Mei 172017
 

PRESIDEN : PELAJAR HARUS DIAMANKAN DARI HASUTAN

Daud Jusuf Temukan Selebaran Gelap Mengadu-domba

Presiden Soeharto minta agar para pelajar harus diamankan dari hasutan-hasutan yang dapat menjerusmuskan mereka, Menteri P dan K Daud Jusuf mengatakan hari ini di Istana Negara Jakarta.

"Misalnya anak-anak itu dihasut untuk narkotika, dihasut membuat keributan, yang kesemuanya untuk kepentingan penjual narkotika dan yang tidak senang kepada pembangunan," kata Daud Jusuf.

Menteri mengatakan, hasutan itu datangnya dari Iuar, yang dinilainya sebagai perbuatan yang sangat keji dan kejam.

Hasutan-hasutan itu berupa surat selebaran gelap yang isinya mengadu domba, antara lain dikatakan sekolah yang satu akan diserbu oleh sekolah yang Iain, begitu pula sebaliknya.

"Seperti SMA IX ke SMA XI dan sebaliknya, fotokopinya ada pada saya," kata Menteri.

"Fotokopi itu cukup bagus, tidak mungkin anak-anak itu yang membiayainya," tambahnya lagi.

Kata Menteri lagi, "Khusus kepada SMA IX, dikatakan dalam selebaran itu bahwa SMA XI akan menyerbu ke sana, oleh karena salah seorang siswi SMA XI telah diusik oleh pelajar SMA IX. Padahal siswi tersebut tidak diapa-apakan. Memang siswi itu adalah murid dari SMA XI".

Mengacau

Menteri Daud Jusuf mengatakan unsur penghasutan itu adalah untuk mengacau keadaan yang sudah tenang dan dikhawatirkan pula dihubung-hubungkan dengan non pendidikan.

"Ini satu perbuatan yang keji, yaitu mempergunakan anak-anak untuk kepentingan yang bukan kepentingan anak-anak itu," kata Daud Jusuf.

"Anak-anak itu kan sekolah dan anak itu bukan anak dia", tambah Menteri.

Kata Menteri lagi, perbuatan itu selain tidak edukatif, tidak kemanusiaan, dengan memanfaatkan anak-anak yang pikirannya masih bersih dan pendek.

Belum

Menteri mengatakan, perkelahian-perkelahian yang terjadi selama ini belum mengganggu mata pelajaran mereka dan dia akan mengimbau lagi para orang tua murid.

"Hubungan antara orang tua dan sekolah, khusus untuk Jakarta, dicoba untuk ditata kembali, sebagai suatu model," kata Daud. Konsep-konsep lama yang sudah masak, akan segera diterapkan, katanya.

Dia juga mengatakan sudah punya konsep-konsep khusus guna menghentikan perkelahian antar pelajar.

Katanya, titik tolaknya itu berasal dari lingkungan karena manusia sedikit banyaknya dipengaruhi oleh lingkungan.

”Kalau lingkungan mempengaruhi manusia, manusia harus membuat lingkungan yang baik dan bisa membuat dia menjadi baik," kata Daud.

Menteri mengatakan, lingkungan untuk anak-anak didik darijenjang SLTA ke bawah adalah Pusat Kebudayaan.

Pusat Kebudayaan disini bukan dalam arti yang sempit, pusat kesenian, kata Menteri, tetapi sebagai pusat dari nilai-nilai dan ide yang ditanamkan kepada anak­anak didik, bagi keperluan hidup mereka di masa depan.

Di antara nilai-nilai itu, dijumpai nilai pengetahuan, nilai moral Pancasila, nilai-nilai nasional seperti kebangsaan, kata Daud Jusuf.

Akibat itu semua nanti, akan ada sekolah teladan, ujar Menteri lagi.

Beberapa Catatan

Meskipun kasus perkelahian pelajar misalnya antara Siswa SMA IX dengan SMAXI pernah diajukan ke pengadilan, namun rupanya vonis atas perkelahian pelajar yang meledak sejak 3 November itu tidak membuat jera para pelajar sekolah Jakarta.

Berdasarkan catatan Merdeka, 22 Februari 1981 perkelahian antar siswa meledak lagi. Perkelahian massal secara sporadis terjadi antara siswa SMA Negeri

XII dengan SMA Negeri I di Jl. Pertanian dan Jl. Cipinang Jakarta Timur. Dalam perkelahian itu siswa SMA I dibantu oleh siswa SMA 42.

Tiga hari setelah peristiwa itu, dua kelompok pelajar dari siswa SMA bentrok gara-gara mobil yang ditumpanginya kesenggol dengan mobil kelompok lain.

Ternyata perkelahian antar pelajar itu sudah menjadi ”penyakit yang menular”. Di Jakarta, Sabtu sekitar pukul 09.00 tanggal 6 Maret 1981, siswa SMP VIII bentrok dengan siswa SMP IX di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat. Peristiwa perkelahian itu mengakibatkan kaca Jendela rusak dan bangku-bangku sekolah juga rusak.

Seminggu sesudah perkelahian antar SMP yang berada di satu lokasi itu merembet lagi diterminal bis kota Pulo Gadung, Jakarta Timur. Siswa STM Ill bentrok dengan SMA 45, salah satu baku hantam itu terjadi sebagai rentetan atas pemukulan seorang siswa STM III yang dilakukan oleh siswa SMA 45 tersebut.

Seminggu setelah itu, sekelompok siswa SMA di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menyerang siswa SMP XII hingga tiga orang menderita Iuka-Iuka.

Perkelahian pelajar pun berlanjut pada akhir April lalu. Siswa SMA IV bentrok dengan siswa SMA VI Bulungan, Jakarta Selatan, perkelahian itu terjadi karena selisih paham ketika bermain basket.

Setelah reda selama empat bulan bentrok antar siswa SMA meledak lagi pada tanggal 27 Agustus. Siswa SMA VII bentrok dengan SMA Kanisius di JI. Menteng Raya, Jakarta Pusat.

Dalam peristiwa tersebut, empat orang pelajar menderita Iuka-Iuka, polisi pun mengirim mereka ke RSCM.

Di saat perselisihan antara SMA Kanisius berdamai dengan SMA VII, sekelompok SMP di daerah Cikini, Jakarta Pusat, bentrok dengan SMP di dekat bioskop Megaria, Jakarta Pusat. Seorang pelajar terluka dan dibawa ke RSCM karena terkena bacokan.

Baru beberapa pihak Kepolisian berhasil meredakan perkelahian itu, di Terminal Bis Kota Lapangan Banteng bentrok pelajar SMP meledak lagi. Perkelahian yang berpangkal dari permainan bola. Ini terjadi antara SMP di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Baku hantam antara siswa SMA XI dengan siswa SMA IX Bulungan Jakarta Selatan, 24 September 1981 meledak lagi. Dua sekolah yang berdampingan letaknya itu saling baku hantam di Plaza Taman Martha Kristina dekat terminal bus Blok M, Jakarta Selatan.

Seminggu setelah bentrok itu, terjadi lagi bentrokan antara siswa SMA VI dengan SMA 46 di terminal bus Blok M, Jakarta Selatan.

Perkelahian pelajar ternyata tidak terjadi hanya di Jakarta, di Ujung Pandang juga pernah terjadi, di Tasikmalaya dan Kudus bentrok antar siswa juga pernah membuat sibuk aparat keamanan. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (03/10/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 532-534.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: