Agu 072017
 

PRESIDEN MINTA SUASANA PEDESAAN TAK DIHILANGKAN

 

 

Pada Upacara Penas VI Mendatang

 

Presiden Soeharto minta agar suasana pedesaan tidak dihilangkan pada saat kunjungan kerjanya di desa Marihat, Bandar, Sumatera Utara, tanggal 22 Juni 1986 mendatang, yakni pada upacara Pekan Nasional Kontak Tani dan Nelayan (Penas)VI.

Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Sumatera Utara Kaharuddin Nasution di Bina Graha hari ini setelah bersama Pangdam I/Bukit Barisan Ali Geno melaporkan persiapan terakhir Penas kepada Kepala Negara.

“Presiden juga minta untuk tidak usah menggunakan permadani merah pada upacara itu agar suasana desa benar-benar terasa,” kata Gubernur.

Pada upacara itu akan hadir seluruh Gubernur di Indonesia, para Menteri Kabinet Pembangunan, para duta besar negara sahabat serta Dirjen FAO.

Presiden Soeharto berpendapat supaya dalam acara tersebut penyampaian sumbangan kepada korban kelaparan di Afrika tidak dilakukan oleh Kepala Negara, tetapi oleh para petani.

Menurut Gubernur dua petani masing-masing seorang petani pria dari NTB dan seorang petani wanita dari Sumatera Utara telah dipersiapkan untuk menyerah kan cek senilai Rp 8,5 milyar dalam bentuk dolar kepada Dirjen FAO.

“Jumlah tersebut merupakan 50 persen dari sumbangan petani Indonesia sebanyak 100.150 ton yang diberikan kepada korban kelaparan di Afrika,” kata Gubernur.

Sertifikat Prona

Desa Marihat terletak sejauh 160 kilometer dari bagian Selatan kota Medan. Gubernur Sumatera Utara dalam memberikan keterangan pers diapit oleh Asisten-IV Sekwilda Sumut Amiruddin Lubis dan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen Ali Geno, Presiden Soeharto pada kesempatan itu diharapkan menyerahkan 20.000 sertifikat Prona kepada mereka yang berhak memilikinya.

“Presiden Soeharto senang sekali, ketika dilaporkan bahwa para petani yang datang ke desa Marihat menginap di rumah-rumah rakyat,” kata Gubernur sambil menjelaskan, Presiden tidak keberatan apabila pada upacara pelepasan dilakukan dengan upacara adat Batak Simalungun.

Kepada Presiden dilaporkan pula oleh Gubernur Sumut persiapan-­persiapan operasi Maduma di daerahnya, yang akan dilakukan bulan Oktober 1986 mendatang.

Presiden mengharapkan hendaknya masyarakat Sumatera Utara tidak salah tafsir terhadap operasi Maduma itu.

“Operasi Maduma hanya sekedar bantuan dari Presiden, bukan merupakan suatu anugerah,” ujar Kaharuddin.

Gubernur mengakui dalam pelaksanaan kredit Bimas, Sumatera Utara masih belum melunasi hutangnya sebesar Rp. 10 milyar,- Kepada Kepala Negara dilaporkan juga tentang kelestarian dan stabilitas Danau Toba. (RA).

 

 

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (17/07/1986)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VIII (1985-1986), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 724-725.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: