tidak hanya dua minggu.

Harmoko menyebutkan, sidang kabinet juga membahas inflasi Februari yang mencapai 1,70 persen. Inflasi itu disebabkan kenaikan harga aneka barang dan jasa 0,11 persen, makanan dan minuman 4,03 persen serta perumahan 0,53 persen.

Khusus mengenai makanan dan minuman, kenaikan kelompok itu adalah 17,33 persen. Inflasi pada tahun anggaran 1995/1996 mencapai 9,47 persen dan tahun takwim 3,87 persen.

Ketika mengomentari inflasi itu, Presiden mengatakan bahwa angka pada Februari itu masih cukup tinggi sehingga para menteri dibidang ekonomi harus berusaha agar inflasi pada Maret, bulan tutup tahun anggaran 1995/1996 menjadi rendah dan tidak melewati angka 10 persen.

“Satu-satunya usaha yang harus dilakukan Bulog adalah terus melakukan Operasi Pasar dengan membanjiri pasar untuk menyediakan kebutuhan masyarakat sebanyak-banyaknya sehingga tidak ada alasan bagi kenaikan harga.” kata Harmoko.

Sementara itu sidang juga membahas neraca perdagangan menunjukkan bahwa ekspor Desember 1995 mencapai 4,524 miliar dolarAS dibanding impor 3,513 miliar dolarAS sehingga terdapat surplus 1,010 miliar dolar AS.

Ekspor selama tahun 1995 mencapai 45,418 miliar dolar dibanding impor 40,663 miliar dolarAS sehingga surplus 4,754 miliar dolar AS.

Menurut Menpen, surplus itu merupakan yang tertinggi selama tiga tahun terakhir.

Kepala Negara mengatakan untuk terus memperoleh surplus pada neraca perdagangan, impor perlu diperkecil dan kalau perlu dilakukan pembatasan impor.

Sidang yang berlangsung dua jam dan dihadiri pula oleh Wapres Try Soetrisno itu juga membahas persediaan gula serta pembangunan pabrik-pabrik gula di luar Jawa karena banyak pabrik gula di Jawa yang sudah tidak efisien lagi.

Menurut Kepala Negara, swasta harus didorong untuk mendirikan pabrik gula di luar Jawa, kalau perlu mereka diizinkan menggarap lahannya dengan setengah mekanisasi.

(T.Eu02/Eu08/ 6/03/96 14:23/RU3).

Sumber : ANTARA (06/03/1996)

_______________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Pertama, 2008, hal 284-285.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.