Mar 202018
 

PRESIDEN MINTA PEMUDA GUNAKAN HAK MEREKA PADA PEMILU

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto mengajak seluruh generasi muda menggunakan hak mereka pada Pemilu 1992, karena sekalipun hal itu bukan merupakan suatu kewajiban namun mereka perlu mengikuti siklus mekanisme kepemimpinan nasional.

Ajakan Kepala Negara itu dijelaskan Menpora Akbar Tandjung kepada pers setelah melapor kepada Presiden di Bina Graha, Kamis tentang peningkatan kesadaran berpolitik di kalangan generasi muda.

“Presiden meminta masyarakat khususnya generasi muda untuk menggunakan hak pilihnya walaupun hal itu bukanlah merupakan suatu kewajiban,” kata Akbar ketika menjelaskan harapan Kepala Negara itu.

Presiden men gatakan generasi muda juga harus ikut melaksanakan keputusan­keputusan yang diambil MPR dalam sidangnya tahun 1993. Ketika ditanya wartawan apakah harapan Kepala Negara itu berkaitan dengan upaya menghilangkan golongan putih (golput), Akbar mengatakan dalam pertemuan ini Presiden tidak menyebutkan secara langsung masalah golput ini.

Presiden mengatakan karena generasi muda juga harus melaksanakan semua keputusan lembaga legislatif itu maka secara otomatis mereka harus menggunakan hak mereka pada pemilu.

Bebera pa waktu lalu, Kepala Negara memanggil Menpen Harmoko dan memintanya meningkatkan kegiatan pendidikan politik di kalangan generasi muda sehingga mereka semua menggunakan hak pilihnya pada pemilu. Diharapkan, pada pemilu mendatang sudah tidak ada lagi golput.

Ketika ditanya wartawan tentang upaya peningkatan kesadaran berpolitik di kalangan pemuda terutama menyongsong pemilu, Akbar mengatakan Kantor Menpora akan melanjutkan berbagai kegiatan penataran seperti P 4 dan penataran kewaspadaan nasional.

Kepada Kepala Negara juga dilaporkan penyusunan buku pedoman (directory) bidang kepemudaan yang mencantumkan nama-nama organisasi kepemudaan, mulai dari sejarahnya, jumlah anggota serta kegiatanya.

 

SMP dan SMA Ragunan

Menpora AkbarTandjung juga melaporkan kepada Presiden Soeharto tentang berbagai kendala yang dihadapi SMP dan SMA Ragunan, sekolah yang didirikan pemerintah khusus bagi para pelajar olahragawan.

Akbar mengatakan pengembangan kedua sekolah ini menghadapi berbagai hambatan antara lain belum bersatunya pola pikir berbagai instansi yang menangani SMP dan SMA Ragunan ini. Sekolah ini ditangani bersama Depdikbud, Pemda DKI, KONI serta berbagai top organisasi olahraga.

Ia mengatakan hambatan lain yang dihadapi kedua sekolah iniadalah kurangnya dana pemeliharaan serta peralatannya. Ia tidak membantah bahwa minimnya dana pemeliharaan serta fasilitas di sekolah itu mengakibatkan tidak menonjolnya prestasi para pelajar sekolah itu di bidang olahraga.

Ketika mengomentari laporan itu, Presiden meminta agar koordinasi diantara berbagai instansi terus dilakukan sehingga hambatan sekolah ini dapat diatasi.

 

 

Sumber : ANTARA (14/02/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 19-20.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

%d blogger menyukai ini: