Agu 022017
 

PRESIDEN : MINYAK BUMI TETAP JADI KOMODITI PENTING

 

 

Presiden Soeharto hari Selasa mengemukakan, minyak bumi akan tetap dianggap komoditi penting di dunia, oleh karena itu meskipun sekarang harganya sedang merosot namun pada waktunya nanti akan membaik lagi.

Keyakinannya itu dikemukakan di Bina Graha Jakarta dalam dialog jarak jauh dengan para karyawan perusahaan minyak Marathon Petroleum Indonesia Limited yang sedang bertugas di Anjungan produksi lapangan minyak “Kakap” yang terletak di perairan Natuna (Riau), kira-kira 1.500 km sebelah Utara Jakarta.

Dialog langsung melalui layar televisi yang dihubungkan dengan satelit komunikasi Palapa itu dilakukan setelah Presiden meresmikan lapangan produksi minyak “Kakap” yang dikelola Marathon Petroleum Ltd., perusahaan minyak Amerika Serikat yang mengikat kontrak bagi hasil dengan PERTAMINA.

Pada tahap pertama lapangan minyak baru itu menghasilkan rata-rata 12.000 barrel perhari dan selanjutnya diharapkan mencapai tingkat produksi 22.000 barrel/hari.

Dalam sambutannya, Presiden mengatakan, keberhasilan kerja sama Pertamina dengan Marathon dalam mengembangkan potensi minyak di perairan Natuna itu, “membuka mata dunia dan mata bangsa Indonesia bahwa kegiatan perminyakan di negeri ini masih tetap berjalan baik, justru pada saat kegiatan eksplorasi minyak di seluruh dunia mengendor akibat harga minyak serba tidak menentu”.

Bagi bangsa Indonesia, kata Presiden, setiap penemuan baru sumber minyak bumi memberi harapan cerah, sekalipun secara bertahap Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan yang berlebihan terhadap minyak dan gas bumi, baik sebagai sumber dana penerimaan negara, sumber devisa maupun sumber energi.

Bentuk pengembangan yang dipilih bagi memproduksi minyak “Kakap” itu adalah FPSO (Floating Production, Storage and Offloading) dengan memodiflkasi tanker raksasa menjadi fasilitas produksi minyak lepas pantai. Sistem itu pertama kali digunakan di Indonesia dan ke-6 di dunia.

Menurut Presiden, penggunaan teknologi unik itu memberi kesempatan kepada tenaga-tenaga Indonesia untuk mengenal teknologi baru di bidang penambangan minyak lepas pantai.

“Hal ini penting artinya bagi kita, karena mulai sekarang kita memperkuat tekad bahwa pada saatnya nanti kita harus mampu menemukan, menambang dan mengolah sendiri sumber-sumber minyak”, ujar Presiden.

Ia mengemukakan, dewasa ini Indonesia sedang berusaha kuat menangani sektor-sektor non migas, namun tidak berarti mengabaikan sektor migas.

Karena itu katanya, pemerintah terus berusaha memperbaiki iklim usaha yang menarik bagi para penanam modal, tidak terkecuali dalam kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, sebagai mitra usaha Pertamina.

Dalam pidato peresmiannya itu, Presiden mengatakan, Indonesia memiliki berbagai unsur menguntungkan bagi kegiatan dibidang migas, antara lain stabilitas nasional dan penyediaan tenaga kerja.

Di samping itu perairan laut Indonesia tidak terlalu dalam dan airnya relative tenang, serta iklim tropis memudahkan pelaksanaan eksploitasi dan produksi sepanjang tahun.

Menteri Pertambangan dan Energi ad interim Dr. J.B. Sumarlin dalam sambutannya menilai, peresmian lapangan minyak “Kakap” mempunyai arti penting tidak hanya bagi Marathon tapi juga bagi kontraktor Pertamina lainnya.

Lebih dari dua pertiga wilayah Indonesia merupakan daerah lepas pantai sejumlah cekungan yang mengandung endapan minyak dan gas bumi.

Lapangan “Kakap” merupakan lapangan lepas pantai ke-28 yang sudah berproduksi di antara 235 lapangan minyak di Indonesia. Serta merupakan lapangan kedua di perairan Natuna, setelah lapangan minyak “Udang” yang diresmikan April 1979 juga oleh Presiden dari Jakarta dengan menggunakan saluran satelit.

Lapangan-lapangan minyak lepas pantai di Indonesia memberikan sumbangan hampir 37 persen dari seluruh produksi minyak nasional dalam tahun ini, kata Sumarlin.

Dalam mengembangkan potensi minyak di perairan Natuna itu, Marathon telah mengeluarkan dana lebih dari 175 juta dollar AS.

Minyak mentah dari lapangan “Kakap” tergolong jenis parafinis yang sangat ringan, gravitinya sekitar 46 derajat.

Peresmian “Kakap” ditandai penekanan tombol sirine dan penanda tanganan prasasti oleh Presiden, disaksikan sekitar 300 undangan yang terdiri pimpinan perusahaan minyak kontraktor Pertamina dan para pejabat teras perusahaan minyak milik negara itu. Sejumlah menteri kabinet juga hadir pada upacara singkat dan sederhana itu.

Sebelum melakukan dialog, Presiden dan hadirin di Bina Graha melalui layar televisi “diajak” meninjau berbagai fasilitas yang ada di anjungan produksi lapangan “Kakap” mulai dari fasilitas di sumur produksi, ruang pengontrol di tanker yang dijadikan FPSO sampai fasilitas pengiriman penyaluran minyak ke tanker pengangkat.

Dalam dialog dengan dua karyawan Marathon, Presiden menanyakan soal penghasilan, pelayanan kesehatan dan makanan yang mereka peroleh serta keadaan keluarga mereka.

Presiden berpesan kepada mereka agar terus bekerja keras sambil meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk menguasai teknologi di bidang perminyakan. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : Antara (06/08/1986)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 504-506.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: