Mei 172017
 

PRESIDEN: PERGURUAN TINGGI PUNYA TUGAS BERAT

Presiden Soeharto mengemukakan, universitas hendaknya benar2 menjadi pusat pemeliharaan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Karena itu, dalam menyongsong masa depan bangsa Indonesia, pendidikan tertinggi yang dilaksanakan hendaknya terus dikembangkan dan diarahkan.

Kepala Negara mengemukakan hal ini pada peringatan hari ulang tahun ke 25 Universitas Hasanuddin, hari Kamis, di Ujungpandang yang juga dihadiri oleh Ibu Tien Soeharto, sekaligus meresmikan kampus ‘Tamalanrea".

"Kita tidak mau dan tidak boleh tertinggal dalam arus perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Presiden. Untuk itu kita harus terus membina dan menata perguruan2 tinggi agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu.

Presiden menyatakan, jika dunia sekarang terbagi antara barisan2 bangsa yang maju dan yang masih di belakang, jika bangsa2 yang maju tampak akan lebih cepat maju lagi dibanding bangsa yang masih di belakang, sebabnya antara lain ialah karena perbedaan kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi ini

Ada beberapa negara, yang miskin sumber2 alam tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, ternyata negara2 ini dapat menerobos ke depan menjadi salah satu negara industri yang terkemuka di dunia.

Padahal, negara Indonesia kaya akan sumber alam, memiliki tanah air yang luas, jumlah penduduk yang lebih dari 147 juta orang serta merupakan bangsa yang berkebudayaan tinggi. Karena itu, kata Presiden, segala potensi tersebut perlu segera digali dan dimanfaatkan dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemajuan, kesejahteraan dan kekayaan bangsa.

Perguruan tinggi dalam negara Indonesia yang sedang membangun mempunyai tugas yang berat. Di samping harus selalu waspada agar tidak makin jauh tertinggal oleh arus deras majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengalir di negara2 industri maju, perguruan tinggi di Indonesia juga harus ikut berperan dalam pembangunan bangsa.

Karena itu perguruan tinggi di Indonesia kecuali harus berusaha mengadakan penelitian2 demi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri, juga harus berusaha untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada manfaatnya bagi pembangunan.

Studi Ilmu Lautan

Menurut Kepala Negara, Universitas Hasanuddin mempunyai kedudukan yang khas dalam pengembangan studi ilmu lautan, sebab letak geografis universitas ini berada di belahan Timur Nusantara yang luas wilayah lautannya. Karenanya, Presiden meminta agar usaha Universitas Hasanuddin untuk mengkhususkan diri dalam pengembangan studi ini terus dilanjutkan.

Studi ilmu lautan sangat penting bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Lautan Indonesia yang luas dan kaya itu sebagian terbesar belum diolah.

Seharusnya jika universitas ini tidak banyak hanya memikirkan, tetapi memegang peranan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang tersebut.

Presiden menghimbau agar pembinaan kampus Universitas Hasanuddin terus di mantapkan sehingga benar2 menjadi suatu masyarakat ilmiah, yang para lulusannya nanti menjadi manusia2 pembangunan.

Untuk membina menjadi masyarakat ilmiah, telah dikeluarkan Peraturan Pemerimtah No.5 tahun 1980yang mengatur pokok2 organisasi universitas/institut negeri dan Peraturan Pemerintah No.27 tahun 1981 mengenai penataan kembali fakultas di lingkungan universitas/institut negeri.

Presiden meminta agar peraturan2 tersebut dimantapkan pelaksanaannya di kampus Universitas Hasanuddin. Pemantapan ini terus memerlukan disiplin, karena tanpa disiplin kehidupan tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, kata Kepala Negara.

Masyarakat Terang Ilmiah

Presiden Soeharto mengajak seluruh keluarga Universitas Hasanuddin agar membangun kampus menjadi masyarakat ilmiah, yaitu lingkungan yang dapat menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat pemeliharaan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi sesuai dengan kebutuhan sekarang dan masa yang akan datang.

"Jadikanlah universitas ini tempat pembinaan mahasiswa, sehingga kelak mahasiswa-mahasiswanya dapat menjadi manusia berilmu yang berjiwa penuh pengabdian serta memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara Indonesia. Kembangkanlah terus potensi2 mahasiswa, sehingga dapat menjadi kekuatan penggerak yang bermanfaat bagi pembangunan nasional dan pembangunan daerah," kata Presiden, sambil menambahkan agar para mahasiswa mengembangkan tata kehidupan kampus yang memadai dan tampak jelas corak khas kepribadian Indonesia.

Untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa agar memiliki tempat pemondokan yang lebih baik supaya lebih dapat memusatkan perhatian pada studinya, pemerintah telah memikirkan pembangunan asrama2 mahasiswa yang pengelolaannya akan diserahkan kepada mahasiswa sendiri melalui koperasi mahasiswa.

Presiden Soeharto juga mengemukakan bahwa kampus yang baru dapat dibangun berkat meningkatnya kemampuan keuangan negara sebagai hasil dari kepesatan laju pembangunan yang dicapai sekarang.

Nama "Tamalanrea" yang berarti tidak pernah bosan, sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut untuk tidak pemah bosan danjemu belajar, demikian Presiden Soeharto.

Acara di Unhas

Dalam acara peresmian dan Dies Natalis Unhas tersebut dilakukan rapat Senat terbuka luar biasa yang dibuka oleh Rektor Unhas Prof.Dr. Achmad Amiruddin, sebelum dibacakan amanat Presiden Soeharto.

Peresmian kampus baru ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Presiden Soeharto serta pembukaan selubung nama "Kampus Universitas Hasanuddin Tamalanrea" oleh Ibu Tien Soeharto dengan menekan tombol.

Rektor Unhas kemudian menyerahkan hasil Simposium Nasional Pengembangan Wilayah kepada Presiden Soeharto dilanjutkan dengan penyerahan kenang2an kepada Presiden dan Ibu Tien Soeharto oleh Dr. Amiruddin.

Sebelum upacara usai, dilakukan penutupan Rapat Senat Terbuka Luar Biasa oleh Rektor. Setelah makan siang di Gubernuran, Presiden dan rombongan meninggalkan Ujungpandang kembali ke Jakarta.

Dalam rombongan Presiden turut serta Menteri Sekretaris Negara Sudharmono, Menteri Negara Riset dan Teknologi Habibie, Menteri P dan K Daoed Joesoef, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menmud Urusan Pemuda. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (17/09/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 529-532.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: