Apr 262018
 

PRESIDEN PERSINGKAT KUNJUNGAN DI RIO DAN UNDANG RATU BELANDA

 

 

Rio De Janeiro, Suara Karya

Presiden Soeharto mempersingkat kunjungannya di Rio de Janeiro, Brasil satu hari, setelah Kepala Negara mempertimbangkan semua masalah penting dalam KTT Bumi yang berlangsung di kota itu sudah dapat diselesaikan.

Presiden Soeharto, menumt laporan wartawan Suara Karya, Agustianto, bertolak dari Rio de Janeiro, Minggu pagi waktu setempat, tidak lagi hari Senin pukul 09.00 pagi waktu setempat seperti rencana semula. Dari Rio de Janeiro, Presiden dan rombongan akan terbang langsung ke Jakarta, dan akan tiba di tanah air Selasa dini hari.

Setelah menyampaikan pidato dalam KTT Bumi, Presiden di Rio de Janeiro Jum’at melakukan pembicaraan dengan beberapa kepala pemerintahan atau kepala negara dan tokoh dunia. Di antaranya adalah Perdana Menteri Belanda Ruud Lubbers yang sengaja menemui Presiden di sana. Presiden juga mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri India Narashima Rao, dan tokoh kerja sama Selatan-Selatan Yulius Nyerere.

Presiden Soeharto ketika berpapasan dengan Perdana Menteri RR Cina, Li Peng, bersalaman secara akrab. Li Peng menyampaikan selamat kepada Presiden atas hasil Pemilu 9 Juni di Indonesia yang dimenangkan Golkar. Dan hari Sabtu waktu setempat Presiden juga menerima PM Nepal, PM Swedia, dan PM Pakistan. Terakhir, Presiden melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Brasil, Femando Colior de Mello.

 

PM Belanda

Dalam pertemuan Presiden dengan PM Belanda Ruud Lubbers, Jum’at lalu, menurut Moerdiono, pembicaraan terutama menyoroti hubugan bilateral kedua negara. Presiden menerangkan, politik luar negeri Indonesia adalah hidup berdampingan secara damai dengan semua negara, mengembangkan rasa saling menghormati, saling beketja sama dan tidak mencampuri urusan dalam negeri masing­masing dalam rangka ini Presiden menekankan pentingnya hubungan Indonesia dengan Belanda.

Tindakan penghentian bantuan dari Belanda yang diambil Indonesia beberapa waktu lalu, demikian Presiden, dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan dalam jangka panjang. Ganjalan-ganjalan yang ada selama ini perlu disingkirkan, sehingga benar-benar dapat meningkatkan kerja sama dan hubungan yang lebih langgeng.

Presiden juga menekankan bahwa kedua negara sesungguhnya mempunyai peluang dan kesempatan yang besar untuk meningkatkan hubungan yang bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam hubungan sosial budaya. Khusus di bidang ekonomi , Presiden mengharapkan bisa ditingkatkan melalui kerja sama perdagangan. Sebab selama ini ekspor Indonesia melalui Belanda cukup besar yang menuju pasaran Eropa.

Lubbers menurut Moerdiono, menanggapi pendapat Presiden dengan penuh pengertian, dan menyatakan tekadnya untuk membuka lembaran baru dalam hubungan Indonesia-Belanda. Belanda akan lebih banyak memandang kepada masa lampau. Tentu saja pengalaman masa lampau akan dijadikan bahan pelajaran untuk meningkatkan hubungan dimasa mendatang.

Ia tetap optimis mengenai masa depan hubungan kedua negara mengingat perkembangan yang terjadi akhir-akhir inisetelah Indonesia menghentikan bantuan ekonomi dari Belanda.

Kepada Presiden, Lubbers menyampaikan salam dari Ratu Beatrix. Kepala negara kernbali membalas salam itu sambil menyampaikan undangan kepada Ratu Beatrix serta PM Lubbers untuk berkunjung ke Indonesia.

Lubbers sangat memaharni perasaan Indonesia sehubungan dengan sikap Belanda dalam kaitan pemberian bantuan, sehingga dalam pertemuan tersebut Lubbers terlihat sangat berhati-hati menyampaikan pikirannya.

Moerdiono mengatakan, dalam pertemuan itu sama sekali tidak dibicarakan kemungkinan akan ditinjaunya kembali pemberian bantuan Belanda kepada Indonesia.

Ketika menerima PM India Narashima Rao dan tokoh kerja sama Selatan­Selatan Yulius Nyecere, Presiden membicarakan persiapan-persiapan menjelang KTT Non Blok awal September mendatang di Jakarta. Pada umumnya Presiden Soeharto dan PM Rao sepakat bahwa KTT Non Blok mendatang akan mempunyai peranan penting berkenaan dengan perubahan besar yang terjadi di dunia dewasa ini.

 

Posisi Yugoslavia

Dalam pertemuan dengan PM Nepal, demikian Mensetneg Moerdiono, juga dibicarakan persiapan-persiapan KTT Non-Blok di Jakarta awal September nanti.

Nepal melihat KTT Non-Blok yang akan datang sangat penting, khususnya bagi dunia ketiga. Presiden menjelaskan, Gerakan Non-Blok (GNB) masih relevan, hanya perlu ditentukan arah dan tujuan-tujuan baru yakni untuk memerangi kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan. Karena itu sangat penting artinya GNB di waktu­ waktu yang akan datang.

PM Nepal dalam masalah bilateral mengharapkan bantuan Indonesia, khususnya dalam pembangunan ekonominya. Untuk itu Nepal ingin mendapat bantuan-bantuan dari Indonesia, khususnya ingin membeli pupuk.

Presiden juga bertemu dengan PM Swedia, dan dalam kesempatan itu dibicarakan perkembangan ekonomi dunia. PM Swedia menyatakan, menlunya akan hadir dalam KTT Non-Blok mendatang sebagai peninjau. PM Swedia melihat pentingnya keberhasilan pembangunan Dunia Ketiga, dan untuk itu keduanya sepakat tentang perlunya aliran modal, kebebasan perdagangan, dan alih teknologi dari negara maju kepada negara-negara Dunia ketiga.

PM Swedia mengatakan, sebagai anggota Masyarakat Ekonomi Eropa, Swedia akan menganjurkan Masyarakat Eropa agar melanjutkan kebijakan perdagangan bebas dan tidak proteksionistis.

Dengan Presiden Brasil, walaupun bersifat kunjungan kehormatan, tetapi juga diadakan pertukaran pikiran. Keduanya melihat bahwa tugas-tugas besar sedang menunggu setelah KTT Bumi ini, khususnya bagaimana melaksanakan kesepakatan­ kesepakatan yang telah dicapai. Presiden Soeharto juga mengundang Presiden Brasil untuk berkunjung ke Indonesia.

Pembicaraan dengan PM Pakistan juga mengenai pelaksanaan KTT Non-Blok di Jakarta, Presiden mengemukakan adanya sedikit masalah yang dihadapi, yakni mengenai posisi Yugoslavia yang tengah mengalami proses disintegrasi, sehingga Yugoslavia yang mana yang akan menghadiri KTT nanti. Inipenting karena akan ada penyerahan pimpinan KTT dari ketua GNB yang lama yakni Yugoslavia kepada pirnpinan yang barn, yakni Indonesia.

Kedua pemimpin ingin meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan antara kedua negara. Untuk itu Presiden menawarkan prinsip imbal beli agar negara perdagangan kedua negara lebih sehat. PM Pakistan mengatakan akan datang ke KTT Non-Blok di Jakarta.

 

 

Sumber : SUARA KARYA (15/06/1992)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 137-139.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: