Nov 152017
 

PRESIDEN PEKAN PENGHIJAUAN KE-27 SULSEL

Gowa, Sulawesi Selatan, Antara

Presiden Soeharto secara khusus mengimbau para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH), pengusaha perkayuan dan pengusaha hasil hutan lain agar memberi perhatian besar pada upaya mengatasi masalah perladangan berpindah di sekitar wilayah usaha masing-masing.

Caranya, kata Presiden di desa Lanna (kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan) hari Rabu, antara lain dengan memberikan bantuan tempat pemukiman, membangun lahan usaha tani, memberikan bibit atau memberikan kesempatan kerja dan usaha kepada rakyat yang berladang secara berpindah-pindah.

Pada upacara Pekan Penghijauan Nasional ke-27 di desa terpencil itu Presiden mengungkapkan bahwa dewasa ini masih terdapat sekitar satu juta petani Indonesia yang berladang secara berpindah-pindah.

Usaha tani yang berlangsung dengan cara menebang, menebas dan membakar hutan itu sering menyebabkan timbul kebakaran luas dan sulit dipadarnkan, sehingga memusnahkan jutaan meter kubik kayu, merusak hutan dan menggundulkan tanah.

Tanah gundul dan hutan rusak, menurut Presiden, bukan saja tidak produktif tapi juga menjadi sumber bencana alam seperti erosi, banjir serta mendangkalkan waduk, bendungan dan saluran-saluran irigasi.

“Karena itu marilah kita berusaha untuk meninggalkan usaha tani perladangan berpindah yang sangat merugikan itu,” seru Kepala Negara.

Ia berpendapat, untuk mengurangi jumlah petani ladang berpindah perlu upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pendapatan mereka.

Mengingat banyaknya jumlah peladang berpindah serta pentingnya segera mengatasi masalah itu, maka diperlukan kerjasama erat berbagai kalangan, baik instansi pemerintah, masyarakat maupun pengusaha.

Presiden juga menunjuk ancaman lain terhadap sumber daya alam yang harus segera ditanggulangi yakni penebangan liar, perambahan hutan, penggunaan kawasan lindung untuk pemukiman dan budidaya serta pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan pemeliharaan kesuburan tanah.

“Jika kita tidak segera menghentikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam yang boros dan kurang bijaksana, maka malapetaka dan kecemasan yang datang silih berganti akan kita alami tidak putus-putus,” demikian Presiden memperingatkan.

Sebagai contoh Presiden menunjuk pada peristiwa kebakaran hutan dan perkebunan di beberapa tempat pada musim kemarau lalu. Di awal musim penghujan sekarang ini pun ada kekuatiran akan terjadi banjir dan tanah longsor.

Pada upacara tersebut Presiden juga sekaligus meresmikan pabrik gula Takalar, pabrik gula Camming dan pabrik pengolahan kapas Bulukumba, serta bendung dan jaringan irigasi Luwu.

Hadir pada upacara tersebut antara lain Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono, Menteri KLH Emil Salim, Mendagri Soepardjo Rustam, Menteri Pertanian Achmad Affandi, Menteri Kehutanan Sudjarwo, Menteri Perindustrian Hartarto, Menteri Pekerjaan Umum Suyono Sasrodarsono dan Menmuda/Sekretaris Kabinet Moerdiono.

Gowa, Sulawesi Selatan, Antara

Sumber : ANTARA (21/12/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 871-873.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: