PRESIDEN : PEMBANGUNAN BUKAN PROSES PEMISKINAN RAKYAT

PRESIDEN :

PEMBANGUNAN BUKAN PROSES PEMISKINAN RAKYAT

 

 

Presiden Soeharto menegaskan, adalah tidak benar bahwa pembangunan yang dilakukan selama tiga dasawarsa ini khususnya pembangunan di bidang pertanian merupakan proses pemiskinan rakyat di pedesaan.

Kepala Negara menegaskan hal itu ketika mengadakan temu wicara dengan kelompok pelestari sumber daya alam sesaat setelah upacara peresmian pekan penghijauan nasional ke 25 di desa Made, kecamatan Slogomimo, kabupaten Wonogiri, Selasa.

Ia mengatakan, sekarang ini tanpa gembar-gembor Indonesia telah diakui oleh dunia berhasil dalam bidang pertanian. Keberhasilan Indonesia dalam bidang pertanian ini berkat kerja keras rakyat Indonesia mulai dari petani hingga pejabat tinggi.

Ia mengemukakan pada tahun sensus 1980 tercatat lebih kurang sebelas juta kepala keluarga petani yang memiliki lahan kurang dari setengah hektar, tetapi pada tahun sensus 1983 temyata jumlah itu menurun menjadi lebih kurang 8.500 kepala keluarga petani yang mempunyai laban kurang dari setengah-hektar.

Ia mengatakan bahwa petani-petani yang mempunyai lahan lebih dari setengah hektar meningkat. Sebagai contoh pada sensus tahun 1980 hanya terdapat 6,5 juta kepala keluarga petani yang memiliki lahan lebih dari setengah hektar. Namun pada tahun 1983 jumlah itu meningkat menjadi sepuluh juta kepala keluarga petani yang memiliki lahan lebih dari setengah hektar.

Kepala Negara juga memberikan beberapa contoh lainnya mengenai keberhasilan peningkatan pendapatan rakyat di pedesaan antara lain pangan dan sandang yang cukup dibanding tahun-tahun sebelum Repelita dilaksanakan.

Selain itu rakyat di pedesaan juga tidak hanya menyekolahkan anak mereka sampai tingkat Sekolah Dasar (SD), tetapi juga sampai ke tingkat lanjutan, katanya.

Anak Cucu

Dalam temu wicara itu, Presiden mengatakan kembali, perlunya dijaga kelestarian sumber daya alam karena hal ini penting bagi kehidupan bangsa.

Tanah memerlukan air agar tetap subur dan air perlu disimpan dalam hutan, sedangkan hutan perlu dijaga kelestariannya, kata Presiden. Tanah yang subur penting bagi pertanian, tambahnya.

Di depan kelompok pelestari sumber daya alam yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia itu, Presiden menyatakan agar kesalahan dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan di masa lalu perlu diperbaiki.

“Kita tidak perlu mencari siapa yang salah, tetapi kesalahan-kesalahan itu perlu diperbaiki agar kita tidak meninggalkan apa yang kita rasakan kurang baik sekarang ini pada anak cucu kita nanti,” kata Presiden.

Ia mengingatkan bahwa rakyat kalau diberitahukan tentu akan mengerti perlunya pelestarian hutan itu. Ia menyambut gembira adanya lembaga-­lembaga masyarakat seperti kelompok pelestarian sumber daya alam yang ikut berpartisipasi menjaga kelestarian hutan.

Permintaan

Dalam temu wicara itu yang berlangsung lebih kurang 45 menit beberapa peserta dari daerah. mengajukan permintaan proyek Reboisasi dan penghijauan kepada Presiden karena daerah Tim-tim banyak mempunyai laban kritis.

Dalam menghadapi hal ini, Presiden menekankan bahwa proyek ini sama sekali bukan tergantung hanya pada pemerintah, tetapi juga keikutsertaan rakyat setempat. “Jangan tunggu pemerintah”, katanya.

Presiden memberikan saran agar rakyat minta bibit lamtoro gung untuk tanaman di Tim-tim dan nanti akan tumbuh beribu-ribu pohon lamtoro di sana, katanya Peserta dari Sulawesi Selatan mohon perhatian pemerintah mengenai adanya ternak-ternak liar dan kebakaran hutan di daerahnya.

Presiden rnengatakan ternak-ternak yang liar itu memerlukan kandang. Dengan pembudidayaan temak, maka petani akan meningkat pendapatannya.

Mengenai kebakaran hutan ia mengatakan kalau kebakaran ini terjadi karena keadaan alam maka perlu diatasi. Tetapi kalau kebakaran ini disengaja oleh manusia, maka “perlu di jewer”, ucapnya.

Peserta dari Kalimantan Barat yang minta traktor, presiden mengatakan biaya pemanfaatan traktor tidak ringan.

Demikian pula peserta dari Kalimantan Selatan yang mohon bantuan traktor untuk program penghijauan karena di daerah Kalsel banyak alang­alang, presiden menjawab bahwa untuk membasmi alang-alang caranya mudah.

“Tanam pohon lindung dulu, maka nanti alang-alang itu akan mati. Sebab alang-alang tidak bisa hidup kalau tidak kena matahari,” kata kepala negara.

Setelah alang-alang itu mati, barulah tanahnya dicangkul. Jadi tidak perlu traktor dulu, kata presiden dalam temu wicara itu yang banyak diselingi gelak tawa.

Beberapa peserta lainnya dari Sultra, Sulut, Yogyakarta juga mohon perhatian pemerintah dalam meningkatkan program penghijauan di daerahnya masing-masing.

Peserta dari Yogyakarta yang diwakili seorang wanita dengan malu-malu mengatakan kepada presiden bahwa daerah Yogyakarta dan Gunung Kidul dalam program penghijauan, memang berhasil. Makanan ternak banyak, bahkan melimpah.

Namun sayangnya, kata peserta dari Yogya itu, Sapi Perah unggul belum ada, “he he he”. Selain itu, pak, katanya, tersipu-sipu kepada Presiden, karena penghijauan berhasil maka daerah kami yang dulunya terang sekarang menjadi gelap sehingga perlu listrik, ha..ha…ha… yang disambut gelak tawa oleh hadirin.

Menanggapi permintaan ini Presiden Soeharto mengatakan sekarang ini oleh Badan Pengkajian penerangan Teknologi sedang dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan kayu untuk gasifikasi (listrik).

Peresmian pembukaan pekan penghijauan nasional ke-25 selain dihadiri Ibu Tien Soeharto juga disaksikan sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan IV. Presiden dan Ibu Tien Soeharto berada di Solo hingga Rabu. (RA)

 

 

Solo, Antara

Sumber : ANTARA (19/12/1985)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 362-364.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.